Senin, 13 Januari 2014

laporan dasar-dasar perlindungan tanaman

ACARA I
PENGENALAN OGRANISME PENGGANGGU TANAMAN

1.       Pendahuluan
Dalam suatu areal pertanaman, kemunduran produksi merupakan hal yang sering terjadi. Salah satu faktor yang mempengaruhi kemunduran produksi adalah karena Adanya gangguan gulma. Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena dapat merugikan dalam hal menurunkan hasil produksi yang bisa dicapai oleh tanaman.
Selain penyakit kita juga tidak jarang menjumpai hal-hal yang dapat merusak tanaman seperti hama tanaman. Hama dapat berkembang menjadikan tanaman yang kita tanam sebagai inangnya. Oleh karena itu kita harus mengendalikan hama tersebut. Untuk mengendalikannya pertama-tama kita harus mengenali hama yang menyerang tanaman kemudian mencari cara untuk mengendalikannya sehingga pada periode tanaman berikutnya hama tersebut tidak lagi menyerang, minimal mengurangi intensitas serangan hama yang sama (Anonim, 2009).
Dalam hal pengendalian hama tanaman sangat penting mengenali jenis hama yang menyerang. karena dengan mengenali hama tersebut dapat diketahui apa yang seharusnya diperbuat untuk mencegah kerugian yang lebih parah. Untuk itu seiring dengan perkembangan jaman telah muncul berbagai macam cara pencegahan hama yang sesuai dengan setiap jenis hama yang menyerang tanaman. Tetapi kemajuan teknologi itu tidak dapat dinikmati oleh setiap kalangan sehingga sampai sekarang masih bisa kita lihat pengendalian hama dengan cara lama dan dengan hasil yang kurang optimal pula. Seperti adanya pestisida fungi untuk pengendalian jamu, insektisida untuk mengendalikan serangga, rodentisida untuk mengendalikan tikus, dan masih banyak yang lainnya (anonim, 2009).
Kehadiran gulma sebagai organisme pengganggu tanaman (OPT) pada lahan pertanian dapat mengakibatkan terjadinya kompetisi atau persaingan dengan tanaman pokok (tanaman budidaya) dalam hal penyerapan unsur-unsur hara, penangkapan cahaya, penyerapan air dan ruang lingkup, mengotori kualitas produksi pertanian, misalnya pengotoran benih oleh biji-biji gulma, dapat mengeluarkan zat atau cairan yang bersifat toksin (racun) serta sebagai tempat hidup atau inang tempat berlindungnya hewan-hewan kecil, insekta dan hama sehingga memungkinkan hewan-hewan tersebut dapat berkembang biak dengan baik, mengganggu kelancaran pekerjaan para petani, sebagai perantara atau sumber hama dan penyakit, mengganggu kesehatan manusia, menaikkan ongkos-ongkos usaha pertanian dan menurunkan produktivitas air. (Anonim, 2009).
Dalam kurun waktu yang panjang, kerugian akibat gulma dapat lebih besar daripada kerugian akibat hama atau penyakit. Olehnya, untuk menangani masalah gulma, maka perlu dilakukan identifikasi gulma yang dimaksudkan untuk membantu para petani dalam usaha menentukan program pengendalian gulma secara terarah sehingga produksi dapat ditingkatkan sebagaimana yang diharapkan. Adapun pengendalian gulma dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya dengan cara preventif (pencegahan), secara fisik, pengendalian gulma dengan sistem budidaya, secara biologis, secara kimiawi dan secara terpadu (Anonim,2009).

2.       Tujuan Praktikum
Tujuan dilaksanakannya Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman adalah untuk mengenal organisme yang mengganggu tanaman, mengenal hama yang menyerang pada tanaman, mengetahui macam-macam gulma yang mengganggu tanaman. Dengan cara mengamati gulma dan hama yang telah disediakan kemudian digambar dan diberi keterangan.
3.       Metode Praktikum
3.1     Waktu dan Tempat 
Praktikum Dasar-dasar Perlindungan Tanaman mengenai Pengenalan Gulma dan Hama dilaksanakan di Perpustakaan, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Waktu pelaksanaannya pada hari Senin, tanggal 25 November 2013, Pukul 13.00 sampai selesai.
3.2     Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu alat tulis dan kertas quarto (A4) untuk menggambar. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu gulma dan hama yang di  bawa masing-masing mahasiswa. Antara lain :
Gulma :                                                        Hama :
Teki (Cyperus Flavidus)                              Belalang (Valanga Nigricornis)
Bayam Duri (Amarathus Spinosus)             Ulat Daun Pisang
Putri Malu (Mimosa Pudica)                       Bekicot (Acatina Fulica)
Alang-Alang (Imperata Cyidrica)               Lalat Rumah (Musca Domestica)
Bandotan (Agreratun Conzoides)               Jangkrik (Gryllusa similis)
                                                                     Walang Sangit
3.3     Cara Kerja
Pertama-tama menyiapkan alat dan bahan lalu mengamati dan mengidentifikasi jenis gulma dan hama tersebut, setelah itu, menggambar jenis gulma dan hama serta memberikan keterangan pada gambar.



ACARA II
PENGENALAN GEJALA SERANGAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN

1.       Pendahuluan
Penyakit tanaman merupakan suatu yang menyimpang dari keadaan normal dan dapat menyebabkan kerugian langsung pada tanaman. Tanaman dapat mati karena akar dan pangkal batangnya yang rusak karena adanya penyakit tanaman, maka kerusakan pada tanaman adalah di sebabkan karena adanya perubahan dan menurunya kuantitas dan kualitas pada tanaman.
Tanaman dapat menunjukan gejala perubahan bentuk, dan kelayuan pada tanaman, tanaman dapat menujukan kelompok gejala yang membentuk gambaan penyakit atau sidrom  penyakit yang di sebakan oleh penyebab abiotik dan biotik. Suatu tanaman dapat di katakana sehat atau normal, jika tanaman tersebut dapat menjalankan fungsi-fungsi fisiolgis dengan seperti perkembangan dan pembelah sel (Anonim, 2009).
Penyakit pada tumbuhan dapat di temukan dalam bentuk geja dan tanda, dan tanaman dapat berjangkit sejak tanaman dapat berubah benih, dan selama bibit tanaman tumbuh dilapangan hingga panen dan tempat penyimpanan pasca panen, sehingga dapat menimbulkan kerugian secara tidak langsung oleh masyarakat khusus pada petani (Setijo, 2001).
Penyakit pada tanaman disebabkan oleh patogen penyakit yaitu bakteri, dan virus yang kesemuanya disebut mikroorganisme lainnya.  Karena ukurannya sangat kecil dan halus maka tidak dapat dilihat dengan kasat mata maka digunakan mikroskop elektron (Anonim, 2009).

2.       Tujuan Praktikum
Tujuan dilaksanakannya Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman yaitu untuk mengenal macam-macam/gejala serangan yang organisme pengganggu tanaman, mengamati gejala pada organisme pengganggu tanaman, menggambarkan gejala pada organisme pengganggu tanaman. Kemudian digambar dan diberi keterangan.

3.       Metode Praktikum
3.1     Waktu dan Tempat 
Praktikum Dasar-dasar Perlindungan Tanaman mengenai pengenalan gejala penyakit pada tanaman dilaksanakan di Perpustakaan, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Waktu pelaksanaannya pada hari Senin, tanggal 25 November 2013, Pukul 13.00 sampai selesai.
3.2     Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu alat tulis dan kertas quarto (A4) untuk menggambar. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu preparat basah berupa bagian tanaman yang terserang organisme pengganggu tanaman. Preparat basah terdiri dari : daun jagung, buah cabai, daun bawang, akar tomat, jagung, ranting sengon, daun padi, pelepah daun padi.

3.3     Cara Kerja
Pertama-tama menyiapkan alat dan bahan, kemudian mengamati bagian tanaman yang terserang penyakit, lalu digambar dan memberikan keterangan pada gambar.

4.       Pembahasan
1.        PenyakitGosong
Nama penyakit       : Gosong
Patogen                   : Ustilago maydis
Tanaman inang       : Jagung
Jamur ustilago menyebabkan penyakit gosong sorus dalam bakal biji 9 - 13 x 5 - 9 mm, coklat kehitaman, bertepung. Spora terbungkus oleh gluma bunga yang keras, berwarna coklat, agak bulat atau jorong, dengan garis tengah 7 - 13 (9) m. Dinding luar spora mempunyai tonjolan-tonjolan yang jelas (Holliday,1980).
2.        Penyakit antraknosa pada cabai
Nama penyakit       : Antraknosa
Patogen                   : Gloes porium piperatum
Tanaman inang       : Cabai ( capsium annuum L )
G. piperatum menyerang tanaan cabe pada saat   buah masih berwarna hijau dan menyebabkan mati ujung (die back).  Ciri-ciri yang dapat dikenali akibat serangan cendawan ini adalah  buah yang terserang terlihat bintik-bintik kecil berwarna kehitaman dan berlekuk.  Bintik-bintik ini pada bagian tepi berwarna kuning, membesar dan memanjang.  Pada kondisi lembab, cendawan memiliki lingkaran memusat berwarna merah jambu.
Gejala serangan penyakit antraknosa atau patek pada buah ditandai buah busuk berwarna kuning-coklat seperti terkena sengatan matahari diikuti oleh busuk basah yang terkadang ada jelaganya berwarna hitam. Sedangkan pada biji dapat menimbulkan kegagalan berkecambah atau bila telah menjadi kecambah dapat menimbulkan rebah kecambah. Pada tanaman dewasa dapat menimbulkan mati pucuk, infeksi lanjut ke bagian lebih bawah yaitu daun dan batang yang menimbulkan busuk kering warna cokelat kehitam
Cara paling mudah dan sederhana untuk membedakan antara kedua mikroorganisme penyebab layu,yaitu dengan cara memotong secara melintang batang tanaman (tomat,cabe,atau kentang).  Batang tanaman yang layu, apabila dipotong melintang terdapat warna coklat kehitaman ,maka dugaan besar,tanaman terserang oleh cendawan/jamur Fusarium sp.
Fusarium sp. banyak ditemukan di dalam tanah dan jika ditumbuhkan pada media biakan akan membentuk tiga macam spora yaitu mikrokonidium, makrokonidium dan klamidospora. Mikrokonidium banyak dihasilkan dalam berbagai kondisi, bentuknya lonjong atau bulat bersel satu dan tidak berwarna, berukuran 6-15 μm x 2,5-4 μm. Makrokonidium lebih jarang ditemukan, bentuknya lurus atau bengkok seperti sabit, tidak berwarna, kebanyakan bersekat dua atau tiga, dan berukuran 25- 33 μm x 3,5-5,5 μm. Klamidospora dibentuk sebagai respon terhadap kondisi lingkungan yang tidak sesuai yang bertujuan mempertahankan kelangsungan hidup patogen. Klamidospora berukuran 7-11 μm, bersel satu atau dua, berdinding tebal dan dihasilkan di dalam makrokonidium atau miselium yang telah tua(Sastrahidayat,1990;Semangun,1991).
Metode pengendalian yang sering dilakukan oleh para petani yaitu penggunaan bahan pestisida sintetik yang melebihi dosis anjuran dan digunakan secara terus-menerus sehingga mengakibatkan akumulasi pestisida di tanah.


3.        Penyakit Trotol bercak ungu
Nama penyakit       : Trotol / bercak ungu
Patogen                   : Alternaria porri
Tanaman inang       : Bawang daun
Penyakit becak ungu atau trotol menyerang pada berbagai jenis bawang-bawangan , misal bawang daun, bawang merah, bawang putih dan bawang Bombay yang menyebabkan matinya daun-daun bawang. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Alternaria porri (Ell.) Cif. Gejala serangan, terjadinya becak kecil, melekuk, berwarna putih sampai kelabu. Jika membesar, becak tampak bercincin, dan warnanya agak keunguan. Tepinya agak kemerahan atau keunguan dan dikelilingi oleh zone berwarna kuning, yang dapat meluas agak jauh di atas atau dibawah becak. Pada cuaca lembab permukaan becak berwarna coklat sampai hitam.
Ujung daun yang sakit mengering, becak lebih banyak pada daun tua. Bisa menginfeksi sampai umbi lapis yang mengalami pembusukan mulai leher, dan mudah dikenali dari warnanya kuning sampai merah kecoklatan. Daur Penyakit; pathogen bertahan dari musim ke musim pada sisa-sisa tanaman sebagai konidium. Konidium disebarkan oleh angin pada malam hari dan infeksi terjadi melalui mulut kulit dan melalui luka-luka.
4.        Pada akar tomat
Nama penyakit       : Puru akar
Patogen                   : Meloidogyne Sp.
Tanaman inang       : Tomat ( Lyco persicon esculentum L )
Menurut Bird (1972) akibat serangan nematodo puru akar fungsi alamiah sel tanaman akan terganggu. Sebagai contoh menurunnya laju fotosíntesis, pertumbuhan dan juga produksi. Hal ini diduga bahwa nematoda ini mempengaruhi fisiologi tanaman dengan mengganggu síntesis dan translokasi hormon pertumbuhan yang diproduksi oleh akar.
Apabila sistem perakaran terserang respirasi pada tanaman menigkat,absorbsi oksigen lebih cepat atau seimbang dengan tumbuhan.
5.        Karat padatanamanJagung
Nama penyakit       : Karat
Patogen                   : Puccinia Sorghi
Tanaman inang       : Jagung
Karat (rust) pada jagung tersebar luas di semua negara yang menanam jagung. Di Indonesia penyakit ini sudah ditulis oleh Racibor ski pada tahun 1990. Pada waktu itu karat  salah satu dari ketiga penyakit penting pada buncis, yaitu antraknosa, bercak daun bersudut, dan karat (Suhardi,1980b).
Gejala penyak itu timbul pada daun sebagai bercak kecil, berwarna putih, agak terangkat (menonjol).  Pada jenis ini sangat rentan bercak dapat mebesar sampai bergaris tengah 2 mm,  mempunyai massa berwarna coklat bertepung. Bercak dapat mempunyai halo berawana kekuningan.
Sering kelak bercak ini dikelilingi oleh satu cincin coklat tambahan. Masssa berwarna coklat tapi dapat segera menjadi coklat tua gelap, yang disebabkan karena perkembangan jamur pengembangan jamur penyebab penyakitnya. Penyakit jarang timbul di batang dan tangkai daun yang sehat serta jaringan xilem menjadi kerdil, sehingga pengambilan air dan nutrisi dari dalam tanah terhambat, akibatnya terjadi kekurangan unsur hara maupun air. Gejala akan tampak pada daun atau bagian lain dari pada tumbuhan (Bird,1972).
Faktor yang mempengaruhi penyakit; tanaman tidak dipupuk secara berimbang, penyiraman kurang dan musim kemarau riskan dengan gangguan penyakit. Pemupukan dengan urea pada musim hujan akan meningkatkan serangan penyakit. Pengendalian; drainase yang baik, rotasi tanaman, pemupukan berimbang misal penyemprotan POC NASA dan HORMONIK, sebagai pencegahan sebelum tanam pakai Natural GLIO, penyemprotan fungisida tembaga dan zineb dianjurkan jika populasi diatas ambang ekonomi dan lebih bagus ditambah perekat-perata-pembasah AERO 810 agar dapat membasahi daun bawang yang berlilin.
6.        Pada pelepah daun padi
Nama penyakit       : Hawar pelepah daun
Patogen                   :  Rhizotonia solani
Tanaman inang       :  Padi ( oriza sativa L )
Gejala dari penyakit bercak pelepah daun pada tanaman padi adalah adanya bercak pada seludang/pelepah daun dan jika kondisi menguntungkan bagi perkembangan bakteri bercak bisa menyerang pada helaian daun. Gejala awal biasanya terbentuknya bercak pada pelepah yang berdekatan dengan air berbentuk lonjong berwarna kelabu kehijau-hijauan kemudian menjadi putih kelabu dengan pinggiran cokelat. Ukuran bercak dapat mencapai panjang 2-3cm.Batas tepi  bercak dan variasi warna memberikan warna yang jelas pada bagian tanaman yang terinfeksi. Jika kondisinya lembab sekali pelepah tersebut dapat busuk sehingga penyakit dapat disebut dengan busuk upih. Biasanya gumpalan benang jamur (miselium) dapat dijumpai pada pelepah yang terinfeksi. Gejala biasanya nyata selama masa pembungaan atau pada fase pemasakan. Infeksi berat dapat menyebabkan bulir tidak terisi dengan sempurna.
Penyakit bercak pelepah daun pada tanaman disebabkan oleh jamur Rhizoctonia Solani dan Rhizoctonia oryzae. Jamur ini dapat bertahan dalam tanah dan sisa tanaman dalam bentuk benang-benang (miselium) atau gumpalan yang keras (skletoria). Jamur ini dapat berkembang cepat pada kondisi yang lembab misalnya di bawah rumpun padi yang rapat. Kecepatan perkembangan penyakit juga akan bertambah ketika urea diberikan secara berlebihan. Sinar matahari dapat menekan infeksi yang disebabkan oleh jamur ini.
7.        Pada Ranting sengon
Nama penyakit       : Karat atau kanker ranting sengon
Patogen                   :  Uromycladium tepperianum
Tanaman inang       : Sengon
Penyakit karat tumor/karat puru yang menyerang tanaman sengon  adalah jamur Uromycladium tepperianum. Jamur ini dikenal sebagai jamur karat yang menyerang lebih dari seratus spesies Acaccia, jenis-jenis Paraserianthes/Albizia spp, Racosperma spp. (ketiganya merupakan anggota famili Fabaceae  ( =Leguminosae ) menyebabkan pembentukan (gall) yang menyolok pada dedaunan dan ranting pohon. Setiap gall karat tumor/karat puru dapat melepaskan ratusan sampai ribuan spora yang dapat menularkan ke pohon-pohon sekitarnya dengan cepat melalui bantuan angin. Ukuran, bentuk , dan warna gall bervariasi tergantung bagian tanaman yang terserang dan umur gall. Warna gall pada awalnya hijau kemudian berubah menjadi coklat. Warna coklat indikasi bahwa spora-spora yang melimpah siap dilepaskan/terbang.
Penyakit  karat tumor/karat puru (gall rust), merupakan salah satu penyakit yang berbahaya pada tanaman sengon laut Paraserianthes falcataria. Dampak penyakit meluas pada semai  sampai  tanaman sengon dewasa, mulai dari menghambat pertumbuhan sampai mematikan tanaman sengon.
·         Gejala Serangan
Serangan karat tumor/karat puru  pada pohon sengon ditandai dengan terjadinya pembengkakan (gall) pada ranting/cabang, pucuk-pucuk ranting, tangkai daun dan helai daun. Gall ini merupakan tubuh buah dari jamur.  Penyakit karat tumor/karat puru dapat menjadi persoalan yang serius dalam pengelolaan tanaman sengon. Penyebaran penyakit ini sangat cepat, dengan menyerang tanaman sengon mulai dari persemaian sampai lapangan dan pada semua tingkatan umur. Kerusakan serius bila serangan terjadi pada tanaman sengon yang masih muda (umu r1-2 tahun), karena titik-titik serangan (gall) bisa terjadi di batang pokok/utama sehingga batang pokok/utama rusak/cacat, tidak dapat menghasilkan pohon sengon yang berkualitas.
8.        Pada daun padi
Nama penyakit       : Bercak daun garis coklat
Patogen                   : Cercospora (Narrow brown Leaf Spot)
Tanaman inang       : Padi ( Oriza sativa L )
Bercak Cercospora (Narrow brown Leaf Spot) Penyakit ini menimbulkan kerugian sampai 40%. Penyebab penyakit adalah jamur Cercospora oryzae. Penyakit menghasilkan gejala bercak-bercak lurus sempit memanjang berwarna cokelat kemerahan sejajar dengan ibu tulang daun pada helaian daun bendera, pada fase tumbuh - pemasakan. Banyaknya bercak meningkat pada waktu tanaman membentuk anakan. Gejala juga dapat terjadi pada pelepah dan kulit gabah.



ACARA III
PENGENALAN PESTISIDA

1.       Pendahuluan
Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, memikat, atau membasmi organisme pengganggu. Nama ini berasal dari pest ("hama") yang diberi akhiran -cide ("pembasmi"). Sasarannya bermacam-macam, seperti serangga, tikus, gulma, burung, mamalia, ikan, atau mikrobia yang dianggap mengganggu. Pestisida biasanya, tapi tak selalu, beracun. Dalam bahasa sehari-hari, pestisida seringkali disebut sebagai "racun".
Tergantung dari sasarannya, pestisida dapat berupa :
a.       Insektisida (serangga)
b.      Fungisida (fungi/jamur)
c.       Rodentisida (hewan pengerat/Rodentia)
d.      Herbisida (gulma)
e.       Akarisida (tungau)
f.       Bakterisida (bakteri)
Penggunaan pestisida tanpa mengikuti aturan yang diberikan membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan, serta juga dapat merusak ekosistem. Dengan adanya pestisida ini, produksi pertanian meningkat dan kesejahteraan petani juga semakin baik. Karena pestisida tersebut racun yang dapat saja membunuh organisme berguna bahkan nyawa pengguna juga bisa terancam bila penggunaannya tidak sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Menurut depkes riau kejadian keracunan tidak bisa di tanggulangi lagi sebab para petani sebagian besar menggunakan pestisida kimia yang sangat buruk bagi kesehatan mereka lebih memilih pestisida kimia dari pada pestisida botani ( buatan ) kejadian keracunan pun sangat meningkat di provinsi tersebut. Menurut data kesehatan pekan baru tahun 2007 ada 446 orang meninggal akibat keracunan pestisida setiap tahunnya. Sekitar 30% mangalami gejala keracunan saat menggunakan pestisida. Karena petani kurang tahu cara menggunakan pestisida secara efektif dan penggunaan pestisida secara berlebihan. Berdasarkan hasil penilitian Ir. La Ode Arief M. Rur.SC. Dari sumatra barat tahun 2005 mengatakan penyebab keracunan pestisida di riau akibat kurang pengetahuan petani dalam penggunaan pestisida secara efektif dan tidak menggunakan alat pelindung diri saat pemajanan pestisida,hasilnya dari 2300 responden yang peda dasarnya para petani hanya 20% petani yang menggunakan APD ( alat pelindung diri ), 60% patani tidak tau cara menggunakan pestisida secara efektif dan mereka mengatakan setelah manggunakan pestisida timbul gejala pada tubuh ( mual,sakit tenggorokan, gatal - gatal, pandangan kabur, Dll.) Dan sekitar 20% petani tersebut tidak tahu sama sekali tentang bahaya pestisida terhadap kesehatan,begitu tutur Ir. La Ode Arief M. Rur.SC. Beliau juga mengatakan semakin rendah tingkat pendidikan petani semakin besar risiko terjangkit penyakit akibat pestisida.

2.       Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum ini adalah :
1.      Mengenal berbagai macam pestisida
2.      Mengenal beberapa pestisida



3.       Metode Praktikum
3.1     Waktu dan Tempat 
Praktikum Dasar-dasar Perlindungan Tanaman mengenai pengenalan pestisida dilaksanakan di Perpustakaan, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Waktu pelaksanaannya pada hari Senin, tanggal 2 Desember 2013, Pukul 13.00 sampai selesai.
3.2     Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu alat tulis dan kertas. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu beberapa macam pestisida berupa herbisida, fungisida, dan insectisida.
3.3     Cara Kerja
Menyiapkan alat dan bahan lalu mengamati satu persatu pestisida kemudian mencatat nama dagang, nama perusahaan, bahan aktif, bentuk pestisida, warna, sifat serangan, fungsi, dan konsentrasi dosis.

4.       Pembahasan
A.      Fungisida
Fungisida adalah zat kimia yang digunakan untuk mengendalikan cendawan(fungi/jamur) Fungisida umumnya di bagi menurut cara kerjanya didalam tubuh tanaman sasaran yang diaplikasi, yakni fungisida nonsistemik, sistemik, dan sistemik lokal. Pada fungisida, terutama fungisida sistemik dan nonsistemik, pembagian ini erat hubungannya dengan sifat dan aktifitas fungisida terhadap jasad sasarannya. Berhubung yang di amati hanya fungisida non sistemik dan fungisida sistemik saja, maka yang dibahas hanya fungisida nonsistemik dan fungisida sistemik.
a.       Fungisida nonsistemik (Fungisida Kontak, fungisida Residual Protektif)
Fungisida ini berfungsi mencegah infeksi cendawan dengan menghambat perkecambahan spora atau miselia jamur yang menempel di permukaan (daun) tanaman. Karena itu, fungisida kontak berfungsi sebagai protektan dan hanya efektif bila digunakan sebelum tanaman terinfeksi oleh penyakit (protektif, preventif).
b.      Fungisida sistemik
Fungisida sistemik diabsorbsi oleh organ-organ tanaman dan ditranslokasikan ke bagian tanaman lainnya lewat aliran cairan tanaman. Kebanyakan fungisida sistemik didistribusikan ke atas, yakni dari akar ke daun (akropetal). Beberapa fungisida sistemik juga dapat bergerak ke bawah, yakni dari daun ke akar (basipetal). Contoh fungisida sistemik adalah benomil, difenokonazol, karbendazim, metalaksil, propikonazol, dan triadimefon.
B.       Herbisida
Berasal dari kata latin herba yang berarti tanaman setahun. Herbisida adalah pestisida yang digunakan untuk mengendalikan gulma atau tumbuhan pengganggu yang tidak dikehendaki. Karena herbisida aktif terhadap tumbuhan, maka herbisida bersifat fitotoksik.
Herbisida yang aktif pada gulma yang sudah tumbuh. Herbisida jenis ini dapat dibagi menjadi dua kelompok sebagai berikut :
a.       Herbisida kontak, yakni herbisida yang membunuh jaringan gulma yang terkena langsung oleh herbisida tersebut.. Contohnya herbisida kontak adalah propanil, paraquat, dan diquat.
b.      Herbisida yang ditranslokasikan keseluruh bagian gulma (sistemik). Yang disebut pula sebagai translocated herbicides. Karena sifatnya yang sistemik, herbisida ini mampu membunuh jaringan gulma yang ada di bawah tanah (rimpang, umbi). Contoh herbisida ini adalah 2,4-D, glifosat.
C.       Insektisida
Berasal dari kata latin insectum yang berarti potongan, keratan atau segmen tubuh. Menurut “cara kerja” atau gerakannya pada tanaman setelah diaplikasikan, insektisida secara kasar dibedakan menjadi tiga macam sebagai berikut :
a.       Insektisida sistemik
Insektisida sistemik diserp oleh organ-organ tanaman, baik lewat akar, batang atau daun. Selanjutnya, insektisida sistemik tersebut mengikuti gerakan cairan tanaman dan ditrasportasikan ke bagian-bagian tanaman lainnya, baik ke atas (akropetal) atau ke bawah (basipetal), termasuk ke tunas yan baru tumbuh. Contoh insektisida sistemik adalah furatiokarb, fosfamidon, isolan, karbofuran, dan monokrotofos.
b.      Insektisida nonsistemik
Insektisida nonsistemik setelah diaplikasikan (misalnya disemprotkan) pada tanaman sasaran tidak diserap oleh jaringan tanaman, tetapi hanya menempel di bagian luar tanaman. Contoh insektisida adalah dioksikarb, diazinon, diklorvos, profenofos, dan quinalfos.
Menurut cara masuk insektisida ke dalam tubuh serangga sasaran dibedakan menjadi tigakelompok insektisida sebagai berikut:
a.       Racun lambung (racun perut, stomach poison)
Adalah insektisida-insektisida yang membunuh serangga sasaran bila insektisida tersebut masuk ke dalam organ pencernaan serangga dan diserap oleh dinding saluran pencernaan. Selanjutnya, insektisida tersebut dibawa oleh cairan tubuh serangga ke tempat sasaran yang mematikan (misalnya ke susunan syaraf serangga). Oleh karena itu, serangga harus terlebih dahulu memakan tanaman yang sudah disemprot dengan insektisida dalam jumlah yang cukup untuk membunuhnya.
b.      Racun kontak
Racun kontak adalah insektisida yang masuk ke dalam tubuh serangga lewat kulit (bersinggungan langsung). Serangga hama akan mati bila bersinggungan (kontak langsung) dengan insektisida tersebut.
c.       Racun pernapasan
Adalah insektisida yang bekerja lewat saluran pernapasan. Serangga hama akan mati bila menghirup insektisida dalam jumlah yang cukup.



ACARA IV
PENGENALAN ALAT-ALAT PENGENDALIAN OPT

1.       Pendahuluan
Sprayer adalah salah satu dari penggunaan mesin secara umum untuk bahan kimia cair untuk pengendalian gulma dan serangga. Pupuk cair juga dapatmenggunakan sprayer. Tipe dari penyemprotan pertanian digolongkanberdasarkan tujuan pemakaian, penggunaan bahan kimia, dan tekanan darisprayer (Jacobs,1983).
Alat penyemprot (Sprayer) digunakan untuk mengaplikasikan sejumlahtertentu bahan kimia aktif pemberantas hama penyakit yang terlarut dalam air keobjek semprot (daun, tangkai, buah) dan sasaran semprot (hama-penyakit). Efesiensi dan efektivitas alat semprot ini ditentukan oleh kualitas dan kuantitasbahan aktif tersebut yang terkandung di dalam setiap butiran larutan tersemprot (droplet) yang melekat pada objek dan sasaran semprot (Kastaman, dkk, 2002).
Sprayer digunakan untuk :
a.       Menyemprotkan insektisida untuk mencegah dan memberantas hama.
b.      Menyemprotkan fungisida untuk mencegah dan memberantas penyakit.
c.       Menyemprotkan herbisida untuk mencegah dan memberantas gulma. Menyemprotkan pupuk cairan.
d.      Menyemprotkan cairan hormon pada tanaman untuk tujuan tertentu
Prinsip kerja alat penyemprot handsprayer adalah memecah cairan menjadi butiran partikel halus yang menyerupai kabut. Dengan bentuk dan ukuran yang halus, maka pemakaian pestisida akan efektif dan merata keseluruh permukaan daun atau tajuk tanaman. Untuk memperoleh butiran halus, biasanya dilakukan dengan menggunakan proses pembentukan partikel denganmenggunakan tekanan (hydraulic atomization), yakni cairan di dalam tangki dipompa sehingga mempunyai tekanan yang tinggi, dan akhirnya mengalir melalui selang karet menuju ke alat pengabut. Cairan dengan tekanan tinggi mengalir melalui celah yang sempit dari alat pengabut, sehingga cairan akanpecah menjadi partikel-partikel yang sangat halus. (Anonim 1. 2010).

Faktor–faktor yang mempengaruhi efektifitas penggunaan sprayer yakni faktor yang berasal dari peralatan sendiri, yaitu lebar nozzle, tekanan, bentuk nozzle. Faktor yang ditentukan oleh cairannya adalah viskositas, harga kerapatan cairan, dan tegangan muka sangat mempengaruhi bentuk ukuran butiran maupunpenyebaran butirannya. (Ciptohadijoyo,2003).
Penyemprot tekanan tinggi untuk tanaman pertanian adalah Type Gendong atau Knapsack merek Zenoah dirancang untuk dapat menyelesaikan Penyemprotan tanaman dengan cepat dan efisien, Power Sprayers Dusters/Mistersini banyak digunakan pada Lahan Pertanian dan Perkebunan yang luas dan tersebar. Power Sprayers Zenoah asal Jepang ini adalah Power Sprayers yang handal dan mempunyai performa tinggi, sangat ringan dan Nyaman untuk digendong sehingga menghasilkan penyemprotan tanaman yang merata,(Anonim2.2010).
Ditinjau dari sumber daya penggeraknya, sprayer dibedakan menjadi dua,yaitu sprayer yang digerakkan dengan sumber daya penggerak manusia dansprayer yang digerakkan dengan daya penggerak motor (Ciptohadijoyo, 1998).

2.       Tujuan Praktikum
Praktikum bertujuan untuk :
1.      Mengetahui alat-alat pengendalian organisme pengganggu tanaman.
2.      Mengetahui cara pemakaian alat-alat pengendalian organisme pengganggu tanaman.

3.       Metode Praktikum
3.1     Waktu dan Tempat 
Praktikum Dasar-dasar Perlindungan Tanaman mengenai pengenalan alat-alat pengendalian organisme pengganggu tanaman dilaksanakan di Perpustakaan, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Waktu pelaksanaannya pada hari Senin, tanggal 2 Desember 2013, Pukul 13.00 sampai selesai.
3.2     Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu alat tulis dan kertas. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yakni contoh alat pengendali organisme pengganggu tanaman berupa knapsack sprayer dan hand sprayer.
3.3     Cara Kerja
Pertama-tama menyiapkan alat dan bahan lalu mengamati bagian-bagian alat pengendali organisme pengganggu tanaman kemudian digambar satu persatu dan diberi keterangan.



4.       Pembahasan
Sprayer
Alat penyemprot punggung semi otomatis, sering di gunakan oleh petani. Tangki terbuat dari bahan tahan karat, umumnya terbuat dri fiber glass atau plastik. Unit pompa menyatu dengan tangki. Diluar tangki terdapat selang semprot, dan di ujung tangkai semprot terdapat nozel. Pada saat menyemprot, alat ini di gendong di punggung sambil berjalan. Operator alat ini harus secara teratur menggerakkan handel pompa, karena tekanan yang dihasilkan pompa tidak dapat bertahan lama. Pompa pada alat ini umumnya bertipe piston yang dilengkapi tabung udara untuk menyimpan tekanan, sehingga handel pompa tidak perlu digerakkan terlalu sering seperti pada pengoprasian sprayer tangan. Dengan demikian beberapa kali menekan handel pompa cukup untuk mempertahankan tekanan untuk beberapa menit. Handel pompa harus digerakkan lagi jika hasil semprotan membentuk butiran yang lebih besar dengan jarak semprot yang lebih pendek. Selama penyemprotan operator harus mengguncang-guncangkan tangkinya selama penyemprotan.


ACARA V
MENGAMATI INTENSITAS ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN

1.       Pendahuluan
Kumbang kelapa Orycthes rhinocheros L (coleoptera scarabidae), sudah umum dikenal oleh petani kelapa dan tersebar pada seluruh pertanaman kelapa di indonesia. Kumbang dewasa biasanya terbang ke tajuk kelapa pada malam hari, dan masuk melalui salah satu ketiak pada bagian atas tajuk. Pada dasarnya ketiak pelepah ketiga,empat atau lima dari pucuk merupakan tempat masuk yang paling disukai. Jika tanaman kelapa baru berumur satu tahun atau kurang, maka titik masuk mungkin pada pangkal batang dipermukaan tanah. Setelah kumbang menggerek ke batang tanaman, kumbang akan memakan pelepah daun muda yang sedang berkembang.
Karena kumbang memakan daun yang masih terlipat, maka bekas gigitan akan menyebabkan daun seperti tergunting dan jelas terlihat setelah pelepah daun terbuka. Kerusakan yang ditimbulkan pada tanaman kelapa terjadi pada pelepah daun muda.informasi ini menunjukkan bahwa hama oryctes merupakan salah satu hama yang berbahaya pada tanaman kelapa.
Kumbang betina meletakkan telur pada tumpukan bahan organik lapuk sesudah telur menetas, larva akan mengkonsumsi bahan organik lapuk tersebut dan berkembang sampai menjadi dewasa. Banyak jenis tumpukan bahan organik yang dapat dijadikan sebagai tempat bertelur dan berkembang biak  oryctes rhinocheros.





2.       Tujuan Praktikum
Praktikum bertujuan untuk :
1.        Mengamati intensitas organisme pengganggu tanaman pada tanaman kelapa.
2.        Menghitung intensitas serangan hama pada tanaman kelapa.

3.       Metode Praktikum
3.1     Waktu dan Tempat 
Praktikum Dasar-dasar Perlindungan Tanaman mengenai pengamatan intensitas organisme pengganggu tanaman pada tanaman kelapa dilaksanakan di sekitar Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Waktu pelaksanaannya pada hari Rabu, tanggal 4 Desember 2013, Pukul 13.00 sampai selesai.
3.2     Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu alat tulis dan kertas, bahan yang digunakan adalah 30 pohon kelapa.
3.3     Cara Kerja
Pertama-tama menyiapkan alat tulis, kemudian mencari pohon yang terkena serangan hama oryctes rhinocheros, lalu mengamati pohon kelapa yang terkena serangan hama. Selanjutnya menghitung jumlah seluruh daun dan jumlah daun yang sakit kemudian mencatat hasil pengamatan.




4.       Hasil Pengamatan
Intensitas Serangan Hama Pada Tanaman Kelapa
No.
Jumlah daun total
Jumlah daun sakit
Presetase daun yang sakit
Harga numerik
1
29
20
68,9
7
2
16
11
68,7
7
3
18
8
44,4
5
4
15
7
46,6
5
5
17
9
52,9
6
6
25
14
56
6
7
23
12
52,1
6
8
19
9
47,3
5
9
30
18
60
6
10
14
8
57,1
6
11
22
13
59,09
6
12
27
21
77,7
8
13
13
9
69,2
7
14
15
7
46,6
5
15
17
11
64,7
7
16
21
14
66,6
7
17
18
10
55,5
6
18
26
19
73,07
8
19
19
13
68,4
7
20
20
15
75
8
21
15
11
73,3
8
22
22
16
72,7
8
23
29
22
75,8
8
24
25
18
72
8
25
31
24
77,4
8
26
17
14
82,3
9
27
15
4
26,6
3
28
21
13
61,9
7
29
22
9
40,9
5
30
19
10
52,6
6

Intensitas serangan hama
I=   (n x v)   × 100 %
       N x Z
I= ∑ (3x1) + (5x5) + (6x8) + (7x7) + (8x8) + (9x1)         x 100 %
                                       30 x 10
I = 3 + 25 + 48 + 49 + 64 + 9   x 100 %
                        300
I = 198   x 100 %
       300
I = 66 %

Jadi, intensitas serangan hama pada ke-30 sampel tanaman kelapa tersebut adalah 66 %.

5.       Pembahasan
Praktikum ini dilakukan dalam bentuk survey di sekitar kampus, yaitu di kebun-kebun atau di pekarangan rumah penduduk sekitar kampus. Hal-hal yang diamati adalah kondisi pertanaman kelapa, kerusakan daun kelapa yakni mengamati guntingan-guntingan pada pelepah daun kelapa. Areal pertanaman kelapa dilokasi pengamatan umumnya ditanam di pekarangan rumah. Pemeliharaan tanaman kurang diperhatikan oleh petani karena adanya masalah oryctes. Berdasarkan hasil suryey, terlihat bahwa hama oryctes merupakan hama yang berbahaya. Kerusakan daun yang ditimbulkan hama ini belum terlalu parah.
Peningkatan populasi hama ini ditunjang oleh banyaknya tempat berkembang biak yang tersedia terutama pada batang kelapa mati dan lapuk dan kotoran-kotoran hewan yang telah melapuk.Berdasarkan hasil pengamatan dan jumlah intensitas serangan tersebut adalah sebesar 44,6%. Terdapat hubungan yang signifikan antara jumlah guntingan, produksi kelapa dan populasi kumbang. Makin tinggi tingkat kerusakan daun, akan mengakibatkan penurunan tingkat produksi yang tinggi pula. Hal ini disebabkan karena kerusakan daun dapat melemahkan tanaman sehingga mengurangi produksi kelapa.
Kumbang yang menyerang pucuk pohon dan pangkal daun muda pda tanaman kelapa, yaitu kumbang nyiur (Oryctes Rhinoceros). Kumbang nyiur ini juga sering dijuluki dengan nama kumbang badak karena memiliki semacam tonjolan seperti cula badak. Biasanya kumbang dewasa berterbangan di senja hari. Siklus hidupnya berlangsung selama 10 bulan. Telur, larva, dankepompong dilalui di dalam tanah, terutama di antara tumpukan sampah, serbuk gergaji, atau pupuk kandang.
a.    Gejala serangan
Pada serangan ringan tampak daun seperti terpotong membentuk segitiga. Bekas serangannya akan membusuk karena air hujan sehingga menjadi media perkembangan cendawan. Pada serangan berat tampak banyak daun berbentuk segitiga. Bila titik tumbuh diserang, tanaman bisa mati atau cacat.
b.    Pengendalian
Untuk pengendalian hama ini, cendawan Beauveria bassiana (balsamo) Vuillemin pun dapat digunakan. Cara penggunaannya sama seperti pada pengendalian kumbang brontispa. Cendawan lain adalah Metarrhizium anisopliae. Selain dengan cendawan, hama ini dapat dikendalikan dengan virus Rhabdionvirus dan Baculovirus. Cendawan dan virus dapat diperoleh di dinas perkebunan setempat.
Oleh karena kumbang ini berkembang pada timbunan sampah maka upaya pengendaliannya bisa dengan tetap menjaga sanitasi kebun atau menanam tenaman sela maupun tanaman penutup tanah.
Jenis hama yang menyerang daun pada tanaman kelapa :
a.       Hama Perusak Pucuk
1.      Kumbang nyiur (Oryctes Rhinoceros)
Ciri :                    bentuk kumbang dengan ukuran 20-40 mm warna hitam dengan bentuk cula pada kepala
Gejala :                (1) hama ini merusak tanaman yang berumur 1-2 tahun; (2) tanaman berumur 0-1 tahun, lubang pada pangkal batang dapat menimbulkan kematian titik tumbuh atau terpuntirnya pelepah daun yang dirusak; (3) pada tanaman dewasa terjadi lubang pada pelepah termuda yang belum terbuka; (4) ciri khas yang ditimbulkan yaitu janur seperti digunting berbentuk segi tiga; (5) stadium yang berbahaya adalah stadium imago (dewasa) yang berupa kumbang.
Pengendalian :     (1) sanitasi kebun terhadap sisa-sisa tebangan batang kelapa; (2) menggunakan virus Bacullovirus oryctes dan Mettarrizium arrisophiae; (3) memberikan carbofura (furadan 3G) atau carbaryl (sevin 5G) 10/pohon dengan interval 2 bulan sekali.
2.      Kumbang sagu (Rhynchophorus ferruginous)
Ciri :                    imago, berbentuk kumbang dengan masa perkembangan 11-18 hari. Ciri khas nya adalah tinggal di kokon sampai keras.
Gejala :                merusak akar tanaman muda, batang dan tajuk, pada tanaman dewasa merusak tajuk, gerekan pada pucuk menyebabkan patah pucuk, liang gerekan keluar lendir berwarna merah coklat.
Pengendalian :     (1) hindari perlukaan, bila luka dilumuri ter; (2) potong dan bakar tanaman yang terserang; (3) sanitasi kebun; (4) secara kemis dengan insektisida Thiodan 35 EC 2-3 cc/liter larutan, Basudin 10 G dan sevin 85 SP pada luka dan diperkirakan ada serangan Kumbang sagu;
b.      Hama Perusak Daun
1.      Sexava sp
Ciri :                    belalang sempurna dengan ukuran 70-90 mm, berwarna hijau kadang-kadang coklat. Masa perkembangan 40 hari.
Gejala :                (1) merusak daun tua dan dalam keadaan terpaksa juga merusak daun muda, kulit buah dan bunga-bunga; (2) merajalela pada musim kemarau; (3) pada serangan yang hebat daun kelapa tinggal lidi-lidinya saja.
Pengendalian :     (1) cara mekanis: menghancurkan telur dan nimfanya, menangkap belalang (di Sumatera dengan perekat dicampur Agrocide, Lidane atau HCH, yang dipasang sekeliling batang) untuk menghalangi betina bertelur di pangkal batang dan menangkap nimfa yang akan naik ke pohon; (2) cara kultur teknis: menanam tanaman penutup tanah (LCC), misalnya Centrosema sp., Calopogonium sp., dan sebagainya; (3) cara kemis: menyrmprot dengan salah satu atau lebih insektisida, seperti BHC atau Endrin 19,2 EC 2cc/liter air, menyemprotkan disekitar pangkal batang sampai tinggi 1 meter, tanah sekitar pangkal batang diameter 1,5 m 6 liter/pohon. Insektisida lain yang dapat digunakan: Sumithion 50 EC, Surecide 25 EC, Basudin 90 SC atau Elsan 50 EC; (4) cara biologis: menggunakan parasit Leefmansia bicolor tapi hasilnya belum memuaskan.

2.      Kutu Aspidiotus sp
Ciri :                    kutu berperisai, jantan bersayap dengan ukuran 1,5-2 betina, jantan 0,5 mm. Imago jantan berwarna merah/merah jambu dan betina berwarna kuning sampai merah.
Gejala :                (1) bercak-bercak kuning pada permukaan bagian bawah daun; (2) pada serangan berat daun berwarna merah keabu-abuan, tidak berkembang (tetap kecil), tidak tegak, kemudian tajuknya terkulai dan mati; (3) akibat serangan dalam waktu 2-5 tahun tidak mau berbuah.
Pengendalian :     menggunakan musuh alami yaitu predator Cryptognatha nodiceps Marshall atau parasit Comperiella unifasciata Ishii.
3.      Parasa lepida
Ciri :                    kupu-kupu berentang sayap 32-38 mm berwarna kuning emas muda, masa pertumbuhan ± 375 hari.
Gejala :                memakan anak-anak daun sebelah bawah setempat-setempat, tetapi tidak sampai tembus, meninggalkan bekas ketaman/gigitan yang melebar sehingga tinggal urat-uratnya serta jaringan daun atas, ulat yang tua merusak daun dari pinggir ke tengah sampai lidinya, serangan hebat tinggal lidinya dan nampak gundul.
Pengendalian :     (1) menggunakan musuh alami parasit ulat Apanteles parasae; (2) kepompong dapat menggunakn lalat parasit Chaetexorista javana; (3) perogolan pohon yang terserang pada masa stadium ulat atau dengan mengumpulkan kepompongnya; (4) penyemprotan dengan insektisida Dimecron 50 EC. Suprecide 10 atau menyuntik batang dengan Ambush 2 EC 2-3 cc/liter air pada stadium larva konsentrasi.
4.      Darna sp
Ciri :                    imago berbentuk kupu-kupu dengan rentang sayap 14-20 mm. Masa pertumbuhan 30-90 hari.
Gejala :                (1) pada musim kering, Meninggalkan bekas gigitan tidak teratur pada daun tua, pelepah daun terbawah terkulai; (2) daun-daun yang rusak hebat menjadi merah-sauh, kecuali pucuknya dan beberapa daun yang termuda; (3) tandan-tandan buah dan daun sebelah bawah terkulai bagaikan layu terutama kalau kering dan akhirnya bergantung kebawah di sisi batangnya. (4) buahnya gugur; (5) daun-daun mudak duduk seperti biasa, tetapi kadang-kadang mulai merah sauh. Hanya pucuknya dan daun-daun yang masih muda sekali yang utuh.
Pengendalian :     (1) mengadakan pronggolan daun dan kemudian membakarnya; (2) menggunakan parasit musuhnya yaitu parasit kepompong Chaetexorista javana, Ptycnomyaremota, Musca conducens; atau tabuhan-tabuhan parasit Chrysis dan Syntomosphyrum; (3) menyuntikkan pestisida Ambush 2 EC 2-3 cc/liter air atau penyemprotan pada stadium larva. Atau insektisida Agrothion 50 EC dengan konsentrasi 0,2-0.4%, Basudin 60 EC dengan konsentrasi 0,3%.
5.      Ulat Artona (Artona catoxantha)
Gejala :                (1) pada helaian daun terjadi kerusakan dengan adanya lubang seperti jendela kecil; (2) jika serangan berat, tajuk tanaman kelapa nampak layu dan seperti terbakar; (3) pada bagian bawah anak daun terlihat beberapa /bekas serangan menyerupai tangga, dengan tulang daun arahnya melintang seperti anak tangga; (4) stadium berbahaya adalah larva.
Pengendalian :     (1) jika setiap dua pelepah terdapat 5 atau lebih stadium hidup maka perlu dilakukan penangkasan semua daun, dan ditinggalkan hanya 3-4 lembar daun termuda; (2) menggunakan tawon kemit (Apanteles artonae) yang merusak ulat atau Ptircnomya dan Cardusia leefmansi; (3) menggunakan insektisida Ambush 2 EC 5 gram/hektar melalui suntikan batang ataupun penyemprotan pada stadium larva.
DAFTAR PUSTAKA

JoomlArt.com
Wordpress.com


LAMPIRAN