TEORI MANAJEMEN PERILAKU (BEHAVIOR MANAGEMENT APPROACH)
Aliran ini muncul akibat
ketidakmampuan aliran klasik menjelaskan bgaimana efisiensi produksi dan
keserasian kerja dapat dicapai suatu organisasi, perhatian utamanya adalah faktor sosial dan psikologi tenaga kerja.
Hugo M.,Ethan Mayo.
Selama tahun 1920-an, penekanan pada sisi manusia
dalam dunia kerja mulai mempengaruhi pemikiran manajemen.Pendekatan inti
meliputi Hawthorne Study, teori kebutuhan Abraham Maslow, dan Teori X and Y dari
Douglas Mc Gregor.
Hawthorne study
Pada tahun 1924, dilakukan studi di Western
Electric Company untuk mempelajari produktivitas di pabrik Chicago. Mula-mula studi ini
mempelajari dari dasar manajemen klasik, yaitu melihat hubungan
antara insentif dan kondisi kerja dengan peningkatan hasil kerja atau
produktivitas. Setelah riset dilakukan dan gagal menemukan hubungan antara
kedua faktor
tersebut, peneliti mengambil simpulan bahwa terdapat faktor psikologis yang
mempengaruhi produktivitas kerja, bahwa perhatian dari manajemen dapat meningkatkan produktivitas
kerja karyawan (Hawthorne effect). Studi ini juga menghasilkan simpulan bahwa
kelompok ini formal dalam organisasi dapt memberikan pengaruh yang cukup besar
terhadap produktivitas kerja seseorang. Dalam situasi tertentu, seseorang
anggota yang melebihi prestasi rata-rata kelompoknya akan dimusuhi, dan memaksa anggota tersebut
menurunkan prestasi menjadi perstasi rata-rata kelompoknya.
Kelebihannya :
Dalam teori ini terdapat pendekatan inti meliputi Hawthorne study dalam
organisasi ini dapat memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap
produktivitas kerja seseorang.
Kelemahannya :
Pada teori ini kelemahannya gagal dalam menjalankan Hawthorne study.
TEORI MANAJEMEN KUANTITATIF (QUANTITATIVE MANAGEMENT APPROACH)
Membentuk matematika yang
mempunyai simulasi dari masalah terjadi.
- Management
Science
Pendekatan yang bertujuan
untuk meningkatkan efektivitas keputusan dengan menggunakan model matematis dan
metode statistic.
- Operations
Management
Pengaturan produksi dan
penyampain produk dan jasa organisasi. Beberapa contoh model manajemen operasi adalah: pengendalian
persediaan (EOQ), analisa break Even, dan linear programming.
- Management
Information system
Membuat dan menerapkan system
informasi berbasis komputer untuk digunakan oleh manajemen.
Kelebihannya :
Pendekatan ini mempunyai tujuan untuk meningkatkan efektivitas dengan
menggunakan model matematis dan metode statistik. Dan menerapkan system
informasi berbasis komputer untuk digunakan oleh manajemen.
Prinsip-prinsip manajemen menurut Henry Fayol
Prinsip-prinsip
manajemen adalah dasar-dasar dan nilai yang
menjadi inti dari keberhasilan sebuah manajemen.
Menurut Henry Fayol. seorang
industrialis asal Perancis, prinsip-prinsip dalam manajemen sebaiknya bersifat
lentur dalam arti bahwa perlu di pertimbangkan sesuai dengan kondisi-kondisi
khusus dan situasi-situasi yang berubah. Prinsip - prinsip umum manajemen
menurut Henry Fayol terdiri dari.
- Pembagian
kerja (Division of work)
Pembagian
kerja harus disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian sehingga pelaksanaan
kerja berjalan efektif. Oleh karena itu, dalam penempatan karyawan harus menggunakan prinsip the
right man in the right place. Pembagian kerja harus rasional/objektif, bukan emosional subyektif
yang didasarkan atas dasar like and dislike.
Dengan
adanya prinsip orang yang tepat ditempat yang tepat (the right man in the right
place) akan memberikan jaminan terhadap kestabilan, kelancaran dan
efesiensi kerja. Pembagian kerja yang baik merupakan kunci
bagi penyelengaraan kerja. kecerobohan dalam pembagian kerja akan berpengaruh
kurang baik dan mungkin menimbulkan kegagalan dalam penyelenggaraan pekerjaan,
oleh karena itu, seorang manajer yang berpengalaman akan menempatkan pembagian
kerja sebagai prinsip utama yang akan menjadi titik tolak bagi prinsip-prinsip
lainnya.
- Wewenang
dan tanggung jawab (Authority and responsibility)
Setiap karyawan dilengkapi dengan wewenang untuk
melakukan pekerjaan dan setiap wewenang melekat atau diikuti
pertanggungjawaban. Wewenang dan tanggung jawab harus seimbang. Setiap
pekerjaan harus dapat memberikan pertanggungjawaban yang sesuai dengan
wewenang. Oleh karena itu, makin kecil wewenang makin kecil pula
pertanggungjawaban demikian pula sebaliknya.
Tanggung
jawab terbesar terletak pada manajer puncak. Kegagalan suatu usaha bukan
terletak pada karyawan, tetapi terletak pada puncak pimpinannya karena yang
mempunyai wewemang terbesar adalah manajer puncak. oleh karena itu, apabila
manajer puncak tidak mempunyai keahlian dan kepemimpinan, maka wewenang yang
ada padanya merupakan bumerang.
- Disiplin
(Discipline)
Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh
terhadap pekerjaan yang menjadi tanggung jawab. Disiplin ini berhubungan erat
dengan wewenang. Apabila wewenang tidak berjalan dengan semestinya, maka
disiplin akan hilang. Oleh karena ini, pemegang wewenang harus dapat menanamkan
disiplin terhadap dirinya sendiri sehingga mempunyai tanggung jawab terhadap
pekerjaan sesuai dengan wewenang yang ada padanya.
- Kesatuan
perintah (Unity of command)
Dalam
melakasanakan pekerjaan, karyawan harus memperhatikan prinsip kesatuan perintah
sehingga pelaksanaan kerja dapat dijalankan dengan baik. Karyawan harus tahu
kepada siapa ia harus bertanggung jawab sesuai dengan wewenang yang
diperolehnya. Perintah yang datang dari manajer lain kepada serorang karyawan
akan merusak jalannya wewenang dan tanggung jawab serta pembagian kerja.
- Kesatuan
pengarahan (Unity of direction)
Dalam
melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawabnya, karyawan perlu diarahkan menuju
sasarannya. Kesatuan pengarahan bertalian erat dengan pembagian kerja. Kesatuan
pengarahan tergantung pula terhadap kesatuan perintah. Dalam pelaksanaan kerja
bisa saja terjadi adanya dua perintah sehingga menimbulkan arah yang
berlawanan. Oleh karena itu, perlu alur yang jelas dari mana karyawan mendapat
wewenang untuk pmelaksanakan pekerjaan dan kepada siapa ia harus mengetahui batas
wewenang dan tanggung jawabnya agar tidak terjadi kesalahan. Pelaksanaan
kesatuan pengarahan (unity of directiion) tidak dapat terlepas dari pembagian
kerja, wewenang dan tanggung jawab, disiplin, serta kesatuan perintah.
- Mengutamakan
kepentingan organisasi di atas kepentingan sendiri
Setiap
karyawan harus mengabdikan kepentingan sendiri kepada kepentingan organisasi.
Hal semacam itu merupakan suatu syarat yang sangat penting agar setiap kegiatan
berjalan dengan lancar sehingga tujuan dapat tercapai dengan baik.
Setiap
karyawan dapat mengabdikan kepentingan pribadi kepada kepentingan organisasi
apabila memiliki kesadaran bahwa kepentingan pribadi sebenarnya tergantung
kepada berhasil-tidaknya kepentingan organisasi. Prinsip pengabdian kepentingan
pribadi kepada kepentingan organisasi dapat terwujud, apabila setiap karyawan
merasa senang dalam bekerja sehingga memiliki disiplin yang tinggi.
- Penggajian
pegawai
Gaji atau
upah bagi karyawan merupakan kompensasi yang menentukan terwujudnya kelancaran
dalam bekerja. Karyawan yang diliputi perasaan cemas dan kekurangan akan sulit
berkonsentrasi terhadap tugas dan kewajibannya sehingga dapat mengakibatkan
ketidaksempurnaan dalam bekerja. Oleh karena itu, dalam prinsip penggajian
harus dipikirkan bagaimana agar karyawan dapat bekerja dengan tenang. Sistem
penggajian harus diperhitungkan agar menimbulkan kedisiplinan dan kegairahan
kerja sehingga karyawan berkompetisi untuk membuat prestasi yang lebih besar.
Prinsip more pay for more prestige (upah lebih untuk prestasi lebih),
dan prinsip upah sama untuk prestasi yang sama perlu diterapkan sebab apabila
ada perbedaan akan menimbulkan kelesuan dalam bekerja dan mungkin akan
menimbulkan tindakan tidak disiplin.
- Pemusatan
(Centralization)
Pemusatan
wewenang akan menimbulkan pemusatan tanggung jawab dalam suatu kegiatan.
Tanggung jawab terakhir terletak ada orang yang memegang wewenang tertinggi
atau manajer puncak. Pemusatan bukan berarti adanya kekuasaan untuk menggunakan
wewenang, melainkan untuk menghindari kesimpangsiuran wewenang dan tanggung
jawab. Pemusatan wewenang ini juga tidak menghilangkan asas pelimpahan wewenang
(delegation of authority)
- Hirarki
(tingkatan)
Pembagian
kerja menimbulkan adanya atasan dan bawahan. Bila pembagian kerja ini mencakup
area yang cukup luas akan menimbulkan hirarki. Hirarki diukur dari wewenang
terbesar yang berada pada manajer puncak dan seterusnya berurutan ke bawah.
dengan adanya hirarki ini, maka setiap karyawan akan mengetahui kepada siapa ia
harus bertanggung jawab dan dari siapa ia mendapat perintah.
- Ketertiban
(Order)
Ketertiban
dalam melaksanakan pekerjaan merupakan syarat utama karena pada dasarnya tidak
ada orang yang bisa bekerja dalam keadaan kacau atau tegang.
Ketertiban dalam suatu pekerjaan dapat terwujud apabila seluruh karyawan, baik
atasan maupun bawahan mempunyai disiplin yang tinggi. Oleh karena itu,
ketertiban dan disiplin sangat dibutuhkan dalam mencapai tujuan.
- Keadilan
dan kejujuran
Keadilan dan
kejujuran merupakan salah satu syarat untuk mencapai tujuan yang telah
ditentukan. Keadilan dan kejujuran terkait dengan moral karyawan
dan tidak dapat dipisahkan. Keadilan dan kejujuran harus ditegakkan mulai dari
atasan karena atasan memiliki wewenang yang paling besar. Manajer yang adil dan
jujur akan menggunakan wewenangnya dengan sebaik-baiknya untuk melakukan
keadilan dan kejujuran pada bawahannya.
- Stabilitas
kondisi karyawan
Dalam
setiap kegiatan kestabilan karyawan harus dijaga sebaik-baiknya agar segala
pekerjaan berjalan dengan lancar. Kestabilan karyawan terwujud karena adanya
disiplin kerja yang baik dan adanya ketertiban dalam kegiatan.
Manusia sebagai makhluk sosial yang berbudaya memiliki keinginan, perasaan dan pikiran.
Apabila keinginannya tidak terpenuhi, perasaan tertekan dan pikiran yang kacau
akan menimbulkan goncangan dalam bekerja.
- Prakarsa
(Inisiative)
Prakarsa
timbul dari dalam diri seseorang yang menggunakan daya pikir. Prakarsa
menimbulkan kehendak untuk mewujudkan suatu yang berguna bagi penyelesaian pekerjaan
dengan sebaik-beiknya. Jadi dalam prakarsa terhimpun kehendak, perasaan,
pikiran, keahlian dan pengalaman seseorang. Oleh karena itu, setiap prakarsa
yang datang dari karyawan harus dihargai. Prakarsa (inisiatif) mengandung arti
menghargai orang lain, karena itu hakikatnya manusia butuh penghargaan. Setiap
penolakan terhadap prakarsa karyawan merupakan salah satu langkah untuk menolak
gairah kerja. Oleh karena itu, seorang manajer yang bijak akan menerima dengan
senang hari prakarsa-prakarsa yang dilahirkan karyawannya.
- Semangat
kesatuan dan semangat korps
Tidak ada komentar:
Posting Komentar