ACARA I
PENGENALAN OGRANISME PENGGANGGU TANAMAN
1. Pendahuluan
Dalam suatu
areal pertanaman, kemunduran produksi merupakan hal yang sering terjadi. Salah
satu faktor yang mempengaruhi kemunduran produksi adalah karena Adanya gangguan
gulma. Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan
pertanian karena dapat merugikan dalam hal menurunkan hasil produksi yang bisa
dicapai oleh tanaman.
Selain
penyakit kita juga tidak jarang menjumpai hal-hal yang dapat merusak
tanaman seperti hama tanaman. Hama dapat berkembang menjadikan tanaman
yang kita tanam sebagai inangnya. Oleh karena itu kita harus mengendalikan hama
tersebut. Untuk mengendalikannya pertama-tama kita harus mengenali hama yang
menyerang tanaman kemudian mencari cara untuk mengendalikannya sehingga pada
periode tanaman berikutnya hama tersebut tidak lagi menyerang, minimal
mengurangi intensitas serangan hama yang sama (Anonim, 2009).
Dalam hal
pengendalian hama tanaman sangat penting mengenali jenis hama yang menyerang.
karena dengan mengenali hama tersebut dapat diketahui apa yang seharusnya
diperbuat untuk mencegah kerugian yang lebih parah. Untuk itu seiring dengan
perkembangan jaman telah muncul berbagai macam cara pencegahan hama yang sesuai
dengan setiap jenis hama yang menyerang tanaman. Tetapi kemajuan teknologi itu
tidak dapat dinikmati oleh setiap kalangan sehingga sampai sekarang masih bisa
kita lihat pengendalian hama dengan cara lama dan dengan hasil yang kurang optimal pula. Seperti adanya
pestisida fungi untuk pengendalian jamu, insektisida untuk
mengendalikan serangga, rodentisida untuk mengendalikan tikus, dan
masih banyak yang lainnya (anonim, 2009).
Kehadiran
gulma sebagai organisme pengganggu tanaman (OPT) pada lahan pertanian dapat
mengakibatkan terjadinya kompetisi atau persaingan dengan tanaman pokok
(tanaman budidaya) dalam hal penyerapan unsur-unsur hara, penangkapan cahaya,
penyerapan air dan ruang lingkup, mengotori kualitas produksi pertanian,
misalnya pengotoran benih oleh biji-biji gulma, dapat mengeluarkan zat atau
cairan yang bersifat toksin (racun) serta sebagai tempat hidup atau inang
tempat berlindungnya hewan-hewan kecil, insekta dan hama sehingga memungkinkan
hewan-hewan tersebut dapat berkembang biak dengan baik, mengganggu kelancaran
pekerjaan para petani, sebagai perantara atau sumber hama dan penyakit,
mengganggu kesehatan manusia, menaikkan ongkos-ongkos usaha pertanian dan
menurunkan produktivitas air. (Anonim, 2009).
Dalam kurun
waktu yang panjang, kerugian akibat gulma dapat lebih besar daripada kerugian
akibat hama atau penyakit. Olehnya, untuk menangani masalah gulma, maka perlu
dilakukan identifikasi gulma yang dimaksudkan untuk membantu para petani dalam
usaha menentukan program pengendalian gulma secara terarah sehingga produksi
dapat ditingkatkan sebagaimana yang diharapkan. Adapun pengendalian gulma dapat
dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya dengan cara preventif (pencegahan),
secara fisik, pengendalian gulma dengan sistem budidaya, secara biologis, secara kimiawi dan secara
terpadu (Anonim,2009).
2. Tujuan Praktikum
Tujuan
dilaksanakannya Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman adalah untuk mengenal
organisme yang mengganggu tanaman, mengenal hama yang menyerang pada tanaman, mengetahui
macam-macam gulma yang mengganggu tanaman. Dengan cara mengamati gulma dan hama yang telah disediakan
kemudian digambar dan diberi keterangan.
3. Metode
Praktikum
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Dasar-dasar
Perlindungan Tanaman mengenai Pengenalan Gulma dan Hama dilaksanakan
di Perpustakaan, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Waktu pelaksanaannya pada hari Senin,
tanggal 25 November 2013, Pukul 13.00
sampai selesai.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan
pada praktikum ini yaitu alat tulis dan kertas quarto (A4) untuk menggambar. Bahan
yang digunakan dalam praktikum ini yaitu gulma dan hama yang di
bawa masing-masing mahasiswa. Antara lain :
Gulma : Hama
:
Teki
(Cyperus Flavidus) Belalang
(Valanga Nigricornis)
Bayam
Duri (Amarathus Spinosus) Ulat
Daun Pisang
Putri
Malu (Mimosa Pudica) Bekicot
(Acatina Fulica)
Alang-Alang
(Imperata Cyidrica) Lalat
Rumah (Musca Domestica)
Bandotan
(Agreratun Conzoides) Jangkrik
(Gryllusa similis)
Walang
Sangit
3.3 Cara Kerja
Pertama-tama menyiapkan alat dan bahan lalu
mengamati dan mengidentifikasi jenis gulma dan hama tersebut, setelah itu, menggambar jenis
gulma dan hama serta memberikan keterangan pada gambar.
ACARA II
PENGENALAN GEJALA SERANGAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN
1. Pendahuluan
Penyakit
tanaman merupakan suatu yang menyimpang dari keadaan normal dan dapat menyebabkan kerugian langsung pada
tanaman. Tanaman dapat mati karena akar dan pangkal batangnya yang rusak karena
adanya penyakit tanaman, maka kerusakan pada tanaman adalah di sebabkan karena
adanya perubahan dan menurunya kuantitas dan kualitas pada tanaman.
Tanaman
dapat menunjukan gejala perubahan bentuk, dan kelayuan pada tanaman, tanaman
dapat menujukan kelompok gejala yang membentuk gambaan penyakit atau
sidrom penyakit yang di sebakan oleh penyebab abiotik dan biotik.
Suatu tanaman dapat di katakana sehat atau normal, jika tanaman tersebut dapat
menjalankan fungsi-fungsi fisiolgis dengan seperti perkembangan dan pembelah
sel (Anonim, 2009).
Penyakit
pada tumbuhan dapat di temukan dalam bentuk geja dan tanda, dan tanaman dapat
berjangkit sejak tanaman dapat berubah benih, dan selama bibit tanaman tumbuh
dilapangan hingga panen dan tempat penyimpanan pasca panen, sehingga dapat
menimbulkan kerugian secara tidak langsung oleh masyarakat khusus pada petani
(Setijo, 2001).
Penyakit pada tanaman
disebabkan oleh patogen penyakit yaitu bakteri, dan virus yang kesemuanya
disebut mikroorganisme lainnya. Karena ukurannya sangat kecil dan
halus maka tidak dapat dilihat dengan kasat mata maka digunakan mikroskop
elektron (Anonim, 2009).
2. Tujuan
Praktikum
Tujuan dilaksanakannya Praktikum
Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman yaitu untuk mengenal macam-macam/gejala
serangan yang organisme pengganggu
tanaman,
mengamati gejala pada organisme
pengganggu tanaman, menggambarkan gejala pada organisme pengganggu tanaman.
Kemudian digambar dan diberi keterangan.
3. Metode
Praktikum
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Dasar-dasar
Perlindungan Tanaman mengenai pengenalan gejala penyakit pada tanaman
dilaksanakan di Perpustakaan, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Waktu pelaksanaannya pada hari Senin,
tanggal 25 November 2013, Pukul 13.00
sampai selesai.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan
pada praktikum ini yaitu alat tulis dan kertas quarto (A4) untuk menggambar. Bahan
yang digunakan dalam praktikum ini yaitu preparat basah berupa bagian tanaman
yang terserang organisme pengganggu tanaman. Preparat basah terdiri dari : daun
jagung, buah cabai, daun bawang, akar tomat, jagung, ranting sengon, daun padi,
pelepah daun padi.
3.3 Cara Kerja
Pertama-tama menyiapkan alat dan bahan,
kemudian mengamati bagian tanaman yang terserang
penyakit, lalu digambar dan memberikan keterangan pada gambar.
4. Pembahasan
1.
PenyakitGosong
Nama penyakit : Gosong
Patogen :
Ustilago maydis
Tanaman inang : Jagung
Jamur ustilago menyebabkan penyakit gosong sorus dalam bakal biji 9 - 13 x 5 - 9 mm, coklat kehitaman, bertepung. Spora terbungkus oleh gluma bunga yang keras,
berwarna coklat,
agak bulat atau jorong, dengan garis tengah 7 - 13 (9)
m.
Dinding luar spora mempunyai tonjolan-tonjolan yang
jelas (Holliday,1980).
2.
Penyakit antraknosa
pada cabai
Nama penyakit :
Antraknosa
Patogen
: Gloes porium piperatum
Tanaman inang :
Cabai ( capsium annuum L )
G. piperatum menyerang tanaan cabe pada
saat buah masih berwarna hijau dan menyebabkan mati ujung (die
back). Ciri-ciri yang dapat dikenali akibat serangan cendawan ini
adalah buah yang terserang terlihat bintik-bintik kecil berwarna
kehitaman dan berlekuk. Bintik-bintik ini pada bagian tepi berwarna
kuning, membesar dan memanjang. Pada kondisi lembab, cendawan memiliki
lingkaran memusat berwarna merah jambu.
Gejala serangan penyakit antraknosa atau patek pada
buah ditandai buah busuk berwarna kuning-coklat seperti terkena sengatan
matahari diikuti oleh busuk basah yang terkadang ada jelaganya berwarna hitam.
Sedangkan pada biji dapat menimbulkan kegagalan berkecambah atau bila telah
menjadi kecambah dapat menimbulkan rebah kecambah. Pada tanaman dewasa dapat
menimbulkan mati pucuk, infeksi lanjut ke bagian lebih bawah yaitu daun dan
batang yang menimbulkan busuk kering warna cokelat kehitam
Cara paling mudah dan sederhana untuk membedakan
antara kedua mikroorganisme penyebab layu,yaitu dengan cara memotong secara
melintang batang tanaman (tomat,cabe,atau kentang). Batang tanaman yang
layu, apabila
dipotong melintang terdapat warna coklat kehitaman ,maka dugaan besar,tanaman
terserang oleh cendawan/jamur Fusarium sp.
Fusarium sp. banyak ditemukan di dalam tanah dan
jika ditumbuhkan pada media biakan akan membentuk tiga macam spora yaitu
mikrokonidium, makrokonidium dan klamidospora. Mikrokonidium banyak dihasilkan
dalam berbagai kondisi, bentuknya lonjong atau bulat bersel satu dan tidak
berwarna, berukuran 6-15 μm x 2,5-4 μm. Makrokonidium lebih jarang ditemukan,
bentuknya lurus atau bengkok seperti sabit, tidak berwarna, kebanyakan bersekat
dua atau tiga, dan berukuran 25- 33 μm x 3,5-5,5 μm. Klamidospora dibentuk
sebagai respon terhadap kondisi lingkungan yang tidak sesuai yang bertujuan
mempertahankan kelangsungan hidup patogen. Klamidospora berukuran 7-11 μm,
bersel satu atau dua, berdinding tebal dan dihasilkan di dalam makrokonidium
atau miselium yang telah tua(Sastrahidayat,1990;Semangun,1991).
Metode pengendalian yang sering dilakukan oleh para
petani yaitu penggunaan bahan pestisida sintetik yang melebihi dosis anjuran
dan digunakan secara terus-menerus sehingga mengakibatkan akumulasi pestisida
di tanah.
3.
Penyakit Trotol bercak
ungu
Nama penyakit
: Trotol / bercak ungu
Patogen
: Alternaria porri
Tanaman inang
: Bawang daun
Penyakit becak ungu atau trotol menyerang pada
berbagai jenis bawang-bawangan , misal bawang daun, bawang merah, bawang putih
dan bawang Bombay yang menyebabkan matinya daun-daun bawang. Penyakit ini
disebabkan oleh jamur Alternaria porri (Ell.) Cif. Gejala serangan, terjadinya
becak kecil, melekuk, berwarna putih sampai kelabu. Jika membesar, becak tampak
bercincin, dan warnanya agak keunguan. Tepinya agak kemerahan atau keunguan dan
dikelilingi oleh zone berwarna kuning, yang dapat meluas agak jauh di atas atau
dibawah becak. Pada cuaca lembab permukaan becak berwarna coklat sampai hitam.
Ujung daun yang sakit mengering, becak lebih banyak
pada daun tua. Bisa menginfeksi sampai umbi lapis yang mengalami pembusukan
mulai leher, dan mudah dikenali dari warnanya kuning sampai merah kecoklatan.
Daur Penyakit; pathogen bertahan dari musim ke musim pada sisa-sisa tanaman
sebagai konidium. Konidium disebarkan oleh angin pada malam hari dan infeksi
terjadi melalui mulut kulit dan melalui luka-luka.
4.
Pada akar tomat
Nama penyakit
: Puru akar
Patogen
: Meloidogyne Sp.
Tanaman inang
: Tomat ( Lyco persicon
esculentum L )
Menurut Bird (1972) akibat serangan nematodo puru
akar fungsi alamiah sel tanaman akan terganggu. Sebagai contoh menurunnya laju
fotosÃntesis, pertumbuhan dan juga produksi. Hal ini diduga bahwa nematoda ini
mempengaruhi fisiologi tanaman dengan mengganggu sÃntesis dan translokasi
hormon pertumbuhan yang diproduksi oleh akar.
Apabila sistem perakaran terserang respirasi pada tanaman menigkat,absorbsi oksigen lebih cepat atau seimbang dengan tumbuhan.
Apabila sistem perakaran terserang respirasi pada tanaman menigkat,absorbsi oksigen lebih cepat atau seimbang dengan tumbuhan.
5.
Karat padatanamanJagung
Nama penyakit :
Karat
Patogen
: Puccinia Sorghi
Tanaman inang
: Jagung
Karat (rust) pada jagung tersebar luas di semua negara yang menanam jagung. Di Indonesia
penyakit ini sudah ditulis oleh Racibor ski pada tahun 1990. Pada waktu itu karat salah satu dari ketiga penyakit penting pada buncis, yaitu antraknosa, bercak daun bersudut, dan karat (Suhardi,1980b).
Gejala penyak itu timbul pada daun sebagai bercak kecil, berwarna putih, agak terangkat (menonjol). Pada jenis ini sangat rentan bercak dapat mebesar sampai bergaris tengah 2 mm, mempunyai massa berwarna coklat bertepung. Bercak dapat mempunyai halo berawana kekuningan.
Sering kelak bercak ini dikelilingi oleh satu cincin coklat tambahan. Masssa berwarna coklat tapi dapat segera menjadi coklat tua gelap, yang disebabkan karena perkembangan jamur pengembangan jamur penyebab penyakitnya. Penyakit jarang timbul di batang dan tangkai daun yang sehat serta
jaringan xilem menjadi kerdil, sehingga
pengambilan air dan nutrisi dari dalam tanah terhambat, akibatnya terjadi
kekurangan unsur hara maupun air. Gejala akan tampak pada daun atau bagian lain
dari pada tumbuhan (Bird,1972).
Faktor yang mempengaruhi penyakit; tanaman tidak
dipupuk secara berimbang, penyiraman kurang dan musim kemarau riskan dengan
gangguan penyakit. Pemupukan dengan urea pada musim hujan akan meningkatkan
serangan penyakit. Pengendalian; drainase yang baik, rotasi tanaman, pemupukan
berimbang misal penyemprotan POC NASA dan HORMONIK, sebagai pencegahan sebelum
tanam pakai Natural GLIO, penyemprotan fungisida tembaga dan zineb dianjurkan
jika populasi diatas ambang ekonomi dan lebih bagus ditambah
perekat-perata-pembasah AERO 810 agar dapat membasahi daun bawang yang
berlilin.
6.
Pada pelepah daun padi
Nama penyakit :
Hawar pelepah daun
Patogen
: Rhizotonia solani
Tanaman inang : Padi ( oriza sativa L )
Gejala dari penyakit bercak pelepah daun pada
tanaman padi adalah adanya bercak pada seludang/pelepah daun dan jika kondisi
menguntungkan bagi perkembangan bakteri bercak bisa menyerang pada helaian
daun. Gejala awal biasanya terbentuknya bercak pada pelepah yang berdekatan
dengan air berbentuk lonjong berwarna kelabu kehijau-hijauan kemudian menjadi
putih kelabu dengan pinggiran cokelat. Ukuran bercak dapat mencapai panjang
2-3cm.Batas tepi bercak dan variasi
warna memberikan warna yang jelas pada bagian tanaman yang terinfeksi. Jika
kondisinya lembab sekali pelepah tersebut dapat busuk sehingga penyakit dapat
disebut dengan busuk upih. Biasanya gumpalan benang jamur (miselium) dapat
dijumpai pada pelepah yang terinfeksi. Gejala biasanya nyata selama masa pembungaan
atau pada fase pemasakan. Infeksi berat dapat menyebabkan bulir tidak terisi
dengan sempurna.
Penyakit bercak pelepah daun pada tanaman disebabkan
oleh jamur Rhizoctonia Solani dan Rhizoctonia oryzae. Jamur ini dapat bertahan
dalam tanah dan sisa tanaman dalam bentuk benang-benang (miselium) atau
gumpalan yang keras (skletoria). Jamur ini dapat berkembang cepat pada kondisi
yang lembab misalnya di bawah rumpun padi yang rapat. Kecepatan perkembangan
penyakit juga akan bertambah ketika urea diberikan secara berlebihan. Sinar
matahari dapat menekan infeksi yang disebabkan oleh jamur ini.
7.
Pada Ranting sengon
Nama penyakit :
Karat atau kanker ranting sengon
Patogen
: Uromycladium tepperianum
Tanaman inang :
Sengon
Penyakit karat tumor/karat puru yang menyerang
tanaman sengon adalah jamur Uromycladium tepperianum. Jamur ini dikenal
sebagai jamur karat yang menyerang lebih dari seratus spesies Acaccia,
jenis-jenis Paraserianthes/Albizia spp, Racosperma spp. (ketiganya merupakan
anggota famili Fabaceae ( =Leguminosae ) menyebabkan pembentukan (gall)
yang menyolok pada dedaunan dan ranting pohon. Setiap gall karat tumor/karat
puru dapat melepaskan ratusan sampai ribuan spora yang dapat menularkan ke
pohon-pohon sekitarnya dengan cepat melalui bantuan angin. Ukuran, bentuk , dan
warna gall bervariasi tergantung bagian tanaman yang terserang dan umur gall.
Warna gall pada awalnya hijau kemudian berubah menjadi coklat. Warna coklat
indikasi bahwa spora-spora yang melimpah siap dilepaskan/terbang.
Penyakit karat tumor/karat puru (gall rust), merupakan salah satu penyakit yang berbahaya pada tanaman sengon laut Paraserianthes falcataria. Dampak penyakit meluas pada semai sampai tanaman sengon dewasa, mulai dari menghambat pertumbuhan sampai mematikan tanaman sengon.
Penyakit karat tumor/karat puru (gall rust), merupakan salah satu penyakit yang berbahaya pada tanaman sengon laut Paraserianthes falcataria. Dampak penyakit meluas pada semai sampai tanaman sengon dewasa, mulai dari menghambat pertumbuhan sampai mematikan tanaman sengon.
·
Gejala Serangan
Serangan karat tumor/karat puru pada pohon
sengon ditandai dengan terjadinya pembengkakan (gall) pada ranting/cabang,
pucuk-pucuk ranting, tangkai daun dan helai daun. Gall ini merupakan tubuh buah
dari jamur. Penyakit karat tumor/karat puru dapat menjadi persoalan yang
serius dalam pengelolaan tanaman sengon. Penyebaran penyakit ini sangat cepat,
dengan menyerang tanaman sengon mulai dari persemaian sampai lapangan dan pada
semua tingkatan umur. Kerusakan serius bila serangan terjadi pada tanaman
sengon yang masih muda (umu r1-2 tahun), karena titik-titik serangan (gall)
bisa terjadi di batang pokok/utama sehingga batang pokok/utama rusak/cacat,
tidak dapat menghasilkan pohon sengon yang berkualitas.
8.
Pada daun padi
Nama penyakit :
Bercak daun garis coklat
Patogen
: Cercospora (Narrow brown
Leaf Spot)
Tanaman inang
: Padi ( Oriza sativa L )
Bercak Cercospora (Narrow brown Leaf Spot) Penyakit
ini menimbulkan kerugian sampai 40%. Penyebab penyakit adalah jamur Cercospora
oryzae. Penyakit
menghasilkan gejala bercak-bercak lurus sempit memanjang berwarna cokelat
kemerahan sejajar dengan ibu tulang daun pada helaian daun bendera, pada fase
tumbuh - pemasakan. Banyaknya bercak meningkat pada waktu tanaman membentuk
anakan. Gejala juga dapat terjadi pada pelepah dan kulit gabah.
ACARA III
PENGENALAN PESTISIDA
1. Pendahuluan
Pestisida adalah bahan
yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, memikat, atau membasmi organisme
pengganggu. Nama ini berasal dari pest ("hama") yang diberi akhiran
-cide ("pembasmi"). Sasarannya bermacam-macam, seperti serangga,
tikus, gulma, burung, mamalia, ikan, atau mikrobia yang dianggap mengganggu.
Pestisida biasanya, tapi tak selalu, beracun. Dalam
bahasa sehari-hari, pestisida seringkali disebut sebagai "racun".
Tergantung dari
sasarannya, pestisida dapat berupa :
a.
Insektisida
(serangga)
b.
Fungisida
(fungi/jamur)
c.
Rodentisida
(hewan pengerat/Rodentia)
d.
Herbisida
(gulma)
e.
Akarisida
(tungau)
f.
Bakterisida
(bakteri)
Penggunaan pestisida
tanpa mengikuti aturan yang diberikan membahayakan kesehatan manusia dan
lingkungan, serta juga dapat merusak ekosistem. Dengan adanya pestisida ini,
produksi pertanian meningkat dan kesejahteraan petani juga semakin baik. Karena
pestisida tersebut racun yang dapat saja membunuh organisme berguna bahkan
nyawa pengguna juga bisa terancam bila penggunaannya tidak sesuai prosedur yang
telah ditetapkan. Menurut depkes riau kejadian keracunan tidak bisa di
tanggulangi lagi sebab para petani sebagian besar menggunakan pestisida kimia
yang sangat buruk bagi kesehatan mereka lebih memilih pestisida kimia dari pada
pestisida botani ( buatan ) kejadian keracunan pun sangat meningkat di provinsi
tersebut. Menurut data kesehatan pekan baru tahun 2007 ada 446 orang meninggal
akibat keracunan pestisida setiap tahunnya. Sekitar
30% mangalami gejala keracunan saat menggunakan pestisida. Karena petani kurang tahu cara menggunakan pestisida secara efektif dan
penggunaan pestisida secara berlebihan. Berdasarkan
hasil penilitian Ir. La Ode Arief M. Rur.SC. Dari sumatra barat tahun 2005
mengatakan penyebab keracunan pestisida di riau akibat kurang pengetahuan
petani dalam penggunaan pestisida secara efektif dan tidak menggunakan alat
pelindung diri saat pemajanan pestisida,hasilnya dari 2300 responden yang peda
dasarnya para petani hanya 20% petani yang menggunakan APD ( alat pelindung
diri ), 60% patani tidak tau cara menggunakan pestisida secara efektif dan
mereka mengatakan setelah manggunakan pestisida timbul gejala pada tubuh ( mual,sakit
tenggorokan, gatal - gatal, pandangan kabur, Dll.) Dan sekitar 20% petani tersebut tidak tahu sama sekali tentang bahaya pestisida terhadap
kesehatan,begitu tutur Ir. La Ode Arief M. Rur.SC. Beliau juga mengatakan semakin rendah tingkat pendidikan petani
semakin besar risiko terjangkit penyakit akibat
pestisida.
2. Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum
ini adalah :
1.
Mengenal berbagai macam pestisida
2.
Mengenal beberapa pestisida
3. Metode
Praktikum
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Dasar-dasar
Perlindungan Tanaman mengenai pengenalan pestisida dilaksanakan di Perpustakaan,
Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Waktu pelaksanaannya pada hari Senin,
tanggal 2 Desember 2013,
Pukul 13.00 sampai selesai.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan
pada praktikum ini yaitu alat tulis dan kertas. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini
yaitu beberapa
macam pestisida berupa herbisida, fungisida, dan insectisida.
3.3 Cara Kerja
Menyiapkan alat dan
bahan lalu mengamati satu persatu pestisida kemudian mencatat nama dagang, nama
perusahaan, bahan aktif, bentuk pestisida, warna, sifat serangan, fungsi, dan
konsentrasi dosis.
4. Pembahasan
A.
Fungisida
Fungisida adalah zat
kimia yang digunakan untuk mengendalikan cendawan(fungi/jamur) Fungisida
umumnya di bagi menurut cara kerjanya didalam tubuh tanaman sasaran yang
diaplikasi, yakni fungisida nonsistemik, sistemik, dan sistemik lokal. Pada
fungisida, terutama fungisida sistemik dan nonsistemik, pembagian ini erat
hubungannya dengan sifat dan aktifitas fungisida terhadap jasad sasarannya.
Berhubung yang di amati hanya fungisida non sistemik dan fungisida sistemik
saja, maka yang dibahas hanya fungisida nonsistemik dan fungisida sistemik.
a.
Fungisida nonsistemik
(Fungisida Kontak, fungisida Residual Protektif)
Fungisida ini berfungsi
mencegah infeksi cendawan dengan menghambat perkecambahan spora atau miselia
jamur yang menempel di permukaan (daun) tanaman. Karena itu, fungisida kontak
berfungsi sebagai protektan dan hanya efektif bila digunakan sebelum tanaman terinfeksi
oleh penyakit (protektif, preventif).
b.
Fungisida
sistemik
Fungisida sistemik
diabsorbsi oleh organ-organ tanaman dan ditranslokasikan ke bagian tanaman
lainnya lewat aliran cairan tanaman. Kebanyakan fungisida sistemik
didistribusikan ke atas, yakni dari akar ke daun (akropetal). Beberapa
fungisida sistemik juga dapat bergerak ke bawah, yakni dari daun ke akar
(basipetal). Contoh fungisida sistemik adalah benomil, difenokonazol,
karbendazim, metalaksil, propikonazol, dan triadimefon.
B.
Herbisida
Berasal dari kata latin
herba yang berarti tanaman setahun. Herbisida adalah pestisida yang digunakan
untuk mengendalikan gulma atau tumbuhan pengganggu yang tidak dikehendaki.
Karena herbisida aktif terhadap tumbuhan, maka herbisida bersifat fitotoksik.
Herbisida yang aktif
pada gulma yang sudah tumbuh. Herbisida jenis ini dapat dibagi menjadi dua
kelompok sebagai berikut :
a.
Herbisida
kontak, yakni herbisida yang membunuh jaringan gulma yang terkena langsung oleh
herbisida tersebut.. Contohnya herbisida kontak adalah propanil, paraquat, dan
diquat.
b.
Herbisida
yang ditranslokasikan keseluruh bagian gulma (sistemik). Yang disebut pula
sebagai translocated herbicides. Karena sifatnya yang sistemik, herbisida ini
mampu membunuh jaringan gulma yang ada di bawah tanah (rimpang, umbi). Contoh
herbisida ini adalah 2,4-D, glifosat.
C.
Insektisida
Berasal dari kata latin
insectum yang berarti potongan, keratan atau segmen tubuh. Menurut “cara kerja”
atau gerakannya pada tanaman setelah diaplikasikan, insektisida secara kasar
dibedakan menjadi tiga macam sebagai berikut :
a.
Insektisida
sistemik
Insektisida sistemik
diserp oleh organ-organ tanaman, baik lewat akar, batang atau daun.
Selanjutnya, insektisida sistemik tersebut mengikuti gerakan cairan tanaman dan
ditrasportasikan ke bagian-bagian tanaman lainnya, baik ke atas (akropetal)
atau ke bawah (basipetal), termasuk ke tunas yan baru tumbuh. Contoh
insektisida sistemik adalah furatiokarb, fosfamidon, isolan, karbofuran, dan
monokrotofos.
b.
Insektisida
nonsistemik
Insektisida nonsistemik
setelah diaplikasikan (misalnya disemprotkan) pada tanaman sasaran tidak
diserap oleh jaringan tanaman, tetapi hanya menempel di bagian luar tanaman.
Contoh insektisida adalah dioksikarb, diazinon, diklorvos, profenofos, dan
quinalfos.
Menurut cara masuk
insektisida ke dalam tubuh serangga sasaran dibedakan menjadi tigakelompok
insektisida sebagai berikut:
a.
Racun
lambung (racun perut, stomach poison)
Adalah
insektisida-insektisida yang membunuh serangga sasaran bila insektisida
tersebut masuk ke dalam organ pencernaan serangga dan diserap oleh dinding
saluran pencernaan. Selanjutnya, insektisida tersebut dibawa oleh cairan tubuh
serangga ke tempat sasaran yang mematikan (misalnya ke susunan syaraf
serangga). Oleh karena itu, serangga harus terlebih dahulu memakan tanaman yang
sudah disemprot dengan insektisida dalam jumlah yang cukup untuk membunuhnya.
b.
Racun
kontak
Racun kontak adalah
insektisida yang masuk ke dalam tubuh serangga lewat kulit (bersinggungan
langsung). Serangga hama akan mati bila bersinggungan (kontak langsung) dengan
insektisida tersebut.
c.
Racun
pernapasan
Adalah insektisida yang
bekerja lewat saluran pernapasan. Serangga hama akan mati bila menghirup
insektisida dalam jumlah yang cukup.
ACARA IV
PENGENALAN ALAT-ALAT PENGENDALIAN OPT
1. Pendahuluan
Sprayer adalah salah
satu dari penggunaan mesin secara umum untuk bahan kimia cair untuk
pengendalian gulma dan serangga. Pupuk cair juga dapatmenggunakan sprayer. Tipe
dari penyemprotan pertanian digolongkanberdasarkan tujuan pemakaian, penggunaan
bahan kimia, dan tekanan darisprayer (Jacobs,1983).
Alat penyemprot (Sprayer)
digunakan untuk mengaplikasikan sejumlahtertentu bahan kimia aktif pemberantas
hama penyakit yang terlarut dalam air keobjek semprot (daun, tangkai, buah) dan
sasaran semprot (hama-penyakit). Efesiensi
dan efektivitas alat semprot ini ditentukan oleh kualitas dan kuantitasbahan
aktif tersebut yang terkandung di dalam setiap butiran larutan tersemprot (droplet) yang melekat pada objek dan
sasaran semprot (Kastaman, dkk, 2002).
Sprayer digunakan untuk :
a.
Menyemprotkan
insektisida untuk mencegah dan memberantas hama.
b.
Menyemprotkan
fungisida untuk mencegah dan memberantas penyakit.
c.
Menyemprotkan
herbisida untuk mencegah dan memberantas gulma. Menyemprotkan pupuk cairan.
d.
Menyemprotkan
cairan hormon pada tanaman untuk tujuan tertentu
Prinsip kerja alat
penyemprot handsprayer adalah memecah cairan menjadi butiran partikel halus yang menyerupai
kabut. Dengan bentuk dan ukuran
yang halus, maka pemakaian pestisida akan efektif
dan merata keseluruh permukaan daun atau tajuk tanaman. Untuk memperoleh
butiran halus, biasanya dilakukan
dengan menggunakan proses pembentukan partikel denganmenggunakan tekanan
(hydraulic atomization), yakni cairan di dalam tangki dipompa sehingga mempunyai tekanan yang tinggi, dan
akhirnya mengalir melalui selang karet
menuju ke alat pengabut. Cairan dengan tekanan tinggi mengalir melalui celah yang sempit dari alat
pengabut, sehingga cairan akanpecah menjadi partikel-partikel yang sangat
halus. (Anonim 1. 2010).
Faktor–faktor yang
mempengaruhi efektifitas penggunaan sprayer yakni faktor
yang berasal dari peralatan sendiri, yaitu lebar nozzle, tekanan,
bentuk nozzle. Faktor yang ditentukan oleh cairannya adalah
viskositas, harga kerapatan cairan,
dan tegangan muka sangat mempengaruhi bentuk ukuran butiran maupunpenyebaran
butirannya. (Ciptohadijoyo,2003).
Penyemprot tekanan tinggi
untuk tanaman pertanian adalah Type Gendong
atau Knapsack merek Zenoah dirancang untuk dapat menyelesaikan Penyemprotan tanaman dengan cepat dan
efisien, Power Sprayers
Dusters/Mistersini banyak digunakan pada Lahan Pertanian dan Perkebunan yang
luas dan tersebar. Power Sprayers Zenoah asal Jepang ini
adalah Power Sprayers yang handal
dan mempunyai performa tinggi, sangat
ringan dan Nyaman untuk digendong sehingga menghasilkan penyemprotan tanaman
yang merata,(Anonim2.2010).
Ditinjau dari sumber
daya penggeraknya, sprayer dibedakan menjadi dua,yaitu sprayer yang digerakkan
dengan sumber daya penggerak manusia dansprayer yang digerakkan dengan daya
penggerak motor (Ciptohadijoyo, 1998).
2. Tujuan Praktikum
Praktikum bertujuan
untuk :
1.
Mengetahui alat-alat pengendalian organisme pengganggu tanaman.
2.
Mengetahui cara pemakaian alat-alat pengendalian organisme pengganggu
tanaman.
3. Metode
Praktikum
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Dasar-dasar
Perlindungan Tanaman mengenai pengenalan alat-alat pengendalian
organisme pengganggu tanaman dilaksanakan di Perpustakaan, Fakultas
Pertanian, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Waktu pelaksanaannya pada hari Senin,
tanggal 2 Desember 2013,
Pukul 13.00 sampai selesai.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan
pada praktikum ini yaitu alat tulis dan kertas. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini
yakni contoh alat pengendali organisme pengganggu tanaman berupa knapsack sprayer
dan hand sprayer.
3.3 Cara Kerja
Pertama-tama
menyiapkan alat dan bahan lalu mengamati bagian-bagian alat pengendali
organisme pengganggu tanaman kemudian digambar satu persatu dan diberi
keterangan.
4. Pembahasan
Sprayer
Alat penyemprot
punggung semi otomatis, sering di gunakan oleh petani. Tangki terbuat dari
bahan tahan karat, umumnya terbuat dri fiber glass atau plastik. Unit pompa
menyatu dengan tangki. Diluar tangki terdapat selang semprot, dan di ujung
tangkai semprot terdapat nozel. Pada saat menyemprot, alat ini di gendong di
punggung sambil berjalan. Operator alat ini harus secara teratur menggerakkan
handel pompa, karena tekanan yang dihasilkan pompa tidak dapat bertahan lama.
Pompa pada alat ini umumnya bertipe piston yang dilengkapi tabung udara untuk
menyimpan tekanan, sehingga handel pompa tidak perlu digerakkan terlalu sering
seperti pada pengoprasian sprayer tangan. Dengan demikian beberapa kali menekan
handel pompa cukup untuk mempertahankan tekanan untuk beberapa menit. Handel
pompa harus digerakkan lagi jika hasil semprotan membentuk butiran yang lebih
besar dengan jarak semprot yang lebih pendek. Selama penyemprotan operator
harus mengguncang-guncangkan tangkinya selama penyemprotan.
ACARA
V
MENGAMATI
INTENSITAS ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN
1. Pendahuluan
Kumbang
kelapa Orycthes rhinocheros L (coleoptera scarabidae), sudah umum dikenal oleh
petani kelapa dan tersebar pada seluruh pertanaman kelapa di indonesia. Kumbang
dewasa biasanya terbang ke tajuk kelapa pada malam hari, dan masuk melalui
salah satu ketiak pada bagian atas tajuk. Pada dasarnya ketiak pelepah
ketiga,empat atau lima dari pucuk merupakan tempat masuk yang paling disukai.
Jika tanaman kelapa baru berumur satu tahun atau kurang, maka titik masuk
mungkin pada pangkal batang dipermukaan tanah. Setelah kumbang menggerek ke
batang tanaman, kumbang akan memakan pelepah daun muda yang sedang berkembang.
Karena
kumbang memakan daun yang masih terlipat, maka bekas gigitan akan menyebabkan
daun seperti tergunting dan jelas terlihat setelah pelepah daun terbuka.
Kerusakan yang ditimbulkan pada tanaman kelapa terjadi pada pelepah daun
muda.informasi ini menunjukkan bahwa hama oryctes merupakan salah satu hama
yang berbahaya pada tanaman kelapa.
Kumbang
betina meletakkan telur pada tumpukan bahan organik lapuk sesudah telur
menetas, larva akan mengkonsumsi bahan organik lapuk tersebut dan berkembang
sampai menjadi dewasa. Banyak jenis tumpukan bahan organik yang dapat dijadikan
sebagai tempat bertelur dan berkembang biak
oryctes rhinocheros.
2. Tujuan Praktikum
Praktikum bertujuan
untuk :
1.
Mengamati intensitas organisme pengganggu
tanaman pada tanaman kelapa.
2.
Menghitung intensitas serangan hama pada
tanaman kelapa.
3. Metode
Praktikum
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Dasar-dasar Perlindungan Tanaman mengenai pengamatan
intensitas organisme pengganggu tanaman pada tanaman kelapa dilaksanakan
di sekitar Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Waktu pelaksanaannya pada hari Rabu,
tanggal 4 Desember 2013, Pukul 13.00
sampai selesai.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan
pada praktikum ini yaitu alat tulis dan kertas, bahan yang digunakan adalah 30 pohon kelapa.
3.3 Cara Kerja
Pertama-tama menyiapkan
alat tulis, kemudian mencari pohon yang terkena serangan hama
oryctes rhinocheros, lalu mengamati pohon kelapa yang terkena serangan hama.
Selanjutnya menghitung jumlah seluruh daun dan jumlah daun yang sakit kemudian
mencatat hasil pengamatan.
4. Hasil Pengamatan
Intensitas Serangan
Hama Pada Tanaman Kelapa
No.
|
Jumlah daun
total
|
Jumlah daun
sakit
|
Presetase
daun yang sakit
|
Harga
numerik
|
1
|
29
|
20
|
68,9
|
7
|
2
|
16
|
11
|
68,7
|
7
|
3
|
18
|
8
|
44,4
|
5
|
4
|
15
|
7
|
46,6
|
5
|
5
|
17
|
9
|
52,9
|
6
|
6
|
25
|
14
|
56
|
6
|
7
|
23
|
12
|
52,1
|
6
|
8
|
19
|
9
|
47,3
|
5
|
9
|
30
|
18
|
60
|
6
|
10
|
14
|
8
|
57,1
|
6
|
11
|
22
|
13
|
59,09
|
6
|
12
|
27
|
21
|
77,7
|
8
|
13
|
13
|
9
|
69,2
|
7
|
14
|
15
|
7
|
46,6
|
5
|
15
|
17
|
11
|
64,7
|
7
|
16
|
21
|
14
|
66,6
|
7
|
17
|
18
|
10
|
55,5
|
6
|
18
|
26
|
19
|
73,07
|
8
|
19
|
19
|
13
|
68,4
|
7
|
20
|
20
|
15
|
75
|
8
|
21
|
15
|
11
|
73,3
|
8
|
22
|
22
|
16
|
72,7
|
8
|
23
|
29
|
22
|
75,8
|
8
|
24
|
25
|
18
|
72
|
8
|
25
|
31
|
24
|
77,4
|
8
|
26
|
17
|
14
|
82,3
|
9
|
27
|
15
|
4
|
26,6
|
3
|
28
|
21
|
13
|
61,9
|
7
|
29
|
22
|
9
|
40,9
|
5
|
30
|
19
|
10
|
52,6
|
6
|
Intensitas serangan hama
N
x Z
30
x 10
300
300
I = 66 %
Jadi,
intensitas serangan hama pada ke-30
sampel tanaman kelapa
tersebut adalah 66 %.
5. Pembahasan
Praktikum ini dilakukan dalam bentuk
survey di sekitar
kampus, yaitu di kebun-kebun atau di pekarangan rumah penduduk sekitar kampus. Hal-hal yang
diamati adalah kondisi pertanaman kelapa, kerusakan daun kelapa yakni mengamati
guntingan-guntingan pada pelepah daun kelapa. Areal pertanaman kelapa dilokasi
pengamatan umumnya ditanam di pekarangan rumah. Pemeliharaan tanaman kurang
diperhatikan oleh petani karena adanya masalah oryctes. Berdasarkan hasil
suryey, terlihat bahwa hama oryctes merupakan hama yang berbahaya. Kerusakan
daun yang ditimbulkan hama ini belum terlalu parah.
Peningkatan
populasi hama ini ditunjang oleh banyaknya tempat berkembang biak yang tersedia
terutama pada batang kelapa mati dan lapuk dan kotoran-kotoran hewan yang telah
melapuk.Berdasarkan hasil pengamatan dan jumlah intensitas serangan tersebut
adalah sebesar 44,6%. Terdapat hubungan yang signifikan antara jumlah
guntingan, produksi kelapa dan populasi kumbang. Makin tinggi tingkat kerusakan
daun, akan mengakibatkan penurunan tingkat produksi yang tinggi pula. Hal ini
disebabkan karena kerusakan daun dapat melemahkan tanaman sehingga mengurangi produksi
kelapa.
Kumbang
yang menyerang pucuk pohon dan pangkal daun muda pda tanaman kelapa, yaitu
kumbang nyiur (Oryctes Rhinoceros). Kumbang nyiur ini juga sering dijuluki
dengan nama kumbang badak karena memiliki semacam tonjolan seperti cula badak.
Biasanya kumbang dewasa berterbangan di senja hari. Siklus hidupnya berlangsung
selama 10 bulan. Telur, larva, dankepompong dilalui di dalam tanah, terutama di
antara tumpukan sampah, serbuk gergaji, atau pupuk kandang.
a. Gejala
serangan
Pada
serangan ringan tampak daun seperti terpotong membentuk segitiga. Bekas
serangannya akan membusuk karena air hujan sehingga menjadi media perkembangan
cendawan. Pada serangan berat tampak banyak daun berbentuk segitiga. Bila titik
tumbuh diserang, tanaman bisa mati atau cacat.
b. Pengendalian
Untuk
pengendalian hama ini, cendawan Beauveria
bassiana (balsamo) Vuillemin pun dapat digunakan. Cara penggunaannya sama
seperti pada pengendalian kumbang brontispa. Cendawan lain adalah Metarrhizium anisopliae. Selain dengan
cendawan, hama ini dapat dikendalikan dengan virus Rhabdionvirus dan
Baculovirus. Cendawan dan virus dapat diperoleh di dinas perkebunan setempat.
Oleh
karena kumbang ini berkembang pada timbunan sampah maka upaya pengendaliannya
bisa dengan tetap menjaga sanitasi kebun atau menanam tenaman sela maupun
tanaman penutup tanah.
Jenis hama yang
menyerang daun pada tanaman kelapa :
a.
Hama Perusak
Pucuk
1.
Kumbang
nyiur (Oryctes Rhinoceros)
Ciri : bentuk
kumbang dengan ukuran 20-40 mm warna hitam dengan bentuk cula pada kepala
Gejala : (1)
hama ini merusak tanaman yang berumur 1-2 tahun; (2) tanaman berumur 0-1 tahun,
lubang pada pangkal batang dapat menimbulkan kematian titik tumbuh atau
terpuntirnya pelepah daun yang dirusak; (3) pada tanaman dewasa terjadi lubang
pada pelepah termuda yang belum terbuka; (4) ciri khas yang ditimbulkan yaitu
janur seperti digunting berbentuk segi tiga; (5) stadium yang berbahaya adalah
stadium imago (dewasa) yang berupa kumbang.
Pengendalian : (1) sanitasi kebun terhadap sisa-sisa tebangan batang
kelapa; (2) menggunakan virus Bacullovirus oryctes dan Mettarrizium
arrisophiae; (3) memberikan carbofura (furadan 3G) atau carbaryl (sevin 5G)
10/pohon dengan interval 2 bulan sekali.
2.
Kumbang
sagu (Rhynchophorus ferruginous)
Ciri : imago,
berbentuk kumbang dengan masa perkembangan 11-18 hari. Ciri khas nya adalah
tinggal di kokon sampai keras.
Gejala : merusak
akar tanaman muda, batang dan tajuk, pada tanaman dewasa merusak tajuk, gerekan
pada pucuk menyebabkan patah pucuk, liang gerekan keluar lendir berwarna merah
coklat.
Pengendalian : (1) hindari perlukaan, bila luka dilumuri ter; (2)
potong dan bakar tanaman yang terserang; (3) sanitasi kebun; (4) secara kemis
dengan insektisida Thiodan 35 EC 2-3 cc/liter larutan, Basudin 10 G dan sevin
85 SP pada luka dan diperkirakan ada serangan Kumbang sagu;
b.
Hama Perusak
Daun
1.
Sexava
sp
Ciri : belalang sempurna dengan ukuran 70-90
mm, berwarna hijau kadang-kadang coklat. Masa perkembangan 40 hari.
Gejala : (1) merusak daun tua dan dalam keadaan
terpaksa juga merusak daun muda, kulit buah dan bunga-bunga; (2) merajalela
pada musim kemarau; (3) pada serangan yang hebat daun kelapa tinggal
lidi-lidinya saja.
Pengendalian : (1) cara mekanis: menghancurkan telur
dan nimfanya, menangkap belalang (di Sumatera dengan perekat dicampur Agrocide,
Lidane atau HCH, yang dipasang sekeliling batang) untuk menghalangi betina
bertelur di pangkal batang dan menangkap nimfa yang akan naik ke pohon; (2)
cara kultur teknis: menanam tanaman penutup tanah (LCC), misalnya Centrosema sp.,
Calopogonium sp., dan sebagainya; (3) cara kemis: menyrmprot dengan salah satu
atau lebih insektisida, seperti BHC atau Endrin 19,2 EC 2cc/liter air,
menyemprotkan disekitar pangkal batang sampai tinggi 1 meter, tanah sekitar
pangkal batang diameter 1,5 m 6 liter/pohon. Insektisida lain yang dapat
digunakan: Sumithion 50 EC, Surecide 25 EC, Basudin 90 SC atau Elsan 50 EC; (4)
cara biologis: menggunakan parasit Leefmansia bicolor tapi hasilnya belum
memuaskan.
2.
Kutu
Aspidiotus sp
Ciri : kutu berperisai, jantan bersayap dengan
ukuran 1,5-2 betina, jantan 0,5 mm. Imago jantan berwarna merah/merah jambu dan
betina berwarna kuning sampai merah.
Gejala : (1) bercak-bercak kuning pada permukaan
bagian bawah daun; (2) pada serangan berat daun berwarna merah keabu-abuan,
tidak berkembang (tetap kecil), tidak tegak, kemudian tajuknya terkulai dan
mati; (3) akibat serangan dalam waktu 2-5 tahun tidak mau berbuah.
Pengendalian : menggunakan musuh alami yaitu predator
Cryptognatha nodiceps Marshall atau parasit Comperiella unifasciata Ishii.
3.
Parasa
lepida
Ciri : kupu-kupu berentang sayap 32-38 mm
berwarna kuning emas muda, masa pertumbuhan ± 375 hari.
Gejala : memakan anak-anak daun sebelah bawah
setempat-setempat, tetapi tidak sampai tembus, meninggalkan bekas ketaman/gigitan
yang melebar sehingga tinggal urat-uratnya serta jaringan daun atas, ulat yang
tua merusak daun dari pinggir ke tengah sampai lidinya, serangan hebat tinggal
lidinya dan nampak gundul.
Pengendalian : (1) menggunakan musuh alami parasit ulat
Apanteles parasae; (2) kepompong dapat menggunakn lalat parasit Chaetexorista
javana; (3) perogolan pohon yang terserang pada masa stadium ulat atau dengan
mengumpulkan kepompongnya; (4) penyemprotan dengan insektisida Dimecron 50 EC.
Suprecide 10 atau menyuntik batang dengan Ambush 2 EC 2-3 cc/liter air pada
stadium larva konsentrasi.
4.
Darna
sp
Ciri : imago berbentuk kupu-kupu dengan rentang
sayap 14-20 mm. Masa pertumbuhan 30-90 hari.
Gejala : (1) pada musim kering, Meninggalkan
bekas gigitan tidak teratur pada daun tua, pelepah daun terbawah terkulai; (2)
daun-daun yang rusak hebat menjadi merah-sauh, kecuali pucuknya dan beberapa
daun yang termuda; (3) tandan-tandan buah dan daun sebelah bawah terkulai
bagaikan layu terutama kalau kering dan akhirnya bergantung kebawah di sisi
batangnya. (4) buahnya gugur; (5) daun-daun mudak duduk seperti biasa, tetapi
kadang-kadang mulai merah sauh. Hanya pucuknya dan daun-daun yang masih muda
sekali yang utuh.
Pengendalian : (1) mengadakan pronggolan daun dan
kemudian membakarnya; (2) menggunakan parasit musuhnya yaitu parasit kepompong
Chaetexorista javana, Ptycnomyaremota, Musca conducens; atau tabuhan-tabuhan
parasit Chrysis dan Syntomosphyrum; (3) menyuntikkan pestisida Ambush 2 EC 2-3
cc/liter air atau penyemprotan pada stadium larva. Atau insektisida Agrothion
50 EC dengan konsentrasi 0,2-0.4%, Basudin 60 EC dengan konsentrasi 0,3%.
5.
Ulat
Artona (Artona catoxantha)
Gejala : (1) pada helaian daun terjadi kerusakan
dengan adanya lubang seperti jendela kecil; (2) jika serangan berat, tajuk
tanaman kelapa nampak layu dan seperti terbakar; (3) pada bagian bawah anak
daun terlihat beberapa /bekas serangan menyerupai tangga, dengan tulang daun
arahnya melintang seperti anak tangga; (4) stadium berbahaya adalah larva.
Pengendalian : (1) jika setiap dua pelepah terdapat 5
atau lebih stadium hidup maka perlu dilakukan penangkasan semua daun, dan
ditinggalkan hanya 3-4 lembar daun termuda; (2) menggunakan tawon kemit
(Apanteles artonae) yang merusak ulat atau Ptircnomya dan Cardusia leefmansi;
(3) menggunakan insektisida Ambush 2 EC 5 gram/hektar melalui suntikan batang ataupun
penyemprotan pada stadium larva.
DAFTAR PUSTAKA
JoomlArt.com
Wordpress.com
LAMPIRAN