Senin, 13 Januari 2014

Laporan Praktikum Agronomi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Bawang merah (Allium cepa L. Kelompok Aggregatum) adalah sejenis tanaman yang menjadi bumbu berbagai masakan Asia Tenggara dan dunia. Orang Jawa mengenalnya sebagai brambang. Bagian yang paling banyak dimanfaatkan adalah umbi, meskipun beberapa tradisi kuliner juga menggunakan daun serta tangkai bunganya sebagai bumbu penyedap masakan. Tanaman ini diduga berasal dari daerah Asia Tengah dan Asia Tenggara.
Caisin atau sawi merupakan salah satu jenis sayuran daun yang disukai oleh konsumen Indonesia karena memiliki kandungan pro vitamin A dan asam askorbat yang tinggi. Caisin (Brassica juncea L.)  termasuk ke dalam famili Brassicaceae. Tanaman ini termasuk jenis sayuran daun yang dapat tumbuh di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Tanaman caisin/sawi terdiri dari dua jenis yaitu sawi putih dan sawi hijau. Karena pemeliharaannya mudah, tanaman caisin atau sawi banyak ditanam di pekarangan. Benih caisin dapat diperoleh dengan cara membeli dari toko pertanian atau dengan menyiapkan benih sendiri (Haryanto, Suhartini, Rahayu 1995). Caisin umumnya diperbanyak secara generatif, yakni dengan biji-bijinya. Benih caisin sebaiknya di semai terlebih dahulu selama ± satu bulan atau berdaun 4 -5 helai (Rukmana R.199).
Salah satu jenis sayuran yang sudah sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia maupun dunia salah satunya adalah kacang panjang. Masyarakat dunia menyebutkan dengan nama Yardlong Beans/Cow Peas. Plasma nutfah tanaman kacang panjang berasal dari India dan Cina. Adapun yang menduga berasal dari kawasan benua Afrika. Plasma nutfah kacang uci (Vigna umbellata) diketemukan tumbuh liar di daerah Himalaya India, sedangkan plasma nutfah kacang tunggak (Vigna unguiculata) merupakan asli dari Afrika. Oleh karena itu, tanaman kacang panjang tipe merambat berasal dari daerah tropis dan Afrika, terutama Abbisinia dan Ethiopia.
Kacang panjang merupakan salah satu tanaman sayuran sebagai sumber vitamin dan mineral. Fungsinya sebagai pengatur metabolisme tubuh, meningkatkan kecerdasan dan ketahanan tubuh serta memperlancar proses pencernaan karena kandungan seratnya yang tinggi (Rasyid Panji, 2012.). Kacang panjang dapat dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu kelompok merambat dan tidak merambat. Kelompok kacang panjang yang banyak dibudidayakan adalah kelompok yang merambat, cirinya tanaman membelit pada ajir dan buahnya panjang ± 40-70 cm berwarna hijau atau putih kehiijauan (BP3K Lubuk Pinang, 2012).
1.2  Tujuan Praktikum
Praktikum Agronomi/Agroteknologi bertujuan untuk mengetahui cara budidaya bawang merah, caisin, dan kacang panjang. Serta melakukan pengamatan seraya dengan kegiatan budidaya.










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 BAWANG MERAH
Klasifikasi dan Morfologi
  • Kingdo            : Plantae (Tumbuhan)
  • Subkingdom    : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
  • Super Divisi    : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
  • Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
  • Kelas               : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
  • Sub Kelas        : Liliidae
  • Ordo                : Liliales
  • Famili              Liliaceae (suku bawang-bawangan)
  • Genus              Allium
  • Spesies            : Allium cepa var. aggregatum L.
Budidaya tanaman bawang merah
  • Syarat tumbuh bawang merah
bawang merah dapat tumbuh pada tanah sawah atau tegalan, berstruktur remah, dan bertekstur sedang sampai liat. jenis tanah alluvial, glei humus atau latosol, ph 5.6 - 6.5. tanaman bawang merah memerlukan udara hangat untuk pertumbuhannya (25 s/d 320c), curah hujan 300 sampai 2500 mm pertahun, ketinggian 0-400 mdpl, dan kelembaban 50-70 %.
  • Pengolahan tanah
pengolahan tanah dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan lapisan tanah yang gembur, memperbaiki drainase dan aerasi tanah, meratakan permukaan tanah, dan mengendalikan gulma. tanah dibajak atau dicangkul dengan kedalaman 20 cm, kemudian dibuat bedengan selebar 120 - 175 cm, tinggi 25 - 30 cm, serta panjang sesuai disesuaikan dengan kondisi lahan. saluran drainase dibuat dengan lebar 40 - 50 cm dan kedalaman 50 - 60 cm. apabila ph tanah kurang dari 5,6 diberi dolomit dosis + 1,5 ton/ha disebarkan di atas bedengan dan diaduk rata dengan tanah lalu biarkan 2 minggu. untuk mencegah serangan penyakit layu taburkan glio 100 gr (1 bungkus glio) dicampur 25-50 kg pupuk kandang matang, diamkan 1 minggu lalu taburkan merata di atas bedengan.
  • Penyediaan bibit
pada umumnya perbanyakan bawang merah dilakukan dengan menggunakan umbi sebagai bibit. kualitas umbi bibit merupakan salah satu faktor yang menentukan tinggi rendahnya hasil produksi bawang merah. umbi yang baik untuk bibit harus berasal dari tanaman yang cukup tua yaitu berumur 70 - 80 hari setelah tanam, dengan ukuran sedang (beratnya 5 - 10 gram, diameter 1,5 - 1,8 cm). umbi bibit tersebut harus terlihat segar dan sehat, tidak keriput, dan warnanya cerah. umbi bibit telah siap tanam apabila telah disimpan 2 - 4 bulan sejak dipanen dan tunasnya sudah sampai ke ujung umbi.
  • Penanaman dan pemberian pupuk dasar
Setelah tanah selesai diolah selanjutnya dilakukan kegiatan pemupukan. pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk organik yang sudah matang seperti pupuk kandang sapi dengan dosis 10-20 ton/ha atau pupuk kandang ayam dengan dosis 5-6 ton/ha, atau kompos dengan dosis 4-5 ton/ha. selain itu pupuk p (sp-36) dengan dosis 200-250 kg/ha diberikan 2-3 hari sebelum penanaman.
Umbi bibit ditanam dengan jarak 10 cm x 20 cm atau 15 cm x 15 cm. lobang tanaman dibuat setinggi umbi dengan menggunakan alat penugal. umbi bawang merah dimasukkan ke dalam lobang tanaman dengan gerakan seperti memutar sekrup, hingga ujung umbi tampak rata dengan permukaan tanah. setelah tanam dilakukan penyiraman dengan menggunakan embrat yang halus.
  • Pemupukan susulan
Pemupukan susulan dilakukan pada umur 10-15 hari dan umur 30-35 hari setelah tanam. jenis dan dosis pupuk yang diberikan adalah : urea 75-100 kg/ha, za 150-250 kg/ha, kcl 75-100 kg/ha. pupuk diaduk rata dan diberikan di sepanjang garitan tanaman.
  • Pengairan
Tanaman bawang membutuhkan air yang cukup dalam pertumbuhannya. Penyiraman pada musim kemarau dilakukan 1 kali dalam sehari pada pagi hari atau sore, sejak tanam sampai menjelang panen.
  • Menyiangan dan pembumbunan
Menyiang dilakukan sesuai dengan kondisi gulma, minimal dilakukan dua kali/musim, yaitu menjelang dilakukannya pemupukan susulan. Kegiatan membumbun dilakukan saat tanaman umur 30 dan 45 hari setelah tanam atau disesuaikan dengan kondisi umbi sampai muncul ke permukaan tanah.
  • Pengendalian hama dan penyakit
Hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman bawang merah adalah ulat tanah, ulat daun, ulat grayak, kutu daun, nematoda akar, bercak ungu alternaria, embun tepung, busuk leher batang, otomatis/ antraknose, busuk umbi, layu fusarium dan busuk basah.
a.       Hama ulat bawang (spodoptera spp).
Serangan hama ini ditandai dengan bercak putih transparan pada daun. pengendaliannya adalah : - telur dan ulat dikumpulkan lalu dimusnahkan - pasang perangkap ngengat (feromonoid seks) ulat bawang 40 buah/ha - jika intensitas kerusakan daun lebih besar atau sama dengan 5 % per rumpun atau telah ditemukan 1 paket telur/10 tanaman, dilakukan penyemprotan dengan insektisida efektif, misalnya hostathion 40 ec, cascade 50 ec, atabron 50 ec atau florbac.
b.      Hama trip (thrips sp.)
gejala serangan hama thrip ditandai dengan adanya bercak putih beralur pada daun. penanganannya dengan penyemprotan insektisida efektif, misalnya mesurol 50 wp atau pegasus 500 ec.
c.       Penyakit layu fusarium
Ditandai dengan daun menguning, daun terpelintir dan pangkal batang membusuk. jika ditemukan gejala demikian, tanaman dicabut dan dimusnahkan.
d.      Penyakit otomatis atau antraknose
Ditandi dengan bercak putih pada daun, selanjutnya terbentuk lekukan pada bercak tersebut yang menyebabkan daun patah atau terkulai. untuk mengatasinya, semprot dengan fungisida daconil 70 wp atau antracol 70 wp.
e.       Penyakit trotol (bercak ungu alternaria)
Ditandai dengan bercak putih pada daun dengan titik pusat berwarna ungu. gunakan fungisida efektif, antara lain antracol 70 wp, daconil 70 wp, dll untuk membasminya.


  • Panen dan pasca panen
Bawang merah dipanen apabila umurnya sudah cukup tua, biasanya pada umur 60-70 hari setelah tanam. tanaman bawang merah dipanen setelah terlihat tanda-tanda 60-70% daun telah rebah atau leher batang lunak, sedangkan untuk bibit kerebahan daun lebih dari 90%. panen dilakukan waktu udara cerah. pada waktu panen, bawang merah diikat dalam ikatan-ikatan kecil (1-1.5 kg/ikat), kemudian dijemur selama 5-7 hari). setelah kering (penjemuran 5-7 hari), 3-4 ikatan bawang merah diikat menjadi satu, kemudian bawang dijemur dengan posisi penjemuran bagian umbi di atas selama 3-4 hari. pada penjemuran tahap kedua dilakukan pembersihan umbi bawang dari tanah dan kotoran. bila sudah cukup kering (kadar air kurang lebih 85 %), umbi bawang merah siap dipasarkan atau disimpan di gudang.

2.2 CAISIN
Budidaya Caisin
Caisim (Brassica juncea L.) merupakan tanaman sayuran dengan iklim sub-tropis, namun mampu beradaptasi dengan baik pada iklim tropis. Caisim pada umumnya banyak ditanam dataran rendah, namun dapat pula didataran tinggi. Caisim tergolong tanaman yang toleran terhadap suhu tinggi (panas). Saat ini, kebutuhan akan caisim semakin lama semakin meningkat seiring dengan peningkatan populasi manusia dan manfaat mengkonsumsi bagi kesehatan. Rukmana (1994) menyatakan caisim mempunyai nilai ekonomi tinggi setelah kubis crop, kubis bunga dan brokoli.
Sebagai sayuran, caisim atau dikenal dengan sawi hijau mengandung berbagai khasiat bagi kesehatan. Kandungan yang terdapat pada caisim adalah protein, lemak, karbohidrat, Ca, P, Fe, Vitamin A, Vitamin B, dan Vitamin C. Menurut Margiyanto (2008) manfaat caisim atau sawi bakso sangat baik untuk menghilangkan rasa gatal di tenggorokan pada penderita batuk, penyembuh sakit kepala, bahan pembersih darah, memperbaiki fungsi ginjal, sertamemperbaiki dan memperlancar pencernaan. Daun B. junceaberkhasiat untuk peluruh air seni, akarnya berkhasiat sebagai obat batuk, obat nyeri pada tenggorokan dan peluruh air susu, bijinya berkhasiat sebagai obat sakit kepala (Anonim, 2008a).
Caisim (Brassica juncea L.) merupakan tanaman semusim, berbatang pendek hingga hampir tidak terlihat. Daun Caisim berbentuk bulat panjang serta berbulu halus dan tajam, urat daun utama lebar dan berwarna putih. Daun caisim ketika masak bersifat lunak, sedangkan yang mentah rasanya agak pedas. Polapertumbuhan daun mirip tanaman kubis, daun yang muncul terlebih dahulu menutup daun yang tumbuh kemudian hingga membentukkrop bulat panjang yang berwarna putih. Susunan dan warna bunga seperti kubis (Sunarjono, 2004).
Adapun klasifikasi tanaman casim adalah sebagai berikut :
Kingdom         : Plantae
Sub-kingdom  : Tracheobionta
Super-divisio   : Spermatophyta
Divisio             : Magnoliophyta
Kelas               : Magnoliopsida
Sub-kelas         : Dilleniidae
Ordo                : Capparales
Familia            : Brassicaceae
Genus              : Brassica
Spesies            : Brassica juncea (L.) Czern. (Anonim, 2008b).
Di Indonesia dikenal tiga jenis sawi yaitu: sawi putih atau sawi jabung, sawi hijau dan sawi huma. Sawi putih (B. Juncea L.Var. Rugosa Roxb. & Prain) memiliki batang pendek, tegap dan daun lebar berwarna hijau tua, tangkai daun panjang dan bersayap melengkung ke bawah. Sawi hijau, memiliki ciri-ciri batang pendek, daun berwarna hijau keputih-putihan, serta rasanya agak pahit, sedangkan sawi huma memiliki ciri batang kecil-panjang dan langsing, daun panjang-sempit berwarna hijau keputih-putihan, serta tangkai daun panjang dan bersayap (Rukmana, 1994).
Caisin (Brassica campestris L-Spp) dikenai oleh pelani dengan sebulan sawi hijau alias sawi bakso yang paling banyak dijajakan di pasar-pasar dewasa ini. Batangnya panjang, legap dan daunnya berwarna hijau. Daun-daun tanamannya lebar dan bentuk pipih. Warna tangkai daun putih atau hijau muda.
Sawi (Caisin) adalah sayuran yang sangat digemari orang. Selain enak ditumis atau diasong eaisin banyak dibutuhkan oleh pedagang rnie bakso, mie ayam, dan capeai atau masakan china lainnya, sehingga permintaannya dipasaran cukup tinggi.
Di antara sayuran daun, caisim merupakan komoditas yang memiliki nilai komersial dan digemari masyarakat Indonesia. Konsumen menggunakan daun caisim baik sebagai bahan pokokmaupun sebagai pelengkap masakan tradisional dan masakan cina. Selain sebagai bahan pangan, caisim dipercaya dapat menghilangkan rasa gatal di tenggorokan pada penderita batuk. Caisim pun berfungsi sebagai penyembuh sakit kepala dan mampu bekerja sebagaipembersih darah (Haryanto et al., 2001).



Ada beberapa jenis sawi yang dibudidayakan diantaranya adalah :
a.       Sawi putih merupakan jenis yang paling banyak dikonsumsi sebagai sayuran segar, karena memiliki rasa yang paling enak d i antara jenis sawi lainnya, jenis mi dapat hidup dilahan kering.
b.      Sawi hijau atau sawi asin, batangnya panjang tetapi tegap dan banyak dibudidayakan dilahan kering tetapi cukup pengairannya.
c.       Sawi huma. mempunyai daun sempit, panjang dan berwarna hijau keputihan. Jenis tumbuh baik jika ditanam ditempai kering, seperti tegalan dan huma.
d.      Sawi keriting, ciri sawi ini yakni daunnya keriting dan amat mirip dengan sawi hijau, dapat hidupdilahan kering dengan pengairan yang cukup.
e.       Sawi monumen, tumbuhnya amat tegak dan berdaun kompak, daunnya berwarna hijau segar dan tangkai daun berwarna putih. Sekilas penampilan sawi ini seperti petsai dan tergolong terbesar dan terberat diantara jenis sawi lainnya.
Sistem perakaran tanaman sawi memiliki akar tunggang (radix primaria) dan cabang-cabang akar yang bentuknya bulat panjang (silindris) menyebar kesemua arah dengan kedalaman antara 30-50 cm. Akar-akar ini berfungsi antara lain mengisap air dan zat makanan dari dalam tanah, serta menguatkan berdirinya batang tanaman (Heru dan Yovita, 2003)
Batang tanaman sawi pendek sekali dan beruas-ruas sehingga hampir tidak kelihatan. Batang ini berfungsi sebagai alat pembentuk dan penopang daun. Batang sawi memiliki ukuran yang lebih langsing dari tanaman petsai (Anonimous.2005)
Daun sawi stukturnya bersayap dan bertangkai panjang yang bentuknya pipih. Warna daun pada umumnya hijau keputihan sampai hijau tua. (Novizan.2007)  
Tanaman sawi umumnya mudah berbunga dan berbiji secara alami baik didataran tinggi maupun di dataran rendah. Stuktur bunga sawi tersusun dalam tangkai bunga (inflorescentia) yang tumbuh memanjang (tinggi) dan bercabang banyak. Tiap kuntum bunga sawi terdiri atas empat helai daun kelopak, empat helai daun mahkota bunga berwarna kuning cerah, empat helai benang sari dan satu buah putik yang berongga dua. (Cahyono.2003).
Sawi bukan tanaman asli Indonesia, menurut asalnya di Asia. Karena Indonesia mempunyai kecocokan terhadap iklim, cuaca dan tanahnya sehingga dikembangkan di Indonesia ini.
Tanaman sawi dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah maupun dataran tinggi. Meskipun demikian pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi.Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai dengan 1.200 meter di atas permukaan laut. Namun biasanya dibudidayakan pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 meter sampai 500 meter dpl.
Tanaman sawi tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur.
Berhubung dalam pertumbuhannya tanaman ini membutuhkan hawa yang sejuk. lebih cepat tumbuh apabila ditanam dalam suasana lembab. Akan tetapi tanaman ini juga tidak senang pada air yang menggenang. Dengan demikian, tanaman ini cocok bils di tanam pada akhir musim penghujan. Tanah yang cocok untuk ditanami sawi adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, subur, serta pembuangan airnya baik. Derajat kemasaman (pH) tanah yang optimum untuk pertumbuhannya adalah antara pH 6 sampai pH 7.


2.3 KACANG PANJANG
Botani Tanaman Kacang Panjang
Tanaman kacang panjang merupakan tanaman semak, menjalar, semusim dengan tinggi kurang lebih 2,5 m. Batang tanaman ini tegak, silindris, lunak, berwarna hijau dengan permukaan licin. Daunnya majemuk, lonjong, berseling, panjang 6-8 cm, lebar 3-4,5 cm, tepi rata, pangkal membulat, ujung lancip, pertulangan menyirip, tangkai silindris, panjang kurang lebih 4 cm, dan berwarna hijau. Bunga tanaman ini terdapat pada ketiak daun, majemuk, tangkai silindris, panjang kurang lebih 12 cm, berwarna hijau keputih-putihan, mahkota berbentuk kupu-kupu, berwarna putih keunguan, benang sari bertangkai, panjang kurang lebih 2 cm, berwarna putih, kepala sari kuning, putik bertangkai, berwarna kuning, panjang kurang lebih 1 cm, dan berwarna ungu. Buah tanaman ini berbentuk polong, berwarna hijau, dan panjang 15-25 cm. Bijinya lonjong, pipih, berwarna coklat muda. Akarnya tunggang berwarna coklat muda.
Kacang panjang mengandung enam antosianin (sianidin 3-O-galaktosida, sianidin 3-O-glukosida, delfinidin 3-O-glukosida, malvidin 3-O-glukosida, peonidin3-O-glukosida, dan petunidin 3-O-glukosida), flavonol atau glikosida flavonol (kaempferol 3-O-glukosida, quersetin, quersetin 3-O-glukosida, kuersetin 3-O-6′-asetilglukosida), aglikon flavonoid (kuersetin, kaempferol, isorhamnetin). Daun dan akarnya mengandung saponin dan polifenol. Selain itu juga mengandung protein, karbohidrat, lemak, serat, kalsium, besi, fosfor, potasium, sodium, vitamin B1, vitamin B2, vitamin C, dan niasin. Kandungan senyawa-senyawa di dalam kacang panjang ini berperan dalam proses proliferasi, diferensiasi, dan sintesis protein di sel target yang berbeda-beda (Hutapea, J.R, 1994).
Klasifikasi kacang panjang
Kingdom         : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom    : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi     : Spermatophyta (Menghasilkan biji
Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas               : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)
Sub Kelas        : Rosidae
Ordo                : Fabales
Famili              Fabaceae (suku polong-polongan)
Genus              Vigna
Spesies             : Vigna sinensis
Syarat Tumbuh
Adapaun syarat tumbuh tanaman kacang panjang adalah sebagai berikut ini :
Lahan yang cocok adalah sawah berpengairan teknis dengan  ketinggian tempat  sekitar 600m dpl, suhu 25-35oC, pH tanah 5,5-6,5 dengan struktur tanah yang gembur dan kaya bahan organik. Musim yang tepat untuk budidaya kacang panjang pada musim kemarau. Iklimnya kering, curah hujan antara 600-1.500 mm/tahun (Guramalem. 2011).
Media tanam yang cocok untuk budidaya tanaman kacang panjang adalah :
1.      Hampir semua jenis tanah cocok untuk budidaya kacang panjang, tetapi yang paling baik adalah tanah Latosol/lempung berpasir, subur, gembur, banyak mengandung bahan organik dan drainasenya baik.
2.      Tanah kemasaman (pH) sekitar 5,5-6,5. Bila pH terlalu basa (diatas pH 6,5) menyebabkan pecahnya nodula-nodula akar.


Teknis Budidaya
Persiapan Lahan
1.      Pembentukan bedengan
Lahan dibersihkan dari rumput-rumput liar, dicangkul/dibajak sedalam 30 cm hingga tanah menjadi gembur. Buat parit keliling, biarkan tanah dikeringkan selama 15-30 hari. Setelah 30 hari buatlah bedengan dengan ukuran lebar 60-80 cm, jarak antara bedengan 30 cm, tinggi 30 cm, panjang tergantung lahan. Untuk sistem guludan lebar dasar 30-40 cm dan lebar atas 30-50 cm, tinggi 30 cm dan jarak antara guludan 30-40 cm.
2.      Pengapuran
Pengapuran dilakukan jika pH tanah lebih rendah dari 5,5 dengan dosis tergantung kemasaman tanah. Berikan kapur pertanian dalam bentuk kalsit, dolomit, atau zeagro sebanyak 1-2 ton/ha tergantung dari pH awal dan jumlah Alumunium. Kapur dicampur secara merata dengan tanah pada kedalaman 30 cm.
3.      Penambahan pupuk kandang
Pada saat pembentukan bedengan atau guludan tambahkan 10-20 ton/ha pupuk kandang, dengan dosis 4-5 ton/ha dicampur merata dengan tanah sambil dibalikkan
Persiapan Benih
Benih kacang panjang yang baik dan bermutu adalah yang memiliki penampilan bernas/berisi, memiliki ukuran yang seragam dan normal, daya kecambah tinggi di atas 85%, tidak rusak/cacat, tidak mengandung wabah hama dan penyakit. Keperluan benih untuk 1 hektar antara 15-20 kg.
Benih tidak usah disemaikan secara khusus, tetapi benih langsung tanam pada lubang tanam yang telah disiapkan.
Penanaman
Pembuatan jarak lubang tanam untuk tipe merambat adalah 20 x 50 cm, 40 x 60 cm, 30 x 40 cm. Dan jarak tanam tipe tegak adalah 20 x 40 cm dan 30 x 60 cm. Kedalaman lubang tanam jangan terlalu dalam karena bisa menghambat  pertumbuhan benih, cukup benih bisa tertutup oleh tanah saja sekitar 5 cm. Benih yang dimasukkan dalam lubang tanam cukup 2 biji saja. Waktu tanam yang baik adalah awal musim kemarau/awal musim penghujan, tetapi dapat saja sepanjang musim asal air tanahnya memadai.
Pemeliharaan
1.      Penyulaman
Benih kacang panjang akan tumbuh 3-5 hari kemudian. Benih yang tidak tumbuh segera disulam.
2.      Pemupukan
Pupuk Dasar :
        • Kacang panjang tipe merambat:
Urea 150 kg + TSP 100 kg + 100 kg/ha.
        • Kacang panjang tipe tegak:
Urea 22,5 kg + TSP 45 kg + KCl 45 kg/ha.
        • Kacang hibrida:
85 kg Urea + 310-420 kg TSP + 210 kg KCl/ha.
Pupuk diberikan di dalam lubang pupuk yang terletak di kiri-kanan lubang tanam. Jumlah pupuk yang diberikan untuk satu tanaman tergantung dari jarak tanam.
Pupuk Susulan
Pupuk susulan tanaman kacang panjang tipe merambat, diberikan 4 minggu setelah tanam, pupuk berupa urea 150 kg/ha. Sedangkan pupuk susulan untuk kacang panjang tipe tegak diberikan 4 minggu setelah tanam, pupuk berupa urea 85 kg/ha.
Pengairan
Pada fase awal pertumbuhan benih hingga tanaman muda, penyiraman dilakukan rutin tiap hari. Pengairan berikutnya tergantung musim.
Hama utama kacang panjang
·    Lalat kacang (Ophiomya phaseoli Tryon)
Gejala: terdapat bintik-bintik putih sekitar tulang daun, pertumbuhan tanaman yang terserang terhambat dan daun berwarna kekuningan, pangkal batang terjadi perakaran sekunder dan membengkak. Pengendalian: dengan cara pergiliran tanaman yang bukan dari famili kacang-kacangan dan penyemprotan dengan insektisida berbahan aktif asefat dengan konsentrasi 1gr/liter.
·      Kutu daun (Aphis cracivora Koch)
Gejala: pertumbuhan terlambat karena hama mengisap cairan sel tanaman dan penurunan hasil panen. Kutu bergerombol di pucuk tanaman dan berperan sebagai vektor virus. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dengan tanaman bukan famili kacang-kacangan dan penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin dengan konsentrasi 0,5ml/liter.
·      Ulat grayak (Spodoptera litura F.)
Gejala: daun berlubang dengan ukuran tidak pasti, serangan berat di musim kemarau, juga menyerang polong. Pengendalian: dengan peraikan kultur teknis, rotasi tanaman, penanaman serempak, perangkap hama kimiawi dan insektisida klorpirifos dengan konsentrasi 1-2ml/liter.
·      Penggerek biji (Callosobruchus maculatus L)
Gejala: biji dirusak berlubang-lubang, hancur sampai 90%. Pengendalian: dengan membersihkan dan memusnahkan sisa-sisa tanaman tempat persembunyian hama. Benih kacang panjang diberi perlakuan minyak jagung 10 cc/kg biji.
·      Ulat bunga ( Maruca testualis)
Gejala: larva menyerang bunga yang sedang membuka, kemudian memakan polong. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dan menjaga kebersihan kebun dari sisa-sisa tanaman. Disemprot dengan insektisida berbahan aktif triazofos dengan konsentrasi 1-2ml/liter.

Penyakit Utama Kacang Panjang
·      Antraknose
Penyebab: jamur Colletotricum lindemuthianum. Gejala: serangan dapat diamati pada bibit yang baru berkecamabah, semacam kanker berwarna coklat pada bagian batang dan keping biji. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perlakuan benih sebelum ditanam dengan fungisida mankozeb dan karbendazim.
·      Penyakit mozaik
Penyebab: virus Cowpea Aphid Borne Virus/CAMV. Gejala: pada daun-daun muda terdapat gambaran mosaik yang warnanya tidak beraturan. Penyakit ditularkan oleh vektor kutu daun. Pengendalian: dengan menggunakan benih yang sehat dan bebas virus, disemprot dengan insektisida yang efektif untuk kutu daun dengan bahan aktif abamektin dan tanaman yang terserang dicabut dan dibakar.
·      Penyakit sapu
Penyebab: virus Cowpea Witches-broom Virus/Cowpea Stunt Virus. Gejala: pertumbuhan tanaman terhambat, ruas-ruas (buku-buku) batang sangat pendek, tunas ketiak memendek dan membentuk "sapu". Penyakit ditularkan kutu daun. Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit mosaik.
·      Layu bakteri
Penyebab: bakteri Pseudomonas solanacearum E.F. Smith. Gejala: tanaman mendadak layu dan serangan berat menyeabkan tanaman mati. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perbaikan drainase dan mencabut tanaman yang mati, dan penyemprotan fungisida bahan aktif mankozeb atau klorotalonil dengan konsentrasi 2-3gr/liter.
Panen Dan Pascapanen
Ciri-ciri kacang panjang yang siap dipanen adalah ukuran dan panjang polong telah maksimal, mudah dipatahkan dan biji-bijinya di dalam polong tidak menonjol. Waktu panen yang paling baik pada pagi/sore hari. Umur tanaman siap panen 3,5-4 bulan. Cara panen pada tanaman kacang panjang cukup memotong pangkal buahnya saja. Produksi polong muda per satuan luas dapat mencapai minimal 2,0 ton/ha, tergantung varietasnya. Pada varietas KP-I dapat mencapai 6,2 ton/ha dan KP-2 sebesar 2,1 ton/ha.
Selepas panen, polong kacang panjang dikumpulkan di tempat penampungan, lalu dicuci dan ditiriskan. Kemudian menyortir atau memisahkan polong yang baik dengan yang rusak. Untuk sasaran pasar ekspor, kriteria mutu polong muda yaitu ukuran polong minimal 20 cm, tingkat ketuaan polong tergolong muda, penampakan biji tidak menonjol dan warna hijau dan segar.
Untuk mempertahankan kesegaran polong, penyimpanan sementara sebelum dipasarkan sebaiknya di tempat teduh. Penggunaan remukan es/lemari pendingin, sedangkan polong tua disimpan di dalam kaleng dan diletakkan di tempat yang kering dan sirkulasi udara baik.











BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum dilaksanakan pada hari jum’at pukul 07.00, bertempat di area lahan praktikum UMP yang berlokasi di dekat perumahan UMP.
3.2 Alat dan Bahan
Alat :
1.      Pisau
2.      Gembor
3.      Bambu
Bahan :
1.      Umbi bawang merah
2.      Benih caisin
3.      Benih kacang panjang
3.3 Prosedur Kerja
3.3.1 Budidaya Bawang Merah
  • Siapkan lahan, bersihkan lahan dari gulma, buat guludan dengan P : 8 x L 1 m. Dalam lahan terdapat 3 guludan. Sebelum membuat guludan, tanah dicampur dengan pupuk kandang sebagai pupuk dasar.
  • Tanamlah umbi bawang merah dengan kedalaman tanam kira – kira sama dengan tinggi umbi. Setiap lubang diisi dengan umbi yang telah dipotong sebagian ujungnya (1/3 bagian) dengan posisi ujung berada di atas dan bekas potongan tepat rata dengan permukaan tanah. Selanjutnya bagian atas ditutup dengan tanah tipis dan setelah itu tanah disiram dengan air menggunakan gembor agar tanah menjadi lembab.
  • Penyiraman dilakukan sesuai dengan kondisi lapang
  • Lakukan pengamatan jumlah daun mulai tanam berumur 2 mst sampai dengan umur 8 mst dengan interval 1 minggu sekali. Jumlah umbi + daun, bobot umbi tanpa daun dilakukan setelah panen.

3.3.2 Budidaya Caisin
  • Siapkan media semai berupa campuran tanah : pupuk kandang : pasir dengan perbandingan 1 : 1 : 1 kemudian masukan media semai tersebut kedalam seedbox.
  • Tebarkan benih kedalam seedbox (dalam bentuk larikan) dengan jarak tanam ± 5 cm (usahakan jangan tumpang tindih). Tutup benih dengan tanah halus, selanjutnya lakukan penyiraman dengan gembor dan tempatkan ke tempat yang terlindung dari hujan dan sinar matahari.
  • Penanaman dilakukan setelah bibit berumur ± 4 minggu setelah semai atau berdaun 3 – 5 helai, dilakukan pemindahan bibit ke guludan.
  • Pemupukan I, pada saat penanaman berupa : pupuk urea, SP36 dan KCL pada masing – masing = 6 g/tan = 1,5 sendok teh.
  • Pemupukan II, pada saat tanaman berumur 4 minggu setelah tanam (mst) dengan SP36 dengan takaran 2 g/tan = 1/2 sendok teh.
  • Pemberian pupuk dengan cara ketiga yakni mencampurkn rata diletakan dalam alur melingkar ± 10 cm dari batang tanaman kemudian tutup dengan tanah.


  • Lakukan pengamatan :
Jumlah daun                : dihitug jumlah daun yang sudah terbentuk                        sempurna
Tinggi tanaman           : dihitung tinggi caisin dari permukaan tanah
Pengamatan jumlah daun dan tinggi tanaman dimulai pada umur tanaman 7 hst sampai panen.

3.3.3 Budidaya Kacang Panjang
  • Siapkan lahan, bersihkan lahan dari gulma, buat guludan denganP : 8 x L : 1 m. Dalam lahan terdapat 3 guludan, tanah dicampur dengan pupuk kandang sebagai pupuk dasar.
  • Buat lubang tanam dengan kedalaman sekitar 2 cm dan masukan benih sebanyak 2 biji.
  • Penyiraman dilakukan di pagi atau sore hari sesuai kondisi lapang.
  • Penyiangan dilakukan membuang gulma yang dilakukan sesuai kondisi lapang.
  • Pengelolaan hama dan penyakit tanaman dilakukan dengan menyemprotkan pestisida hayati sesuai dengan kondisi lapang.
  • Pemasangan ajir (menggunakan bambu) dilakukan saat tanaman berumur 4 minggu setelah tanam (mst) dengan posisi tegak lurus.
  • Pemupukan I, pada saat penanaman berupa : pupuk urea, SP36 dan KCL pada masing – masing = 6 g/tan = 1,5 sendok teh.
  • Pemupukan II, pada saat tanaman berumur 4 minggu setelah tanam (mst) dengan SP36 dengan takaran 2 g/tan = 1/2 sendok teh.
  • Pemberian pupuk dengan cara ketiga yakni mencampurkn rata diletakan dalam alur melingkar ± 10 cm dari batang tanaman kemudian tutup dengan tanah.
  • Lakukan pengamatan :
Jumlah daun                : dihitug jumlah daun yang sudah terbentuk                        sempurna
Tinggi tanaman           : dihitung tinggi tanaman dari permukaan tanah
Jumlah polong             : dihitung jumlah polong yang terbentuk
Bobot polong              : ditimbang bobot polong yang terbentuk
Pengamatan panjang tanaman dan jumlah daun dilakukan mulai tanaman berumur 2 mst sampai dengan panen pertama. Sedangkan jumlah polong dihitung polong yang terbentuk dan ditimbang bobot polong yang terbentuk mulai panen pertama hingga akhir periode praktikum.











BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Budidaya Bawang Merah
Hari / Tanggal
Uraian Kegiatan
Sabtu, 26 Oktober 2013






Jum’at, 1 November 2013



Sabtu, 9 November 2013

Selasa, 12 November 2013


Jum’at, 15 November 2013



Selasa, 19 November 2013


Jum’at, 22 November 2013


Jum’at 29 November 2013


Senin, 23 Desember 2013
·      Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·      Penanaman bawang merah dilakukan dengan melubangi guludan sebanyak 3 lubang, setiap lubang diisi satu umbi bawang merah yang telah dipotong bagian atasnya (1/3 bagian), kemudian lubang ditutup kembali dengan tanah tipis
·      Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·      Penyiraman tanaman
·      Pengamatan, tinggi masing -  masing tanaman berkisar 1 cm dan memiliki 1 daun.
·      Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·      Penyiraman tanaman.
·      Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·      Pengamatan, tinggi masing – masing tanaman berkisar 3 cm dan memiliki 2 daun.
·      Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·      Pengamatan, tanaman 1 memiliki tinggi 11 cm, tanaman 2 dan 3 mati. Jumlah daun pada tanaman 1 adalah 8 daun.
·      Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·      Pengamatan, tanaman memiliki tinggi 17 cm dan 10 daun.
·      Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·      Pengamatan, tanaman memiliki tinggi 20 cm dan 13 daun.
·      Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·      Pengamatan, tanaman memiliki tinggi 22 cm dan 14 daun.
·      Melakukan pemanenan dan menghiung jumlah umbi bawang merah.
·      Jumlah umbi pada tanaman adalah 9.




4.1.2 Budidaya Caisin
Hari / Tanggal
Uraian Kegiatan
Sabtu, 26 Oktober 2013


Jum’at, 1 November 2013
Sabtu, 9 November 2013
Selasa, 12 November 2013



Jum’at, 15 November 2013

Selasa, 19 November 2013

Jum’at, 22 November 2013


Jum’at 29 November 2013


Senin, 23 Desember 2013
·      Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·      Melakukan penyemaian benih caisin
·      Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·      Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·      Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·      Penanaman bibit caisin pada guludan, guludan di beri 2 lubang masing – masing lubang diisi 2 bibit caisin
·      Tanaman caisin mati semua karena faktor cuaca
·      Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·      Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·      Penanaman kembali bibit caisin
·      Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·      Pengamatan, rata – rata tanaman budidaya memiliki tinggi 3 cm dan 2 daun
·      Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·      Pengamatan, tinggi tanaman 6 cm dan memiliki 5 daun
·      Melakukan proses pemanenan.
·      Menghitung jumlah daun caisin dan tinggi tanaman.
Tanaman 1 : tinggi 10 cm dan memiliki 6 daun.
Tanaman 2 : tinggi 12 cm dan memiliki 8 daun.
Tanaman 3 : tinggi 9 cm dan memiliki 4 daun.














4.1.3 Budidaya Kacang Panjang
Hari / Tanggal
Uraian Kegiatan
Sabtu, 26 Oktober 2013


Jum’at, 1 November 2013




Sabtu, 9 November 2013




Selasa, 12 November 2013

Jum’at, 15 November 2013



Selasa, 19 November 2013



Jum’at, 22 November 2013



Jum’at 29 November 2013




Senin, 23 Desember 2013
·      Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·      Penanaman bibit kacang panjang
·      Pemberian pupuk disekitar tanaman, pupuk yang diberikan yaitu : urea, SP36, dan KCL
·      Pengamatan, tinggi tanaman 9,5 cm dan memiliki 4 daun
·      Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·      Memberikan rambatan pada tanaman berupa bambu
·      Melakukan penyiraman dengan menggunakan gembor
·      Pengamatan, tinggi tanaman 21,5 cm dan memiliki 11 daun
·      Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·      Memperbaiki rambatan bambu yang roboh
·      Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·      Pengamatan,
Tanaman 1 : tinggi 81 cm, 17 daun.
Tanaman 2 : tinggi 90 cm, 19 daun.
·      Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·      Pengamatan,
Tanaman 1 : tinggi 100 cm, 23 daun.
Tanaman 2 : tinggi 113 cm, 24 daun.
·      Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·      Pengamatan,
Tanaman 1 : tinggi 116 cm, 28 daun.
Tanaman 2 : tinggi 121 cm, 27 daun.
·      Membersihkan gulma yang tumbuh pada area tanam
·      Pengamatan,
Tanaman 1 : tinggi 152 cm, 35 daun.
Tanaman 2 : tinggi 167 cm, 39 daun.
Terdapat daun yang menguning.
·         Melakukan proses pemanenan dan menghitung jumlah polong kacang panjang.
Jumlah polong tanaman kacang panjang adalah 61 polong.



4.2 Pembahasan
Penanaman bawang merah dimulai dari pemotongan sepertiga dari bagian atas. Pengolahan tanah dilakukan dengan pembuatan guludan dengan panjang dan lebar 8 x 1 m. Penanaman dilakukan dengan cara larikan, dalam satu baris ditanam 3 umbi bawang merah. Penyebab kerusakan atau kegagalan dikarenakan cuaca yang tidak baik, penyakit dan hama, serta kurangnya perawatan.
Pada budidaya tanaman caisin, dalam melakukan persemaian dilakukan didalam seedbox yang telah terisi tanah cang dicampur pupuk kandang dan benih-benih caisin disebarkan diatas tanah dan ditutp kembali dengan tanah tipis, ini dilakukan agar benih-benih caisin dapat berkecambah dengan baik dan tidak terkena sinar matahari secara langsung dan tetap menjaga kelembaban. Jika disemai pada tanah, benih-benih caisin dapat hilang karena terkena air hujan.
Pada budidaya tanaman kacang panjang, dalam proses penanaman pertama tanama dengan membuat lubang pada guludan sebanyak 2 lubang, masing – masing lubang diisi 2 bibit kacang panjang. Kemudian dilakukan proses pemupukan pada minggu pertama setelah penanaman dengan memberikan pupuk urea, SP36, dan KCL. Selanjutnya tanaman diberi ajir (menggunakan bambu). Pengamatan dilakukan dari proses penanaman hingga periode praktikum berakhir, adapula hal – hal yang diamati yakni tinggi tanaman, dan jumlah daun.







BAB V
PENUTUP

Bawang merah atau Brambang (Allium ascalonicum L.) adalah nama tanaman dari familia Alliaceae dan nama dari umbi yang dihasilkan. Umbi dari tanaman bawang merah merupakan bahan utama untuk bumbu dasar masakan Indonesia. Bawang Merah menyukai daerah yang beriklim kering dengan suhu agak panas dan mendapat sinar matahari lebih dari 12 jam. Bawang merah dapat tumbuh baik didataran rendah maupun dataran tinggi (0-900 mdpl) dengan curah hujan 300 - 2500 mm/th dan suhunya 25 derajat celcius - 32 derajat celcius. Jenis tanah yang baik untuk budidaya bawang merah adalah regosol, grumosol, latosol, dan aluvial, dengan pH 5.5 - 7.
Untuk budidaya tanaman bawang merah ditanam pada guludan dengan memotong sepertiga bagian atas umbinya. Agar tanaman budidaya yang dihasilkan baik maka harus dilakukan perawatan secara intensif dan membersihkan gulma yang tumbuh, serta melakukan pembasmian terhadap hama dan penyakit.
Tanah yang cocok untuk ditanami caisin adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, subur serta drainase yang baik. Misalnya tanah lempung berpasir atau lempung berliat. Derajat kemasaman (pH) tanah berkisar antara 5.5-6.5 merupakan pH yang optimum bagi pertumbuhan caisin. Caisin yang ditanam mati dikarenakan usia benih yang ditanam di guludan masih terlalu mudan dan karena fakor cuaca yang tidak mendukung
Kacang panjang adalah satu dari berbagai jenis sayuran jenis kacang-kacangan yang kaya akan kandungan gizi seperti berbagai vitamin dan mineral. Dengan banyaknya kandungan gizi dalam kacang panjang menjadikannya selalu diminati oleh banyak kalangan masyarakat, sehingga kebutuhan pasar akan kacang panjang masih cukup tinggi.
Dengan pembudidayaan kacang panjang dengan mulai dari pengolahan lahan, pemilihan benih, penanaman, pemeliharaan, penyiraman hingga panen dan pascapanen secara baik, benar dan bijaksana bisa menjadikan hasil panen yang dicapai pasti bisa lebih maksimal dan diharapkan juga bisa meningkatkan kesejahteraan petani yang menanam kacang panjang dalam bidang ekonomi maupun sosial.


















BAB VI
DAFTAR PUSTAKA











BAB VII

LAMPIRAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar