BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Bawang merah (Allium cepa L. Kelompok Aggregatum) adalah sejenis tanaman yang
menjadi bumbu berbagai masakan Asia Tenggara dan dunia. Orang Jawa mengenalnya
sebagai brambang. Bagian yang paling banyak dimanfaatkan adalah umbi, meskipun beberapa tradisi kuliner
juga menggunakan daun serta tangkai bunganya sebagai bumbu penyedap masakan.
Tanaman ini diduga berasal dari daerah Asia Tengah dan Asia Tenggara.
Caisin atau sawi
merupakan salah satu jenis sayuran daun yang disukai oleh konsumen Indonesia
karena memiliki kandungan pro vitamin A dan asam askorbat yang tinggi. Caisin (Brassica juncea
L.) termasuk ke
dalam famili Brassicaceae. Tanaman ini termasuk jenis sayuran daun yang dapat
tumbuh di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Tanaman caisin/sawi terdiri
dari dua jenis yaitu sawi putih dan sawi hijau. Karena pemeliharaannya mudah,
tanaman caisin atau sawi banyak ditanam di pekarangan. Benih caisin dapat diperoleh dengan cara
membeli dari toko pertanian atau dengan menyiapkan benih sendiri (Haryanto, Suhartini,
Rahayu 1995). Caisin umumnya
diperbanyak secara generatif, yakni dengan biji-bijinya. Benih caisin sebaiknya di semai terlebih
dahulu selama ± satu bulan atau berdaun 4 -5 helai (Rukmana R.199).
Salah satu
jenis sayuran yang sudah sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia maupun
dunia salah satunya adalah kacang panjang. Masyarakat dunia menyebutkan dengan
nama Yardlong Beans/Cow Peas. Plasma nutfah tanaman kacang panjang berasal dari
India dan Cina. Adapun yang menduga berasal dari kawasan benua Afrika. Plasma
nutfah kacang uci (Vigna umbellata) diketemukan tumbuh liar di daerah Himalaya
India, sedangkan plasma nutfah kacang tunggak (Vigna unguiculata) merupakan
asli dari Afrika. Oleh karena itu, tanaman kacang panjang tipe merambat berasal
dari daerah tropis dan Afrika, terutama Abbisinia dan Ethiopia.
Kacang
panjang merupakan salah satu tanaman sayuran sebagai sumber vitamin dan
mineral. Fungsinya sebagai pengatur metabolisme tubuh, meningkatkan kecerdasan
dan ketahanan tubuh serta memperlancar proses pencernaan karena kandungan
seratnya yang tinggi (Rasyid Panji, 2012.). Kacang panjang dapat dibedakan
menjadi 2 kelompok yaitu kelompok merambat dan tidak merambat. Kelompok kacang
panjang yang banyak dibudidayakan adalah kelompok yang merambat, cirinya
tanaman membelit pada ajir dan buahnya panjang ± 40-70 cm berwarna hijau atau
putih kehiijauan (BP3K Lubuk Pinang, 2012).
1.2
Tujuan Praktikum
Praktikum Agronomi/Agroteknologi
bertujuan untuk mengetahui cara budidaya bawang merah, caisin, dan kacang
panjang. Serta melakukan pengamatan seraya dengan kegiatan budidaya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 BAWANG MERAH
Klasifikasi dan Morfologi
- Kingdo : Plantae (Tumbuhan)
- Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan
berpembuluh)
- Super
Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
- Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
- Kelas : Liliopsida (berkeping satu /
monokotil)
- Sub
Kelas : Liliidae
- Ordo : Liliales
- Famili : Liliaceae (suku bawang-bawangan)
- Genus : Allium
- Spesies : Allium
cepa var. aggregatum L.
Budidaya tanaman bawang merah
- Syarat
tumbuh bawang merah
bawang
merah dapat tumbuh pada tanah sawah atau tegalan, berstruktur remah, dan
bertekstur sedang sampai liat. jenis tanah alluvial, glei humus atau latosol,
ph 5.6 - 6.5. tanaman bawang merah memerlukan udara hangat untuk pertumbuhannya
(25 s/d 320c), curah hujan 300 sampai 2500 mm pertahun, ketinggian 0-400 mdpl,
dan kelembaban 50-70 %.
- Pengolahan
tanah
pengolahan
tanah dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan lapisan tanah yang gembur,
memperbaiki drainase dan aerasi tanah, meratakan permukaan tanah, dan
mengendalikan gulma. tanah dibajak atau dicangkul dengan kedalaman 20 cm,
kemudian dibuat bedengan selebar 120 - 175 cm, tinggi 25 - 30 cm, serta panjang
sesuai disesuaikan dengan kondisi lahan. saluran drainase dibuat dengan lebar
40 - 50 cm dan kedalaman 50 - 60 cm. apabila ph tanah kurang dari 5,6 diberi
dolomit dosis + 1,5 ton/ha disebarkan di atas bedengan dan diaduk rata dengan
tanah lalu biarkan 2 minggu. untuk mencegah serangan penyakit layu taburkan
glio 100 gr (1 bungkus glio) dicampur 25-50 kg pupuk kandang matang, diamkan 1
minggu lalu taburkan merata di atas bedengan.
- Penyediaan
bibit
pada
umumnya perbanyakan bawang merah dilakukan dengan menggunakan umbi sebagai
bibit. kualitas umbi bibit merupakan salah satu faktor yang menentukan tinggi
rendahnya hasil produksi bawang merah. umbi yang baik untuk bibit harus berasal
dari tanaman yang cukup tua yaitu berumur 70 - 80 hari setelah tanam, dengan ukuran
sedang (beratnya 5 - 10 gram, diameter 1,5 - 1,8 cm). umbi bibit tersebut harus
terlihat segar dan sehat, tidak keriput, dan warnanya cerah. umbi bibit telah
siap tanam apabila telah disimpan 2 - 4 bulan sejak dipanen dan tunasnya sudah
sampai ke ujung umbi.
- Penanaman
dan pemberian pupuk dasar
Setelah
tanah selesai diolah selanjutnya dilakukan kegiatan pemupukan. pupuk dasar yang
digunakan adalah pupuk organik yang sudah matang seperti pupuk kandang sapi
dengan dosis 10-20 ton/ha atau pupuk kandang ayam dengan dosis 5-6 ton/ha, atau
kompos dengan dosis 4-5 ton/ha. selain itu pupuk p (sp-36) dengan dosis 200-250
kg/ha diberikan 2-3 hari sebelum penanaman.
Umbi bibit
ditanam dengan jarak 10 cm x 20 cm atau 15 cm x 15 cm. lobang tanaman dibuat
setinggi umbi dengan menggunakan alat penugal. umbi bawang merah dimasukkan ke
dalam lobang tanaman dengan gerakan seperti memutar sekrup, hingga ujung umbi
tampak rata dengan permukaan tanah. setelah tanam dilakukan penyiraman dengan
menggunakan embrat yang halus.
- Pemupukan
susulan
Pemupukan
susulan dilakukan pada umur 10-15 hari dan umur 30-35 hari setelah tanam. jenis
dan dosis pupuk yang diberikan adalah : urea 75-100 kg/ha, za 150-250 kg/ha,
kcl 75-100 kg/ha. pupuk diaduk rata dan diberikan di sepanjang garitan tanaman.
- Pengairan
Tanaman
bawang membutuhkan air yang cukup dalam pertumbuhannya. Penyiraman pada musim
kemarau dilakukan 1 kali dalam sehari pada pagi hari atau sore, sejak tanam
sampai menjelang panen.
- Menyiangan
dan pembumbunan
Menyiang
dilakukan sesuai dengan kondisi gulma, minimal dilakukan dua kali/musim, yaitu
menjelang dilakukannya pemupukan susulan. Kegiatan membumbun dilakukan saat
tanaman umur 30 dan 45 hari setelah tanam atau disesuaikan dengan kondisi umbi
sampai muncul ke permukaan tanah.
- Pengendalian
hama dan penyakit
Hama dan
penyakit yang sering menyerang tanaman bawang merah adalah ulat tanah, ulat
daun, ulat grayak, kutu daun, nematoda akar, bercak ungu alternaria, embun
tepung, busuk leher batang, otomatis/ antraknose, busuk umbi, layu fusarium dan
busuk basah.
a.
Hama ulat bawang (spodoptera spp).
Serangan hama ini ditandai
dengan bercak putih transparan pada daun. pengendaliannya adalah : - telur dan
ulat dikumpulkan lalu dimusnahkan - pasang perangkap ngengat (feromonoid seks)
ulat bawang 40 buah/ha - jika intensitas kerusakan daun lebih besar atau sama
dengan 5 % per rumpun atau telah ditemukan 1 paket telur/10 tanaman, dilakukan
penyemprotan dengan insektisida efektif, misalnya hostathion 40 ec, cascade 50
ec, atabron 50 ec atau florbac.
b.
Hama trip (thrips sp.)
gejala
serangan hama thrip ditandai dengan adanya bercak putih beralur pada daun.
penanganannya dengan penyemprotan insektisida efektif, misalnya mesurol 50 wp
atau pegasus 500 ec.
c.
Penyakit layu fusarium
Ditandai dengan daun
menguning, daun terpelintir dan pangkal batang membusuk. jika ditemukan gejala
demikian, tanaman dicabut dan dimusnahkan.
d.
Penyakit otomatis atau antraknose
Ditandi
dengan bercak
putih pada daun, selanjutnya terbentuk lekukan pada bercak tersebut yang
menyebabkan daun patah atau terkulai. untuk mengatasinya, semprot dengan
fungisida daconil 70 wp atau antracol 70 wp.
e.
Penyakit trotol (bercak ungu alternaria)
Ditandai dengan bercak putih
pada daun dengan titik pusat berwarna ungu. gunakan fungisida efektif, antara
lain antracol 70 wp, daconil 70 wp, dll untuk membasminya.
- Panen
dan pasca panen
Bawang
merah dipanen apabila umurnya sudah cukup tua, biasanya pada umur 60-70 hari
setelah tanam. tanaman bawang merah dipanen setelah terlihat tanda-tanda 60-70%
daun telah rebah atau leher batang lunak, sedangkan untuk bibit kerebahan daun
lebih dari 90%. panen dilakukan waktu udara cerah. pada waktu panen, bawang
merah diikat dalam ikatan-ikatan kecil (1-1.5 kg/ikat), kemudian dijemur selama
5-7 hari). setelah kering (penjemuran 5-7 hari), 3-4 ikatan bawang merah diikat
menjadi satu, kemudian bawang dijemur dengan posisi penjemuran bagian umbi di
atas selama 3-4 hari. pada penjemuran tahap kedua dilakukan pembersihan umbi
bawang dari tanah dan kotoran. bila sudah cukup kering (kadar air kurang lebih
85 %), umbi bawang merah siap dipasarkan atau disimpan di gudang.
2.2 CAISIN
Budidaya
Caisin
Caisim (Brassica
juncea L.) merupakan tanaman sayuran dengan iklim sub-tropis, namun
mampu beradaptasi dengan baik pada iklim tropis. Caisim pada umumnya
banyak ditanam dataran rendah, namun dapat pula didataran tinggi. Caisim
tergolong tanaman yang toleran terhadap suhu tinggi (panas). Saat ini,
kebutuhan akan caisim semakin lama semakin meningkat seiring dengan peningkatan
populasi manusia dan manfaat mengkonsumsi bagi kesehatan. Rukmana (1994)
menyatakan caisim mempunyai nilai ekonomi tinggi setelah kubis crop, kubis
bunga dan brokoli.
Sebagai sayuran, caisim
atau dikenal dengan sawi hijau mengandung berbagai khasiat bagi kesehatan.
Kandungan yang terdapat pada caisim adalah protein, lemak, karbohidrat,
Ca, P, Fe, Vitamin A, Vitamin B, dan Vitamin C. Menurut Margiyanto (2008)
manfaat caisim atau sawi bakso sangat baik untuk menghilangkan rasa gatal
di tenggorokan pada penderita batuk, penyembuh sakit kepala, bahan
pembersih darah, memperbaiki fungsi ginjal, sertamemperbaiki dan memperlancar
pencernaan. Daun B. junceaberkhasiat untuk peluruh air seni, akarnya
berkhasiat sebagai obat batuk, obat nyeri pada tenggorokan dan peluruh air
susu, bijinya berkhasiat sebagai obat sakit kepala (Anonim, 2008a).
Caisim (Brassica
juncea L.) merupakan tanaman semusim, berbatang pendek hingga hampir
tidak terlihat. Daun Caisim berbentuk bulat panjang serta berbulu halus
dan tajam, urat daun utama lebar dan berwarna putih. Daun caisim ketika
masak bersifat lunak, sedangkan yang mentah rasanya agak pedas.
Polapertumbuhan daun mirip tanaman kubis, daun yang muncul terlebih
dahulu menutup daun yang tumbuh kemudian hingga membentukkrop bulat panjang
yang berwarna putih. Susunan dan warna bunga seperti kubis (Sunarjono,
2004).
Adapun klasifikasi
tanaman casim adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Sub-kingdom : Tracheobionta
Super-divisio : Spermatophyta
Divisio :
Magnoliophyta
Kelas :
Magnoliopsida
Sub-kelas : Dilleniidae
Ordo :
Capparales
Familia :
Brassicaceae
Genus :
Brassica
Spesies : Brassica
juncea (L.) Czern. (Anonim, 2008b).
Di Indonesia dikenal
tiga jenis sawi yaitu: sawi putih atau sawi jabung, sawi hijau dan sawi
huma. Sawi putih (B. Juncea L.Var. Rugosa Roxb. & Prain)
memiliki batang pendek, tegap dan daun lebar berwarna hijau tua, tangkai
daun panjang dan bersayap melengkung ke bawah. Sawi hijau, memiliki
ciri-ciri batang pendek, daun berwarna hijau keputih-putihan, serta rasanya
agak pahit, sedangkan sawi huma memiliki ciri batang kecil-panjang dan
langsing, daun panjang-sempit berwarna hijau keputih-putihan,
serta tangkai daun panjang dan bersayap (Rukmana, 1994).
Caisin (Brassica
campestris L-Spp) dikenai oleh pelani dengan sebulan sawi hijau alias sawi
bakso yang paling banyak dijajakan di pasar-pasar dewasa ini. Batangnya
panjang, legap dan daunnya berwarna hijau. Daun-daun tanamannya lebar dan
bentuk pipih. Warna tangkai daun putih atau hijau muda.
Sawi (Caisin) adalah
sayuran yang sangat digemari orang. Selain enak ditumis atau diasong eaisin
banyak dibutuhkan oleh pedagang rnie bakso, mie ayam, dan capeai atau masakan
china lainnya, sehingga permintaannya dipasaran cukup tinggi.
Di antara sayuran daun,
caisim merupakan komoditas yang memiliki nilai komersial dan digemari
masyarakat Indonesia. Konsumen menggunakan daun caisim baik sebagai bahan
pokokmaupun sebagai pelengkap masakan tradisional dan masakan cina.
Selain sebagai bahan pangan, caisim dipercaya dapat menghilangkan rasa
gatal di tenggorokan pada penderita batuk. Caisim pun berfungsi sebagai
penyembuh sakit kepala dan mampu bekerja sebagaipembersih darah
(Haryanto et al., 2001).
Ada beberapa jenis sawi
yang dibudidayakan diantaranya adalah :
a.
Sawi
putih merupakan jenis yang paling banyak
dikonsumsi sebagai sayuran segar, karena memiliki rasa yang paling enak d i
antara jenis sawi lainnya, jenis mi dapat hidup dilahan kering.
b.
Sawi
hijau atau sawi asin, batangnya panjang tetapi tegap dan banyak dibudidayakan
dilahan kering tetapi cukup pengairannya.
c.
Sawi
huma. mempunyai daun sempit, panjang dan berwarna hijau keputihan. Jenis tumbuh
baik jika ditanam ditempai kering, seperti tegalan dan huma.
d.
Sawi
keriting, ciri sawi ini yakni daunnya keriting dan amat mirip dengan sawi
hijau, dapat hidupdilahan kering dengan pengairan yang cukup.
e.
Sawi
monumen, tumbuhnya amat tegak dan berdaun kompak, daunnya berwarna hijau segar
dan tangkai daun berwarna putih. Sekilas penampilan sawi ini seperti petsai dan
tergolong terbesar dan terberat diantara jenis sawi lainnya.
Sistem perakaran
tanaman sawi memiliki akar tunggang (radix primaria) dan cabang-cabang akar
yang bentuknya bulat panjang (silindris) menyebar kesemua arah dengan kedalaman
antara 30-50 cm. Akar-akar ini berfungsi antara lain mengisap air dan zat
makanan dari dalam tanah, serta menguatkan berdirinya batang tanaman (Heru dan
Yovita, 2003)
Batang tanaman sawi
pendek sekali dan beruas-ruas sehingga hampir tidak kelihatan. Batang ini
berfungsi sebagai alat pembentuk dan penopang daun. Batang sawi memiliki ukuran
yang lebih langsing dari tanaman petsai (Anonimous.2005)
Daun sawi stukturnya
bersayap dan bertangkai panjang yang bentuknya pipih. Warna daun pada umumnya
hijau keputihan sampai hijau tua. (Novizan.2007)
Tanaman sawi umumnya
mudah berbunga dan berbiji secara alami baik didataran tinggi maupun di dataran
rendah. Stuktur bunga sawi tersusun dalam tangkai bunga (inflorescentia) yang
tumbuh memanjang (tinggi) dan bercabang banyak. Tiap kuntum bunga sawi terdiri
atas empat helai daun kelopak, empat helai daun mahkota bunga berwarna kuning
cerah, empat helai benang sari dan satu buah putik yang berongga dua.
(Cahyono.2003).
Sawi bukan tanaman asli
Indonesia, menurut asalnya di Asia. Karena Indonesia mempunyai kecocokan
terhadap iklim, cuaca dan tanahnya sehingga dikembangkan di Indonesia ini.
Tanaman sawi dapat
tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat
diusahakan dari dataran rendah maupun dataran tinggi. Meskipun demikian
pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi.Daerah
penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai dengan 1.200
meter di atas permukaan laut. Namun biasanya dibudidayakan pada daerah
yang mempunyai ketinggian 100 meter sampai 500 meter dpl.
Tanaman sawi tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur.
Tanaman sawi tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur.
Berhubung dalam
pertumbuhannya tanaman ini membutuhkan hawa yang sejuk. lebih cepat tumbuh
apabila ditanam dalam suasana lembab. Akan tetapi tanaman ini juga tidak senang
pada air yang menggenang. Dengan demikian, tanaman ini cocok bils di tanam pada
akhir musim penghujan. Tanah yang cocok untuk ditanami sawi adalah tanah
gembur, banyak mengandung humus, subur, serta pembuangan airnya baik. Derajat
kemasaman (pH) tanah yang optimum untuk pertumbuhannya adalah antara pH 6
sampai pH 7.
2.3 KACANG PANJANG
Botani Tanaman Kacang Panjang
Tanaman
kacang panjang merupakan tanaman semak, menjalar, semusim dengan tinggi kurang
lebih 2,5 m. Batang tanaman ini tegak, silindris, lunak, berwarna hijau dengan
permukaan licin. Daunnya majemuk, lonjong, berseling, panjang 6-8 cm, lebar
3-4,5 cm, tepi rata, pangkal membulat, ujung lancip, pertulangan menyirip,
tangkai silindris, panjang kurang lebih 4 cm, dan berwarna hijau. Bunga tanaman
ini terdapat pada ketiak daun, majemuk, tangkai silindris, panjang kurang lebih
12 cm, berwarna hijau keputih-putihan, mahkota berbentuk kupu-kupu, berwarna
putih keunguan, benang sari bertangkai, panjang kurang lebih 2 cm, berwarna
putih, kepala sari kuning, putik bertangkai, berwarna kuning, panjang kurang
lebih 1 cm, dan berwarna ungu. Buah tanaman ini berbentuk polong, berwarna
hijau, dan panjang 15-25 cm. Bijinya lonjong, pipih, berwarna coklat muda.
Akarnya tunggang berwarna coklat muda.
Kacang
panjang mengandung enam antosianin (sianidin 3-O-galaktosida, sianidin
3-O-glukosida, delfinidin 3-O-glukosida, malvidin 3-O-glukosida,
peonidin3-O-glukosida, dan petunidin 3-O-glukosida), flavonol atau glikosida
flavonol (kaempferol 3-O-glukosida, quersetin, quersetin 3-O-glukosida,
kuersetin 3-O-6′-asetilglukosida), aglikon flavonoid (kuersetin, kaempferol,
isorhamnetin). Daun dan akarnya mengandung saponin dan polifenol. Selain itu
juga mengandung protein, karbohidrat, lemak, serat, kalsium, besi, fosfor,
potasium, sodium, vitamin B1, vitamin B2, vitamin C, dan niasin. Kandungan
senyawa-senyawa di dalam kacang panjang ini berperan dalam proses proliferasi,
diferensiasi, dan sintesis protein di sel target yang berbeda-beda (Hutapea,
J.R, 1994).
Klasifikasi kacang panjang
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super
Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Fabales
Spesies : Vigna sinensis
Syarat Tumbuh
Adapaun
syarat tumbuh tanaman kacang panjang adalah sebagai berikut ini :
Lahan yang
cocok adalah sawah berpengairan teknis dengan ketinggian tempat
sekitar 600m dpl, suhu 25-35oC, pH tanah 5,5-6,5 dengan struktur tanah
yang gembur dan kaya bahan organik. Musim yang tepat untuk budidaya kacang
panjang pada musim kemarau. Iklimnya kering, curah hujan antara 600-1.500
mm/tahun (Guramalem. 2011).
Media tanam
yang cocok untuk budidaya tanaman kacang panjang adalah :
1.
Hampir semua jenis tanah cocok untuk budidaya kacang panjang,
tetapi yang paling baik adalah tanah Latosol/lempung berpasir, subur, gembur,
banyak mengandung bahan organik dan drainasenya baik.
2.
Tanah kemasaman (pH) sekitar 5,5-6,5. Bila pH terlalu basa (diatas
pH 6,5) menyebabkan pecahnya nodula-nodula akar.
Teknis Budidaya
Persiapan
Lahan
1. Pembentukan
bedengan
Lahan dibersihkan dari rumput-rumput liar,
dicangkul/dibajak sedalam 30 cm hingga tanah menjadi gembur. Buat parit
keliling, biarkan tanah dikeringkan selama 15-30 hari. Setelah 30 hari buatlah
bedengan dengan ukuran lebar 60-80 cm, jarak antara bedengan 30 cm, tinggi 30
cm, panjang tergantung lahan. Untuk sistem guludan lebar dasar 30-40 cm dan
lebar atas 30-50 cm, tinggi 30 cm dan jarak antara guludan 30-40 cm.
2. Pengapuran
Pengapuran dilakukan jika pH tanah lebih rendah dari
5,5 dengan dosis tergantung kemasaman tanah. Berikan kapur pertanian dalam
bentuk kalsit, dolomit, atau zeagro sebanyak 1-2 ton/ha tergantung dari pH awal
dan jumlah Alumunium. Kapur dicampur secara merata dengan tanah pada kedalaman
30 cm.
3. Penambahan
pupuk kandang
Pada saat pembentukan bedengan atau guludan
tambahkan 10-20 ton/ha pupuk kandang, dengan dosis 4-5 ton/ha dicampur merata
dengan tanah sambil dibalikkan
Persiapan
Benih
Benih kacang panjang yang baik dan
bermutu adalah yang memiliki penampilan bernas/berisi, memiliki ukuran yang
seragam dan normal, daya kecambah tinggi di atas 85%, tidak rusak/cacat, tidak
mengandung wabah hama dan penyakit. Keperluan benih untuk 1 hektar antara 15-20
kg.
Benih tidak usah disemaikan secara
khusus, tetapi benih langsung tanam pada lubang tanam yang telah disiapkan.
Penanaman
Pembuatan jarak lubang tanam untuk tipe merambat
adalah 20 x 50 cm,
40 x 60 cm, 30 x 40 cm. Dan jarak tanam tipe tegak adalah 20 x 40 cm dan 30 x
60 cm. Kedalaman lubang tanam jangan terlalu dalam karena bisa
menghambat pertumbuhan benih, cukup benih bisa tertutup oleh tanah
saja sekitar 5 cm. Benih yang dimasukkan dalam lubang tanam cukup 2 biji saja.
Waktu tanam yang baik adalah awal musim kemarau/awal musim penghujan, tetapi
dapat saja sepanjang musim asal air tanahnya memadai.
Pemeliharaan
1. Penyulaman
Benih kacang panjang akan tumbuh 3-5 hari kemudian.
Benih yang tidak tumbuh segera disulam.
2. Pemupukan
Pupuk Dasar :
- Kacang panjang tipe merambat:
Urea 150 kg + TSP 100 kg + 100 kg/ha.
- Kacang panjang tipe tegak:
Urea 22,5 kg + TSP 45 kg + KCl 45 kg/ha.
- Kacang hibrida:
85 kg Urea + 310-420 kg TSP + 210 kg KCl/ha.
Pupuk diberikan di dalam lubang pupuk yang terletak
di kiri-kanan lubang tanam. Jumlah pupuk yang diberikan untuk satu tanaman
tergantung dari jarak tanam.
Pupuk Susulan
Pupuk susulan tanaman kacang panjang tipe merambat,
diberikan 4 minggu setelah tanam, pupuk berupa urea 150 kg/ha. Sedangkan pupuk
susulan untuk kacang panjang tipe tegak diberikan 4 minggu setelah tanam, pupuk
berupa urea 85 kg/ha.
Pengairan
Pada fase awal pertumbuhan benih hingga tanaman
muda, penyiraman dilakukan rutin tiap hari. Pengairan berikutnya tergantung
musim.
Hama utama
kacang panjang
·
Lalat kacang (Ophiomya
phaseoli Tryon)
Gejala: terdapat bintik-bintik putih sekitar tulang
daun, pertumbuhan tanaman yang terserang terhambat dan daun berwarna
kekuningan, pangkal batang terjadi perakaran sekunder dan membengkak.
Pengendalian: dengan cara pergiliran tanaman yang bukan dari famili
kacang-kacangan dan penyemprotan dengan insektisida berbahan aktif asefat
dengan konsentrasi 1gr/liter.
·
Kutu daun (Aphis
cracivora Koch)
Gejala: pertumbuhan terlambat karena hama mengisap
cairan sel tanaman dan penurunan hasil panen. Kutu bergerombol di pucuk tanaman
dan berperan sebagai vektor virus. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dengan
tanaman bukan famili kacang-kacangan dan penyemprotan insektisida berbahan
aktif abamektin dengan konsentrasi 0,5ml/liter.
·
Ulat grayak (Spodoptera
litura F.)
Gejala: daun berlubang dengan ukuran tidak pasti,
serangan berat di musim kemarau, juga menyerang polong. Pengendalian: dengan
peraikan kultur teknis, rotasi tanaman, penanaman serempak, perangkap hama
kimiawi dan insektisida klorpirifos dengan konsentrasi 1-2ml/liter.
·
Penggerek biji
(Callosobruchus maculatus L)
Gejala: biji dirusak berlubang-lubang, hancur sampai
90%. Pengendalian: dengan membersihkan dan memusnahkan sisa-sisa tanaman tempat
persembunyian hama. Benih kacang panjang diberi perlakuan minyak jagung 10
cc/kg biji.
·
Ulat bunga ( Maruca
testualis)
Gejala: larva menyerang bunga yang sedang membuka,
kemudian memakan polong. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dan menjaga
kebersihan kebun dari sisa-sisa tanaman. Disemprot dengan insektisida berbahan
aktif triazofos dengan konsentrasi 1-2ml/liter.
Penyakit Utama
Kacang Panjang
·
Antraknose
Penyebab: jamur Colletotricum lindemuthianum.
Gejala: serangan dapat diamati pada bibit yang baru berkecamabah, semacam
kanker berwarna coklat pada bagian batang dan keping biji. Pengendalian: dengan
rotasi tanaman, perlakuan benih sebelum ditanam dengan fungisida mankozeb dan
karbendazim.
·
Penyakit mozaik
Penyebab: virus Cowpea Aphid Borne Virus/CAMV.
Gejala: pada daun-daun muda terdapat gambaran mosaik yang warnanya tidak
beraturan. Penyakit ditularkan oleh vektor kutu daun. Pengendalian: dengan
menggunakan benih yang sehat dan bebas virus, disemprot dengan insektisida yang
efektif untuk kutu daun dengan bahan aktif abamektin dan tanaman yang terserang
dicabut dan dibakar.
·
Penyakit sapu
Penyebab: virus Cowpea Witches-broom Virus/Cowpea
Stunt Virus. Gejala: pertumbuhan tanaman terhambat, ruas-ruas (buku-buku)
batang sangat pendek, tunas ketiak memendek dan membentuk "sapu".
Penyakit ditularkan kutu daun. Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit
mosaik.
·
Layu bakteri
Penyebab: bakteri Pseudomonas
solanacearum E.F. Smith. Gejala: tanaman mendadak layu dan serangan berat
menyeabkan tanaman mati. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perbaikan
drainase dan mencabut tanaman yang mati, dan penyemprotan fungisida bahan aktif
mankozeb atau klorotalonil dengan konsentrasi 2-3gr/liter.
Panen Dan
Pascapanen
Ciri-ciri kacang panjang yang siap dipanen adalah
ukuran dan panjang polong telah maksimal, mudah dipatahkan dan biji-bijinya di
dalam polong tidak menonjol. Waktu panen yang paling baik pada pagi/sore hari.
Umur tanaman siap panen 3,5-4 bulan. Cara panen pada tanaman kacang panjang
cukup memotong pangkal buahnya saja. Produksi polong muda per satuan luas dapat
mencapai minimal 2,0 ton/ha, tergantung varietasnya. Pada varietas KP-I dapat
mencapai 6,2 ton/ha dan KP-2 sebesar 2,1 ton/ha.
Selepas panen, polong kacang panjang dikumpulkan di
tempat penampungan, lalu dicuci dan ditiriskan. Kemudian menyortir atau
memisahkan polong yang baik dengan yang rusak. Untuk sasaran pasar ekspor,
kriteria mutu polong muda yaitu ukuran polong minimal 20 cm, tingkat ketuaan
polong tergolong muda, penampakan biji tidak menonjol dan warna hijau dan
segar.
Untuk mempertahankan kesegaran polong, penyimpanan
sementara sebelum dipasarkan sebaiknya di tempat teduh. Penggunaan remukan
es/lemari pendingin, sedangkan polong tua disimpan di dalam kaleng dan
diletakkan di tempat yang kering dan sirkulasi udara baik.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan
Tempat Praktikum
Praktikum
dilaksanakan pada hari jum’at pukul 07.00, bertempat di area lahan praktikum
UMP yang berlokasi di dekat perumahan UMP.
3.2 Alat dan
Bahan
Alat :
1.
Pisau
2.
Gembor
3.
Bambu
Bahan :
1.
Umbi bawang merah
2.
Benih caisin
3.
Benih kacang panjang
3.3 Prosedur
Kerja
3.3.1 Budidaya Bawang Merah
- Siapkan lahan,
bersihkan lahan dari gulma, buat guludan dengan P : 8 x L 1 m. Dalam lahan
terdapat 3 guludan. Sebelum membuat guludan, tanah dicampur dengan pupuk
kandang sebagai pupuk dasar.
- Tanamlah umbi
bawang merah dengan kedalaman tanam kira – kira sama dengan tinggi umbi.
Setiap lubang diisi dengan umbi yang telah dipotong sebagian ujungnya (1/3
bagian) dengan posisi ujung berada di atas dan bekas potongan tepat rata
dengan permukaan tanah. Selanjutnya bagian atas ditutup dengan tanah tipis
dan setelah itu tanah disiram dengan air menggunakan gembor agar tanah
menjadi lembab.
- Penyiraman
dilakukan sesuai dengan kondisi lapang
- Lakukan
pengamatan jumlah daun mulai tanam berumur 2 mst sampai dengan umur 8 mst
dengan interval 1 minggu sekali. Jumlah umbi + daun, bobot umbi tanpa daun
dilakukan setelah panen.
3.3.2 Budidaya
Caisin
- Siapkan media
semai berupa campuran tanah : pupuk kandang : pasir dengan perbandingan 1
: 1 : 1 kemudian masukan media semai tersebut kedalam seedbox.
- Tebarkan benih
kedalam seedbox (dalam bentuk larikan) dengan jarak tanam ± 5 cm (usahakan
jangan tumpang tindih). Tutup benih dengan tanah halus, selanjutnya
lakukan penyiraman dengan gembor dan tempatkan ke tempat yang terlindung
dari hujan dan sinar matahari.
- Penanaman
dilakukan setelah bibit berumur ± 4 minggu setelah semai atau berdaun 3 –
5 helai, dilakukan pemindahan bibit ke guludan.
- Pemupukan I,
pada saat penanaman berupa : pupuk urea, SP36 dan KCL pada masing – masing
= 6 g/tan = 1,5 sendok teh.
- Pemupukan II,
pada saat tanaman berumur 4 minggu setelah tanam (mst) dengan SP36 dengan
takaran 2 g/tan = 1/2 sendok teh.
- Pemberian
pupuk dengan cara ketiga yakni mencampurkn rata diletakan dalam alur
melingkar ± 10 cm dari batang tanaman kemudian tutup dengan tanah.
- Lakukan
pengamatan :
Jumlah daun : dihitug
jumlah daun yang sudah terbentuk sempurna
Tinggi tanaman : dihitung tinggi caisin dari
permukaan tanah
Pengamatan jumlah
daun dan tinggi tanaman dimulai pada umur tanaman 7 hst sampai panen.
3.3.3 Budidaya Kacang Panjang
- Siapkan lahan,
bersihkan lahan dari gulma, buat guludan denganP : 8 x L : 1 m. Dalam
lahan terdapat 3 guludan, tanah dicampur dengan pupuk kandang sebagai
pupuk dasar.
- Buat lubang tanam
dengan kedalaman sekitar 2 cm dan masukan benih sebanyak 2 biji.
- Penyiraman
dilakukan di pagi atau sore hari sesuai kondisi lapang.
- Penyiangan
dilakukan membuang gulma yang dilakukan sesuai kondisi lapang.
- Pengelolaan
hama dan penyakit tanaman dilakukan dengan menyemprotkan pestisida hayati
sesuai dengan kondisi lapang.
- Pemasangan
ajir (menggunakan bambu) dilakukan saat tanaman berumur 4 minggu setelah
tanam (mst) dengan posisi tegak lurus.
- Pemupukan I,
pada saat penanaman berupa : pupuk urea, SP36 dan KCL pada masing – masing
= 6 g/tan = 1,5 sendok teh.
- Pemupukan II,
pada saat tanaman berumur 4 minggu setelah tanam (mst) dengan SP36 dengan
takaran 2 g/tan = 1/2 sendok teh.
- Pemberian
pupuk dengan cara ketiga yakni mencampurkn rata diletakan dalam alur melingkar
± 10 cm dari batang tanaman kemudian tutup dengan tanah.
- Lakukan
pengamatan :
Jumlah daun : dihitug
jumlah daun yang sudah terbentuk sempurna
Tinggi tanaman : dihitung tinggi tanaman dari
permukaan tanah
Jumlah polong : dihitung jumlah polong yang
terbentuk
Bobot polong : ditimbang bobot polong yang
terbentuk
Pengamatan panjang
tanaman dan jumlah daun dilakukan mulai tanaman berumur 2 mst sampai dengan
panen pertama. Sedangkan jumlah polong dihitung polong yang terbentuk dan
ditimbang bobot polong yang terbentuk mulai panen pertama hingga akhir periode
praktikum.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Budidaya
Bawang Merah
|
Hari / Tanggal
|
Uraian Kegiatan
|
|
Sabtu, 26 Oktober 2013
Jum’at, 1 November 2013
Sabtu, 9 November 2013
Selasa, 12 November 2013
Jum’at, 15 November 2013
Selasa, 19 November 2013
Jum’at, 22 November 2013
Jum’at 29 November 2013
Senin, 23 Desember 2013
|
·
Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·
Penanaman bawang merah dilakukan dengan melubangi guludan sebanyak 3
lubang, setiap lubang diisi satu umbi bawang merah yang telah dipotong bagian
atasnya (1/3 bagian), kemudian lubang ditutup kembali dengan tanah tipis
·
Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·
Penyiraman tanaman
·
Pengamatan, tinggi masing - masing
tanaman berkisar 1 cm dan memiliki 1 daun.
·
Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·
Penyiraman tanaman.
·
Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·
Pengamatan, tinggi masing – masing tanaman berkisar 3 cm dan memiliki 2
daun.
·
Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·
Pengamatan, tanaman 1 memiliki tinggi 11 cm, tanaman 2 dan 3 mati. Jumlah
daun pada tanaman 1 adalah 8 daun.
·
Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·
Pengamatan, tanaman memiliki tinggi 17 cm dan 10 daun.
·
Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·
Pengamatan, tanaman memiliki tinggi 20 cm dan 13 daun.
·
Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·
Pengamatan, tanaman memiliki tinggi 22 cm dan 14 daun.
·
Melakukan pemanenan dan menghiung jumlah umbi bawang merah.
·
Jumlah umbi pada tanaman adalah 9.
|
4.1.2 Budidaya
Caisin
|
Hari / Tanggal
|
Uraian Kegiatan
|
|
Sabtu, 26 Oktober 2013
Jum’at, 1 November 2013
Sabtu, 9 November 2013
Selasa, 12 November 2013
Jum’at, 15 November 2013
Selasa, 19 November 2013
Jum’at, 22 November 2013
Jum’at 29 November 2013
Senin, 23 Desember 2013
|
·
Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·
Melakukan penyemaian benih caisin
·
Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·
Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·
Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·
Penanaman bibit caisin pada guludan, guludan di beri 2 lubang masing –
masing lubang diisi 2 bibit caisin
·
Tanaman caisin mati semua karena faktor cuaca
·
Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·
Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·
Penanaman kembali bibit caisin
·
Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·
Pengamatan, rata – rata tanaman budidaya memiliki tinggi 3 cm dan 2 daun
·
Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·
Pengamatan, tinggi tanaman 6 cm dan memiliki 5 daun
·
Melakukan proses pemanenan.
·
Menghitung jumlah daun caisin dan tinggi tanaman.
Tanaman 1 :
tinggi 10 cm dan memiliki 6 daun.
Tanaman 2 :
tinggi 12 cm dan memiliki 8 daun.
Tanaman 3 :
tinggi 9 cm dan memiliki 4 daun.
|
4.1.3 Budidaya
Kacang Panjang
|
Hari / Tanggal
|
Uraian Kegiatan
|
|
Sabtu, 26 Oktober 2013
Jum’at, 1 November 2013
Sabtu, 9 November 2013
Selasa, 12 November 2013
Jum’at, 15 November 2013
Selasa, 19 November 2013
Jum’at, 22 November 2013
Jum’at 29 November 2013
Senin, 23 Desember 2013
|
·
Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·
Penanaman bibit kacang panjang
·
Pemberian pupuk disekitar tanaman, pupuk yang diberikan yaitu : urea,
SP36, dan KCL
·
Pengamatan, tinggi tanaman 9,5 cm dan memiliki 4 daun
·
Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·
Memberikan rambatan pada tanaman berupa bambu
·
Melakukan penyiraman dengan menggunakan gembor
·
Pengamatan, tinggi tanaman 21,5 cm dan memiliki 11 daun
·
Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·
Memperbaiki rambatan bambu yang roboh
·
Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·
Pengamatan,
Tanaman 1 :
tinggi 81 cm, 17 daun.
Tanaman 2 :
tinggi 90 cm, 19 daun.
·
Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·
Pengamatan,
Tanaman 1 : tinggi
100 cm, 23 daun.
Tanaman 2 :
tinggi 113 cm, 24 daun.
·
Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·
Pengamatan,
Tanaman 1 :
tinggi 116 cm, 28 daun.
Tanaman 2 :
tinggi 121 cm, 27 daun.
·
Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·
Pengamatan,
Tanaman 1 :
tinggi 152 cm, 35 daun.
Tanaman 2 :
tinggi 167 cm, 39 daun.
Terdapat daun
yang menguning.
·
Melakukan proses pemanenan dan menghitung jumlah polong kacang panjang.
Jumlah polong
tanaman kacang panjang adalah 61 polong.
|
4.2 Pembahasan
Penanaman bawang merah
dimulai dari pemotongan sepertiga dari bagian atas. Pengolahan tanah dilakukan
dengan pembuatan guludan dengan panjang dan lebar 8 x 1 m. Penanaman dilakukan
dengan cara larikan, dalam satu baris ditanam 3 umbi bawang merah. Penyebab
kerusakan atau kegagalan dikarenakan cuaca yang tidak baik, penyakit dan hama, serta kurangnya perawatan.
Pada
budidaya tanaman caisin, dalam melakukan persemaian dilakukan didalam seedbox
yang telah terisi tanah cang dicampur pupuk kandang dan benih-benih caisin disebarkan diatas tanah dan ditutp kembali dengan tanah tipis, ini dilakukan agar
benih-benih caisin dapat berkecambah dengan baik dan tidak terkena sinar
matahari secara langsung dan tetap menjaga kelembaban. Jika disemai pada tanah,
benih-benih caisin dapat hilang karena terkena air hujan.
Pada budidaya tanaman kacang panjang, dalam proses
penanaman pertama tanama dengan membuat lubang pada guludan sebanyak 2 lubang,
masing – masing lubang diisi 2 bibit kacang panjang. Kemudian dilakukan proses
pemupukan pada minggu pertama setelah penanaman dengan memberikan pupuk urea,
SP36, dan KCL. Selanjutnya tanaman diberi ajir (menggunakan bambu). Pengamatan
dilakukan dari proses penanaman hingga periode praktikum berakhir, adapula hal
– hal yang diamati yakni tinggi tanaman, dan jumlah daun.
BAB V
PENUTUP
Bawang merah atau
Brambang (Allium ascalonicum L.) adalah nama tanaman dari familia Alliaceae dan
nama dari umbi yang dihasilkan. Umbi dari tanaman bawang merah merupakan bahan
utama untuk bumbu dasar masakan Indonesia. Bawang Merah menyukai daerah yang
beriklim kering dengan suhu agak panas dan mendapat sinar matahari lebih dari
12 jam. Bawang merah dapat tumbuh baik didataran rendah maupun dataran tinggi
(0-900 mdpl) dengan curah hujan 300 - 2500 mm/th dan suhunya 25 derajat celcius
- 32 derajat celcius. Jenis tanah yang baik untuk budidaya bawang merah adalah
regosol, grumosol, latosol, dan aluvial, dengan pH 5.5 - 7.
Untuk budidaya
tanaman bawang merah ditanam pada guludan dengan memotong sepertiga bagian atas
umbinya. Agar tanaman budidaya yang dihasilkan baik maka harus dilakukan
perawatan secara intensif dan membersihkan gulma yang tumbuh, serta melakukan
pembasmian terhadap hama dan penyakit.
Tanah yang
cocok untuk ditanami caisin adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, subur
serta drainase yang baik. Misalnya tanah lempung berpasir atau lempung berliat.
Derajat kemasaman (pH) tanah berkisar antara 5.5-6.5 merupakan pH yang optimum
bagi pertumbuhan caisin. Caisin yang ditanam mati dikarenakan usia benih yang
ditanam di guludan masih terlalu mudan dan karena fakor cuaca yang tidak
mendukung
Kacang
panjang adalah satu dari berbagai jenis sayuran jenis kacang-kacangan yang kaya
akan kandungan gizi seperti berbagai vitamin dan mineral. Dengan banyaknya kandungan
gizi dalam kacang panjang menjadikannya selalu diminati oleh banyak kalangan
masyarakat, sehingga kebutuhan pasar akan kacang panjang masih cukup tinggi.
Dengan
pembudidayaan kacang panjang dengan mulai dari pengolahan lahan, pemilihan
benih, penanaman, pemeliharaan, penyiraman hingga panen dan pascapanen secara
baik, benar dan bijaksana bisa menjadikan hasil panen yang dicapai pasti bisa
lebih maksimal dan diharapkan juga bisa meningkatkan kesejahteraan petani yang
menanam kacang panjang dalam bidang ekonomi maupun sosial.
BAB VI
DAFTAR PUSTAKA
BAB VII
LAMPIRAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar