ACARA I : MEMPERSIAPKAN CONTOH TANAH
BAB I
PENDAHULUAN
Tanah
adalah bagian yang terdapat pada kerak bumi yang tersusun atas mineral dan
bahan organik. Tanah merupakan salah satu penunjang yang membantu kehidupan
semua mahluk hidup yang ada di bumi. Tanah sangat mendukung terhadap kehidupan
tanaman yang menyediakan hara dan air di bumi. selain itu, Tanah juga merupakan
tempat hidup berbagai mikroorganisme yang ada di bumi dan juga merupakan tempat
berpijak bagi sebagian mahluk hidup yang ada di darat. Dari segi klimatologi ,
tanah memegang peranan penting sebagai penyimpan air dan mencegah terjadinya
erosi. Meskipun tanah sendiri juga bisa tererosi.
Tanah
adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh
& berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan menyuplai
kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai
hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur
esensial seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl); dan secara
biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif
dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi)
bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas
tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman
obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan.
Tanah
terbentuk dari proses pelapukan batuan yang dibantu oleh organisme membentuk
tekstur unik yang menutupi permukaan bumi. proses pembentukan tanah ini akan
membentuk lapisan-lapisan yang menutupi seluruh permukaan bumi. lapisan-lapisan
yang terbentuk memiliki tekstur yang berbeda dan setiap lapisan juka akan
mencerminkan proses-proses fisika, kimia dan biologi yang telah terjadi selama
proses pembentukannya. Hans Jenny (1899-1992), seorang pakar tanah
asal Swiss yang bekerja di Amerika Serikat, menyebutkan bahwa
tanah terbentuk dari bahan induk yang telah mengalami modifikasi/pelapukan
akibat dinamika faktor iklim, organisme (termasuk manusia), dan
relief permukaan bumi (topografi) seiring dengan berjalannya waktu. Berdasarkan dinamika kelima
faktor tersebut terbentuklah berbagai jenis tanah dan dapat
dilakukan klasifikasi tanah.
Struktur
tanah merupakan karakteristik fisik tanah yang terbentuk dari komposisi
antara agregat (butir) tanah dan ruang antaragregat. Tanah tersusun dari tiga
fase: fase padatan, fase cair, dan fase gas. Fasa cair dan gas mengisi ruang
antaragregat. Struktur tanah tergantung dari imbangan ketiga faktor penyusun ini.
Ruang antaragregat disebut sebagai porus (jamak pori). Struktur tanah baik bagi
perakaran apabila pori berukuran besar (makropori) terisi udara dan pori
berukuran kecil (mikropori) terisi air. Tanah yang gembur (sarang) memiliki
agregat yang cukup besar dengan makropori dan mikropori yang seimbang. Tanah
menjadi semakin liat apabila berlebihan lempung sehingga kekurangan makropori.
BAB II
TEORI DASAR
Mempersiapkan contoh
tanah merupakan suatu keharusan bagi para penempuh ataupun pelaku praktikum
ilmu tanah, hal tersebut karena
dengan adanya persiapan tanah terlebih dahulu maka praktikum ilmu tanah akan
berjalan dengan lancar. Pada praktikum kali ini
maka tanah yang
disiapkan dengan kriteria
diameter 2
mm yang di taruh dalam wadah plasik dan disimpan untuk digunakan pada praktikum
ilmu tanah selanjutnya. Dengan
adanya contoh tanah yang baik maka praktikum akan berjalan dengan baik serta
didapatkan data yang akurat.
BAB III
TUJUAN
Praktikum mempersiapkan
contoh tanah ini bertujuan untuk
mempersiapkan contoh tanahuntuk keperluan praktikum
berikutnya.
BAB IV
MATERI PRAKTIKUM
A.
Bahan
1.
Tanah
B.
Alat
1.
Cangkul.
2.
Ember.
3.
Plastik.
4.
Saringan dengan ukuran 2 mm.
BAB V
PROSEDUR KERJA
1.
Contoh tanah asli, yaitu tanah yang diambil dari lapang lalu disimpan di
tempat yang rapat udara (misalnya kantong plastik, kaleng yang ditutup dengan
lilin)
2.
Bongkahan atau gumpalan tanah yang diperoleh dari tanah asli dipaparkan di
atas tabir, kemudian diperanginkan jauh dari sumber panas maupun kelembaban
selama sekitar satu minggu, maka akan diperoleh contoh tanah kering atau contoh
tanah kering angin.
3.
Dari contoh tanah kering angin bongkahan tadi, ditumbuk dalam mortir dengan
penumbuk kayu secara hati-hati, lalu disaring dengan saringan 2 mm, dan
diperoleh tanah kering udara 2 mm.
4.
Contoh tanah yang diperoleh tadi, kemudian disimpan dalam plastik untuk
selanjutnya dapat digunakan menurut kebutuhan sewaktu-waktu.
BAB VI
HASIL PENGAMATAN DAN ANALISA DATA
Dihasilkan tanah
yang berukuran halus dengan ukuran 2 mm yang kemudian disimpan dalam plastik
untuk dipergunakan pada praktikum selanjutnya.
BAB VII
PEMBAHASAN
Dari praktikum
mempersiapkan contoh tanah didapatkan tanah yang halus dengan ukuran 2 mm dan
kemudian disimpan dalam plastik digunakan untuk keperluan praktikum
selanjutnya.
BAB VIII
KESIMPULAN
Dari praktikum mempersiapkan contoh tanah maka mahasiswa akan lebih mudah dalam praktikum
berikutnya karena bahan utntuk praktikum sudah tersedia denga baik.
DAFTAR PUSTAKA
ACARA II : UJI DRAINASE TANAH
BAB I
PENDAHULUAN
Tanah terdapat di mana
– mana, tetapi kepentingan orang terhadap tanah berbeda – beda. Seorang ahli
pertambangan menganggap tanah sebagai sesuatu yang tidak berguna karena
menutupi barang – barang tambang yang dicarinya. Semua bahan yang digali
kecuali batu – batunya dinamakan tanah. Demikian pula seorang ahli jalan
menganggap tanah adalah bagian permukaan bumi yang lembek sehingga perlu
dipasang batu – batu di permukaannya agar lebih kuat. Dalam kehidupan sehari – hari
tanah diartikan sebagai wilayah darat di mana di atasnya dapat digunkan untuk
berbagai usaha misalnya pertanian, peternakan, mendirikan bangunan, dan lain –
lain.
Dalam pertanian, tanah
diartikan lebih khusus yaitu sebagai media tumbuhnya tanaman darat. Tanah berasal dari hasil
pelapukan batuan bercampur dengan sisa – sisa bahan organic dan organisme
(vegetasi atau hewan) yang hidup di atasnya atau di dalamnya. Selain itu di
dalam tanah terdapat pula udara dan air.
Drainase adalah tanah yang dapat menunjukkan
kemampuan tanah meloloskan air. Tanah dengan tingkat drainase
tinggi dapat menaikkan laju infiltrasi sehingga menurunkan laju air larian.
Pada ilmu tanah, drainase didefenisikan secara kualitatif sebagai
pengurangan gas-gas, cairan-cairan atau penetrasi akar tanaman atau lewat.
Selain itu drainase juga merupakan pengukuran hantaran
hidraulik tanah.hantaran hidraulik tanah timbul adanya pori kapiler yang saling
bersambungan dengan satu dengan yang lain. Secara kuantitatif hantaran
hidraulik jenuh dapat di artikan sebagai kecepatan bergeraknya suatu cairan
pada media berpori dalam keadaan jenuh. Dalam hal ini sebagai cairan adalah air
dan sebagai media pori adalah tanah. Penetapan hantaran hidraulik didasarkan
pada hukum Darcy. Dalam hukum ini tanah dianggap sebagai kelompok tabung
kapiler halus dan lurus dengan jari-jari yang seragam. Sehingga gerakan air dalam tabung tersebut di anggap
mempunyai kecepatan yang sama.
BAB II
TEORI DASAR
Pengertian tanah
sangatlah beragam dan tergantung bidang ilmu yang menilainya. Pengertian tanah
berdasarkan ahli hukum akan berbeda dengan pengertian tanah menurut ahli
ekonomi, lembaga keuangan / perbankan, dan ibu rumah tangga. Tanah menurut ahli
hukum dinilai berdasarkan status tanah atau hak kepemilikan terhadap tanah,
seperti tanah berstatus hak milik berbeda dengan tanah berstatus hak guna usaha
(HGU) dan hak pakai serta sangat berbeda sekali dengan tanah garapan. Tanah
menurut ahli ekonomi dan lembaga keuangan perbankan dipahami berdasarkan
kedekatan lokasi tanah dengan akses dan kelancaran akses serta kedekatan dengan
pusat pengembangan. Tanah yang dekat jalan atau dekat pusat pengembangan
memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi daripada tanah yang berlokasi jauh
dari akses jalan atau jauh dari pusat pengembangan. Berbeda dengan pengertian
tanah menurut ibu rumah tangga yang selelu mengingatkan anak-anaknya agar
jangan bermain tanah dan selalu mengingatkan anak-anaknya tidak lupa mencuci
tangan dan kaki apabila kena tanah.
Kajian pedologi
mendefinisikan tanah berdasarkan dinamika dan evolusi tanah secara alamiah atau
berdasarkan pengetahuan alam murni. Beberapa contoh kajian lebih lanjut tentang
tanah dengan landasan pendekatan pedologi adalah: fisika tanah, kimia tanah,
biologi tanah, morfologi tanah, klasifikasi tanah, survei tanah, pemetaan
tanah, analisis bentang lahan, dan ilmu ukur tanah. Kajian edaphologi mendefinisikan tanah berdasarkan
peranan tanah tersebut sebagai media tumbuh tanaman. Beberapa contoh kajian
tanah tingkat lanjut yang dilandasi pendekatan edaphologi adalah: kesuburan
tanah, konservasi tanah dan air, agrohidrologi, pupuk dan pemupukan, ekologi
tanah, dan bioteknologi tanah.
Drainase tanah adalah
kemampuan tanah mengalirkan dan mengaruskan
kelebihan air yang berada dalam tanah maupun pada permukaan tanah. Air
berlebihan yang menggenangi tanah disebabkan oleh pengaruh topografi, air tanah
yang dangkal, dan curah hujan. Untuk mengatasi sifat drainase yang buruk
dilakukan dengan membangun selokan-selokan.
Drainase adalah tanah yang dapat menunjukkan
kemampuan tanah meloloskan air. Tanah dengan tingkat drainase
tinggi dapat menaikkan laju infiltrasi sehingga menurunkan laju air larian.
Pada ilmu tanah, drainase didefenisikan secara kualitatif sebagai
pengurangan gas-gas, cairan-cairan atau penetrasi akar tanaman atau lewat.
Selain itu drainase juga merupakan pengukuran hantaran
hidraulik tanah.hantaran hidraulik tanah timbul adanya pori kapiler yang saling
bersambungan dengan satu dengan yang lain. Secara kuantitatif hantaran
hidraulik jenuh dapat di artikan sebagai kecepatan bergeraknya suatu cairan
pada media berpori dalam keadaan jenuh. Dalam hal ini sebagai cairan adalah air
dan sebagai media pori adalah tanah. Penetapan hantaran hidraulik didasarkan
pada hukum Darcy. Dalam hukum ini tanah dianggap sebagai kelompok tabung
kapiler halus dan lurus dengan jari-jari yang seragam. Sehingga gerakan air dalam tabung tersebut di anggap
mempunyai kecepatan yang sama.
BAB III
TUJUAN
Praktikum ini bertujuan
melakukan pengujian terhadap drainase tanah, untuk mengetahui kemampuan tanah
meneruskan air, untuk mengetahui berapa waktu tanah dalam meneruskan air, agar
mahasiswa dapat mengetahui, dan mengerti tentang drainase.
BAB IV
MATERI PRAKTIKUM
A.
Bahan
1.
Paralon aerasi yang memiliki tutup dan lubang di bagian samping dan bawah
(Tinggi ± 45 cm, Volume 1158,66 cm3).
2.
Air.
B.
Alat
1.
Cangkul.
2.
Gelas ukur.
3.
Stopwatch.
BAB V
PROSEDUR KERJA
1.
Dipersiapkan peralatan penguji drainase tanah yang berpori di bagian bawah,
2.
Dibuat lubang di permukaan tanah sebagai lubang uji, ukuran lubang uji
dipastikan sedalam dan sebesar alat penguji aerasi,
3.
Alat penguji aerasi dimasukan ke dalam lubang uji, dipastikan permukaan
alat penguji rata dengan tanah,
4.
Disiapkan air sekitar 1000 ml dalam gelas ukur,
5.
Dimasukan air ke dalam alat penguji secara cepat namun tidak tumpah,
6.
Dilakukan pengamatan terhadap kecepatan drainase tanah, dengan cara
mengukur waktu yang dibutuhkan untuk meresapkan air,
7.
Dilakukan ulangan pengujian aerasi sebanyak tiga kali.
BAB VI
HASIL PENGAMATAN DAN ANALISA DATA
|
Paralon
|
Kecepatan
Drainase (detik)
|
|
A
|
346
|
|
B
|
32,92
|
|
C
|
114
|
BAB VII
PEMBAHASAN
Dari pengamatan
yang telah dilakukan ditemukan perbedaan kecepatan tanah dalam menyerap air.
Dimana paralon A memiliki daya serap air yang paling lama, dan paralon B
memiliki daya serap air yang paling cepat. Hal ini dipengaruhi oleh kandungan
air dan udara pada masing – masing
tanah. Pada paralon A tanah cenderung bersifat basah dan memiliki
kandungan air yang tinggi, dan kandungan udara yang sedikit, sehingga daya
serap air berlangsung lama. Sedangkan pada paralon B tanah cenderung bersifat
kering dan memiliki kandungan air yang sedikit dan kandungan udara yang banyak,
sehingga air dapat diserap oleh tanah dalam waktu yang cepat.
Faktor yang mempengaruhi Drainase :
- Tekstur
Tekstur sangat mempengaruhi drainase
tanah. Hal ini dikarenakanpermeabilitas itu adalah melewati tekstur tanah.
Misalnya tanah yang bertekstur pasir akan mudah melewatkan air dalam tanah.
- Struktur
Struktur juga
mempengaruhi permebilitas. Semakin banyak ruang antar struktur, maka semakin
cepat juga permeabilitas dalam tanah tersebut. Misalnya tanah yang berstruktur
lempeng akan sulit di tembus oleh air daru pada berstruktur remah.
- Porositas
Porositas atau
ruang pori adalah rongga antar tanah yang biasanya diisi air atau udara. Pori
sangat menentukan sekali dalam permeabilitas tanah, semakin besar pori dalam
tanah tersebut, maka semakin cepat pula permeabilitas tanah tersebut.
- Viskositas
Viskositas sama
juga dengan kekentalan air, semakin kental air tersebut, maka semakin sulit
juga air untuk menembuas tanah tersebut.
- Gravitasi
Gaya gravitasi
atau gaya tarik bumi juga sangat menentukan drainase tanah, karena
permeabilitas adalah gaya yang masuk ke tanah menrut gaya gravitasi.
BAB VIII
KESIMPULAN
Dari praktikum yang
telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa drainase tanah adalah kemampuan tanah mengalirkan dan
mengaruskan kelebihan air yang berada dalam
tanah maupun pada permukaan tanah. Air berlebihan yang menggenangi tanah
disebabkan oleh pengaruh topografi, air tanah yang dangkal, dan curah hujan. Drainase dipengaruhi oleh kandungan
air dan udara dalam tanah.
Kelas
drainase yaitu:
1.
Cepat
2.
Agak cepat
3.
Baik
4.
Agak baik
5.
Agak terhambat
6.
Terhambat
7.
Sangat terhambat
DAFTAR PUSTAKA
ACARA III : UJI KEMAMPUAN MENAHAN AIR
BAB I
PENDAHULUAN
Tekstur tanah yang berbeda mempunyai kemampuan menahan
air yang berbeda pula. Tanah bertekstur halus, contohnya : tanah bertekstur liat, memiliki ruang pori halus yang lebih banyak, sehingga berkemampuan menahan air lebih banyak. Sedangkan tanah bertekstur kasar, contohnya : tanah bertekstur pasir, memiliki ruang pori halus lebih sedikit,
sehingga kemampuan menahan
air lebih sedikit pula.
Air
mempunyai fungsi yang penting dalam tanah. Antara lain pada proses pelapukan
mineral dan bahan organik tanah, yaitu reaksi yang mempersiapkan hara larut
bagi pertumbuhan tanaman. Selain itu, air juga berfungsi sebagai media gerak
hara ke akar-akar tanaman. Akan tetapi, jika air terlalu banyak tersedia,
hara-hara dapat tercuci dari daerah-daerah perakaran atau bila evaporasi
tinggi, garam-garam terlarut mungkin terangkat kelapisan tanah atas. Air yang
berlebihan juga membatasi pergerakan udara dalam tanah, merintangi akar tanaman
memperoleh O2 sehingga dapat mengakibatkan tanaman mati.
Kandungan
air tanah dapat ditentukan dengan beberapa cara. Sering dipakai istilah-istilah
nisbih, seperti basah dan kering. Kedua-duanya adalah kisaran yang tidak pasti
tentang kadar air sehingga istilah jenuh dan tidak jenuh dapat diartikan yang
penuh terisi dan yang menunjukkan setiap kandungan air dimana pori-pori belum
terisi penuh. Jadi yang dimaksud dengan kadar air tanah adalah jumlah air yang
bila dipanaskan dengan oven yang bersuhu 105oC hingga diperoleh berat tanah
kering yang tetap.
Dua fungsi
yang saling berkaitan dalam penyediaan air bagi tanaman yaitu memperoleh air
dalam tanah dan pengaliran air yang disimpan ke akar-akar tanaman. Jumlah air
yang diperoleh tanah sebagian bergantung pada kemampuan tanah yang menyerap air cepat dan
meneruskan air yang diterima dipermukaan tanah ke bawah. Akan tetapi jumlah ini
juga dipengaruhi oleh faktor-faktor luar seperti jumlah curah hujan tahunan dan
sebaran hujan sepanjang tahun.
BAB II
TEORI DASAR
Air terdapat di dalam
tanah Alfisol ditahan (diserap) oleh massa tanah, tertahan oleh lapisan kedap
air, atau karena keadaan drainase yang kurang baik. Baik kelebihan air ataupun
kekurangan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Fungsi air tanah yaitu
sebagai pembawa unsur hara dalam tanah serta keseluruhan bagian tanaman. Kadar
air selalu berubah sebagai respon terhadap faktor-faktor lingkungan dan gaya gravitasi.
Karena itu contoh tanah dengan kadar air harus disaring, diukur, dan biasanya
satu kali contoh tanah akan dianalisis untuk penerapan suatu sifat. (Hakim,
dkk., 1986).
Jumlah air yang ditahan
oleh tanah dapat dinyatakan atas dasar berat dan isi. Begitupula pada tanah
Alfisol pada umunya, dasar penentuannya adalah pengukuran kehilangan berat dari
suatu contoh tanah yang lebih lembab setelah dikeringkan pada suhu 105oC selama
24 jam. Kehilangan berat sama dengan berat air yang terdapat dalam contoh tanah.
Kadar air (0) dihitung secara gravimetrik dengan satuan g / g, yaitu berat air
yang terdapat di dalam suatu massa tanah kering (0 = tanah lembab-berat kering
oven). (Pairunan, dkk., 1985)
Kadar air dalam tanah
Alfisol dapat dinyatakan dalam persen volume yaitu persen volume air terhadap
volume tanah. Cara ini mempunyai keuntungan karena dapat memberikan gambaran
tentang ketersediaan air pada pertumbuhan pada volume tanah tertentu. Cara
penetapan kadar air tanah dapat digolongkan dengan beberapa cara penetapan
kadar air tanah dengan gravimetrik, tegangan atau hisapan, hambatan listrik dan
pembauran neutron. (Hardjowigeno, S., 1992).
Daya pengikat
butir-butir tanah Alfisol terhadap air adalah besar dan dapat menandingi
kekuatan tanaman yang tingkat tinggi dengan baik begitupun pada tanah
Inceptisol dan Vertisol, karena itu tidak semua air tanah dapat diamati dan
ditanami oleh tumbuhan. (Syarief, 1998).
Faktor tumbuhan dan
iklim mempunyai pengaruh yang berarti pada jumlah air yang dapat diabsorpsi
dengan efisien tumbuhan dalam tanah. Kelakukan akan ketahanan pada kekeringan,
keadaan dan tingkat pertumbuhan adalah faktor tumbuhan yang berarti. Temperatur
dan perubahan udara merupakan perubahan iklim dan berpengaruh pada efisiensi
penggunaan air tanah dan penentuan air yang dapat hilang melalui saluran
evaporasi permukaan tanah. Diantara sifat khas tanah yang berpengaruh pada air
tanah yang tersedia adalah hubungan tegangan dan kelembaban, kadar garam,
kedalaman tanah, strata dan lapisan tanah. (Buckman dan Brady, 1982).
Banyaknya kandungan air
tanah berhubungan erat dengan besarnya tegangan air (moisture tension) dalam
tanah tersebut. Kemampuan tanah dapat menahan air antara lain dipengaruhi oleh
tekstur tanah. Tanah-tanah yang bertekstur kasar mempunyai daya menahan air
yang lebih kecil dari pada tanah yang bertekstur halus. Pasir umumnya lebih
mudah kering dari pada tanah-tanah bertekstur berlempung atau liat.
(Hardjowigeno, S., 1992).
BAB III
TUJUAN
Praktikum ini
bertujuan menguji kemampuan tanah dalam menahan air, untuk mengetahui selisih antara volume air yang
disiramkan dengan
volume air yang tertampung di bak penampungan.
BAB IV
MATERI PRAKTIKUM
A.
Bahan
1.
Tanah.
2.
Air 500 ml.
B.
Alat
1.
Alat penguji
menahan air yang berpori di bagian bawah
2.
Gelas ukur.
3.
Botol penampung
4.
Besi penyangga
BAB V
PROSEDUR KERJA
1.
Menyiapkan alat
penguji yang berpori dibagian bawah dan alat penguji penahan air.
2.
Memasukan tanah
kedalam alat penguji.
3.
Mengatur sedemikian
rupa sehingga bagian yang berpori menghadap kebawah dan mengarah alat penguji
penahan air.
4.
Memasukan air
kedalam alat penguji.
5.
Menunggu hingga air
tidak menetes lagi.
6.
Mengukur air yang
tertampung didalam alat penguji penahan air dengan menggunakan gelas ukur.
7.
Melakukan pengujian
ulang kapasits menahan air tiga kali.
BAB VI
HASIL PENGAMATAN DAN ANALISA DATA
|
Paralon
|
Air yang
tertampung
|
Air yang tertahan
|
|
1
|
300
|
200
|
|
2
|
300
|
200
|
|
3
|
280
|
220
|
BAB VII
PEMBAHASAN
Padapengujian 1 air yang tertahan adalah 200 ml, pada pengujian
2 air yang tertahan adalah 200 ml, pada pengujian 3 air yang tertahan adalah 220 ml.
Kemampuan tanah menahan air dipengaruhi antara lain oleh tekstur
tanah. Tanah-tanah bertekstur kasar mempunyai daya menahan air lebih kecil
daripada tanah bertekstur halus. Oleh karena itu, tanaman yang ditanam pada
tanah pasir umumnya lebih mudah kekeringan daripada tanah-tanah bertekstur
lempung atau liat.
Kondisi kelebihan air ataupun kekurangan air dapat mengganggu
pertumbuhan tanaman.
Ketersediaan
air dalam tanah dipengaruhi:
1.
Banyaknya curah hujan atau air
irigasi,
2.
Kemampuan tanah menahan air,
3.
Besarnya evapotranspirasi
(penguapan langsung melalui tanah dan melalui vegetasi),
4.
Tingginya muka air tanah,
5.
Kadar bahan organik tanah,
6.
Senyawa kimiawi atau kandungan
garam-garam, dan
7.
Kedalaman solum tanah atau
lapisan tanah.
BAB VIII
KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan
bahwa Air terdapat di dalam tanah Alfisol
ditahan (diserap) oleh massa tanah, tertahan oleh lapisan kedap air, atau
karena keadaan drainase yang kurang baik. Baik kelebihan air ataupun kekurangan
air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Fungsi air tanah yaitu sebagai
pembawa unsur hara dalam tanah serta keseluruhan bagian tanaman. Kadar air
selalu berubah sebagai respon terhadap faktor-faktor lingkungan dan gaya
gravitasi. Karena itu contoh tanah dengan kadar air harus disaring, diukur, dan
biasanya satu kali contoh tanah akan dianalisis untuk penerapan suatu sifat.
DAFTAR PUSTAKA
dasar2ilmutanah.blogspot.com
wartawarga.gunadarma.ac.id
ACARA IV : UJI KAPILARITAS TANAH
BAB I
PENDAHULUAN
Tanah yang mampu
menyerap air dari bawah atau memiliki kapilaritas berarti tanah tersebut hidup
subur / punya bahan organik yang tinggi. Kapilaritas disebabkan oleh
interaksi molekul-molekul di dalam zat cair. Di dalam zat cair
molekul-molekulnya dapat mengalami gaya adhesi dan kohesi.
Gaya kohesi adalah
tarik-menarik antara molekul-molekul di dalam suatu zat cair sedangkan gaya
adhesi adalah tarik menarik antara molekul dengan molekul lain yang tidak
sejenis, yaitu bahan wadah di mana zat cair berada. Apabila adhesi lebih besar
dari kohesi seperti pada air dengan permukaan gelas, air akan berinteraksi kuat
dengan permukaan gelas sehingga air membasahi kaca dan juga permukaan atas
cairan akan melengkung (cekung). Keadaan ini dapat menyebabkan cairan dapat
naik ke atas oleh tegangan permukaan yang arahnya keatas sampai batas
keseimbangan gaya ke atas dengan gaya berat cairan tercapai. Jadi air dapat
naik keatas dalam suatu pipa kecil yang biasa disebut pipa kapiler. Inilah yang
terjadi pada saat air naik dari tanah ke atas melalui tembok. Air dapat
merembes ke atas melalui retakan tembok sehingga membasahi tembok.
Gejala alam kapilaritas
ini memungkinkan kita menghitung tinggi kenaikan air dalam suatu pipa kapiler
berbentuk silinder/tabung dengan jari-jari r.
BAB II
TEORI DASAR
Kapilaritas adalah peristiwa naik dan turunnya suatu permukaan zat cair ke dalam
pipa kapiler (pipa dengan atau dalam celah adalah:sempit). Inilah Beberapa
contoh gejala kapilaritas dalam kehidupan sehari-hari kita :
1.
Naiknya minyak tanah melalui
sumbu kompor minyak/lampu minyak.
2.
Meresapnya air pada kain pel,
kertas tisu, spons, dan kertas isap.
3.
Naiknya air dan mineral dari
dalam tanah melalui akar pada tumbuhan.
Pengertian Air
Air adalah semua air yang terdapat pada, di atas maupun di bawah
permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air
hujan, dan air laut yang dimanfaatkan di darat.
Jenis-Jenis Air
Air merupakan sumber kehidupan yang tidak dapat tergantikan oleh apa
pun juga.Tanpa air manusia, hewan dan tanaman tidak akan dapat hidup. Air di
bumi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :
1.
Air Tanah
Air tanah adalah air yang berada di bawar permukaan tanah. Air tanah
dapat kita bagi lagi menjadi dua, yakni air tanah preatis dan air tanah
artesis.
a. Air Tanah Preatis
Air tanah preatis adalah air tanah yang letaknya tidak jauh dari
permukaan tanah serta berada di atas lapisan kedap air / impermeable.
b. Air Tanah Artesis
Air tanah artesis letaknya sangat jauh di dalam tanah serta berada
di antara dua lapisan kedap air.
2.
Air Permukaan
Air pemukaan adalah air yang berada di permukaan tanah
dan dapat dengan mudah dilihat oleh mata kita. Contoh air permukaan seperti
laut, sungai, danau, kali, rawa, empang, dan lain sebagainya. Air permukaan
dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu :
a. Perairan daratadalah air permukaan yang berada di atas daratan
misalnya seperti rawa-rawa, danau, sungai, dan lain sebagainya.
b. Perairan laut adalah air permukaan yang berada di lautan luas.
Contohnya seperti air laut yang berada di laut.
Sifat dan
Kegunaan Air
1.
Air Menempati Ruang
Setiap hari kita minum. Air yang kita minum,
kita tuangkan ke dalam gelas atau cangkir. Jika dituangi terus, suatu saat
gelas akan penuh dan akhirnya air di dalam gelas tumpah. Tupahnya air
menunjukkan bahwa gelas tidak mampu lagi menampung air. Hal itu merupakan bukti
bahwa air menempati ruangan.
2.
Bentuk Permukaan Air
Permukaan air yang tenang selalu datar.
Sifat ini dalam kehidupan sehari-hari dimanfaatkan untuk mengetahui datar
tidaknya suatu tempat. Alat yang digunakan untuk mengetahui datar atau tidaknya
suatu tempat disebut waterpas. Alat ini banyak digunakan oleh tukang batu. Bentuk
datar permukaan air juga berlaku pada bejana berhubungan. Bejana berhubungan
adalah dua atau lebih bejana yang saling dihubungkan.
3.
Air Mengalir dari Tempat Tinggi
ke Tempat yang Rendah
Walaupun secara alami air mengalir dari
tempat tinggi ke tempat yang rendah, tetapi kita dapat mengalirkan air dari
tempat rendah ke tempat tinggi. Misalnya pompa air.
4.
Air Dapat Melarutkan Berbagai
Zat
Mengapa gula yang dimasukkan ke dalam air
lama-kelamaan lenyap setelah diaduk beberapa saat ? Sebenarnya, gula yang
dimasukkan ke dalam air tidak lenyap. Peristiwa ini dikatakan gula larut dalam
air. Tidak hanya manusia, hewan dan tumbuhan pun banyak mengambil manfaat dari
kelarutan zat. Tanpa adanya kelarutan zat, sari-sari makanan tidak dapat
diedarkan ke seluruh bagian tubuh.
5.
Air Menekan ke Segala Arah
Wilayah negara kita, sebagian besar berupa
peraiaran. Dengan teknologi, kita dapat memanfaatkan perairan sebaik-baiknya.
Hal penting yang harus kamu ketahui tentang air adalah tekanan air. Adanya
tekanan air inilah yang menyebabkan orang dapat berenang dan kapal dapat
terapung.
6.
Air Meresap melalui Celah-Celah
Kecil
Air yang disiramkan ke tanah meresap melalui
celah-celah kecil tanah. Meresapnya air dalam tanah sangat penting bagi
kehidupan. Hal itu karena air yang meresap dalam tanah. Peristiwa peresapan air
juga dapat kita lihat pada kain. Jika sebuah kain terkena percikan air, air
tersebut akan meluas pada kain. Akibatnya, bagian kain yang basah semakin luas.
BAB III
TUJUAN
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui
air yang terserap dari dalam tanah dimana air dibawah permukaan tanah,
mengetahui ukuran air yang meresap kedalam tanah.
BAB IV
MATERI PRAKTIKUM
A.
Bahan
1.
Tanah.
2.
Air.
B.
Alat
1.
Penguji kapilaritas
yang berpori dibagian bawah.
2.
Nampan.
3.
Stopwatch.
4.
Penggaris.
BAB V
PROSEDUR KERJA
1.
Menyiapkan alat
penguji yang berpori dibagian bawah.
2.
Tanah halus (tanah
yang diremahkan).
3.
Meletakan alat
penguji yang berisi tanah diatas nampan berisi air.
4.
Melakukan
pengamatan setelah 20 menit.
5.
Mengukur tinggi
yang dicapai oleh air di tanah yang berada didalam alat penguji.
6.
Melakukan pengujian
kapilaritas sebanyak tiga kali
BAB VI
HASIL PENGAMATAN DAN ANALISA DATA
|
Penguji
|
Tinggi
kapilaritas air
|
|
1
|
16 cm
|
|
2
|
13 cm
|
|
3
|
Gagal
|
BAB VII
PEMBAHASAN
Faktor yg mempengaruhi Air Tersedia tersebut
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
- Hubungan tegangan dengan kelengasan
- Kedalaman tanah
- Pelapisan Tanah
Tanah itu jenuh akan air pada permukaan dan dibawah
dataran air. Air berpindah keatas karena kekapileran dari dataran air dan
membuat pinggiran kapiler yang kandungan airnya lebih besar dari pada kapasitas
lapangan. Pori – pori besar menarik air keatas hanya dalam jarak pendek dan
pori – pori kecil menarik air sampai jarak yang lebih besar dari dataran
tinggi. Meningkatkan jarak diatas dataran air dan peningkatan kandungan udara
pada pinngiran kapiler mempunyai kandungan air yang diatur oleh keseimbangan
antara penyusupan dan evapotranspirasi serta perkolasi ( penerobosan ).
- Tegangan Matrik : tekstur, struktur dan
kandungan bahan organik mempengaruhi jumlah air yg dapat disediakan tanah
bagi tanaman.
- Teganagn Osmotik : adanya garam dalam tanah meningkatkan
tegangan osmotik dan menurunkan jumlah air tersedia, yaitu menaikkan
koefisien layu.
BAB VIII
KESIMPULAN
Kapilaritas
ialah peristiwa naik dan turunnya suatu permukaan zat cair ke dalam pipa
kapiler (pipa dengan atau dalam celah sempit). Kapilaritas bergantung pada besarnya pori yang dilalui air, semakin besar
pori-pori maka kecepatan kapilaritas akan semakin cepat.
DAFTAR PUSTAKA
ACARA V : UJI TEKSTUR TANAH
BAB I
PENDAHULUAN
Tanah dapatdigunakansebagai media pertumbuhan tanaman, ada sebagai penopang jalanya serta pondasi bangunan. Oleh karena itu tekstur tanah merupakan sifat tanah yang
lebih permanen dan terpenting dan akan dibahas.
Tekstur tanah dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan suatu tanaman. Tekstur tanah yang sesuai bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman dapat memacu dan memperkuat tanaman untuk dapat tumbuh dengan baik, sehinnga segala sesuatu yang
diperlukan karena faktor tanah dapat diperoleh. Tekstur tanah juga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mendirikan suatu bangunan, apakah suatu bangunan tersebut dapat berdiri kokoh atau tidak di wilayah tersebut, sehingga perlunya suatu analisis untuk menentukan jenis tekstur tanah suatu area
atau wilayah tertentu.
Penentuan tekstur tanah dapat ditentukan dengan metode analisis kualitatif, dengan merasakan tanah langsung dengan menggunakan jari tangan sehingga dapat diketahui tingkat kehalusan dan kekasarannya.
Hal ini disebabkan karena penentuan tekstur tanah merupakan perbandingan fraksi tanah yang
meliputi kandungan liat, debu, dan pasir dalam suatu massa tanah yang memiliki bentuk partikel yang
berbeda-beda. Bila terasa halus maka tanah memiliki kandungan liat yang dominan dan bila kasar maka kandungan pasirnya dominan.
BAB II
TEORI DASAR
Tekstur tanah merupakan
satu sifat fisik tanah yang secara praktis dapat dipakai sebagai alat evaluasi
atau jugging ( pertimbangan ) dalam suatu potensi penggunaan tanah. Tekstur tanah
menunjukkan perbandingan relatif antara Pasir ( sand ) berukuran 2 mm – 50
mikron, debu ( silt ) berukuran 50 – 2 mikron dan liat ( clay ) berukuran <
2 mikron. Klasifikasi tekstur ini berdasarkan jumlah partikel yang berukuran
< 2 mm. Jika dijumpai partikel yang > 2 mm dengan jumlah yang nyata, maka
penambahan / penyisipan kata – kata berkerikil atau berbatu ditambahkan pada
nama kelas tekstur tadi. Sebagai contoh lempung berbatu.
Untuk keperluan
pemilihan ada 12 kelas tekstur tanah. Dan pembagian itu kemudian disederhanakan
menjadi 7 kelas yang terdiri dari pasir, lempung kasar, lempung halus, debu
kasar, debu halus, liat debu dan liat sangat halus. Tekstur merupakan sifat
yang sangat penting karna berpengaruh pada sifat – sifat kimia, fisik dan biologi
tanah. Tanah secara garis besar dapat dibagi menjadi 2 kelas yaitu tanah
bertekstur kasar dan tanah bertekstur halus.
Tanah bertekstur halus
( dominant liat ) memiliki permukaan yang lebih halus dibanding dengan tanah
bertekstur kasar ( dominan pasir ). Sehingga tanah – tanah yang bertekstur
halus memiliki kapasitas adsorpsi unsur – unsur hara yang lebih besar. Dan
umumnya lebih subur dibandingkan dengan tanah bertekstur kasar. Karna banyak
mengandung unsure hara dan bahan organik yang dibutuhkan oleh tanaman. Tanah
bertekstur kasar lebih porus dan laju infiltrasinya lebih cepat. Walaupun
demikian tanah bertekstur halus memiliki kapasitas memegang air lebih besar
dari pada tanah pasir karna memiliki permukaan yang lebih luas. Tanah – tanah
berliat memiliki persentase porus yang lebih banyak yang berfungsi dalam
retensi air ( water retension ). Tanah – tanah bertekstur kasar memiliki makro
porus yang lebih banyak, yang berfungsi dalam pergerakan udara dan air.
Penetapan tekstur tanah
secara garis besar dapat dibagi dua, yaitu :
1.
Penetapan
kasar yaitu menurut perasaan di lapang
2.
Penetapan
di laboratorium
Analisis Tekstur
Penetapan Tekstur Tanah
Menurut Perasaan di Lapang. Penetapan tekstur tanah di lapang dapat dilakukan
dengan cara merasakan atau meremas contoh tanah antara ibu jari dan telunjuk.
Adapun metodenya adalah
sebagai berikut :
1.
Ambil
segumpal tanah kira-kira sebesar kelereng, basahi dengan air hingga dapat ditekan
2.
Pijit
contoh tanah dengan ibu jari dan telunjuk, kemudian bentuk seperti benang
sambil dirasakan. Langkah pertama yang perlu ditetapkan adalah apakah tanah
tersebut bertekstur liat, lempung berliat, lempung atau pasir.
a.
Jika
bentukan benang tersebut terbentuk dengan mudah dan tetap, maka contoh tanah
tersebut besar kemungkinan adalah liat.
b.
Jika
bentukan benang tersebut terbentuk tapi mudah patah, maka kemungkinan lempung
berliat.
c.
Jika
tidak terbentuk benang, kemungkinan lempung berpasir.
d.
Jika
terasa lembut (halus dan licin) seperti tepung, maka debu yang dominan. Tetapi
jika terasa berbentuk butir-butir, maka yang dominan adalah pasir.
3.
Untuk
menentukan kelas tekstur selanjutnya dapat digunakan pedoman penetapan tekstur
di lapang seperti di bawah ini.
·
Pasir
(s), Rasa kasar jelas, tidak membentuk bola dan gulungan serta tidak melekat.
·
Pasir
berlumpur (ls), Rasa kasar sangat jelas, membentuk bola yang mudah sekali
hancur serta sedikit sekali melekat.
·
Lempung
berpasir (sl,Rasa kasar agak jelas, membentuk bola agak keras, mudah hancur
serta melekat.
·
Lempung
berdebu (si.l,Rasa licin, membentuk bola teguh, membentuk pita, lekat.
·
Lempung
(l),Rasa tidak kasar dan tidak licin, membentuk bola teguh, dapat sedikit
digulung dengan permukaan mengkilat serta melekat.
·
Debu
(si), Rasa licin sekali, membentuk bola teguh, dapat sedikit digulung dengan
permukaan mengkilat serta agak melekat.
·
Lempung
berliat (ci.l), Rasa agak kasar, membentuk bola teguh (kering), membentuk
gulungan jika dipijit, gulungan mudah hancur serta melekatnya sedang
·
Lempung
liat berpasir(s.cl.l), rasa kasar agak jelas, membentuk bola teguh (kering),
membentuk gulungan jika dipijit, gulungan mudah hancur serta melekat.
·
Lempung
liat berdebu (si.cl.l),Rasa jelas licin, membentuk bola teguh, gulungan,
gulungan mengkilat serta melekat.
·
Liat
berpasir (si.cl),rasa licin agak kasar, membentuk bola dalam keadaan kering
sukar dipijit, mudah di gulung serta melekat sekali.
·
Liat
berdebu (si.cl),Rasa agak licin, membentuk bola dalam keadaan kering sukar
dipijit, mudah digulung serta melekat.
·
Liat
(cl), Rasa berat membentuk bola baik serta melekat sekali
·
Liat
berat (K),Sama seperti rasa dan sifat tanah liat, tetapi rasa berat
sekali.
Macam-Macam Tekstur Tanah
Ada tiga macam tekstur tanah yang utama, yaitu pasir (sand),
lempung (loam), dan liat (clay). Tanah dikatakan pasir bila jandungan pasirnya
lebih dari 70%. Sedangkan lait apabila kandungan litany lebih dari 35%. Jika
suatu fraksi bukan fraksi liat ataupun pasir, maka itu adalah fraksi debu.
Departemen Pertanian Amerika Serikat membagi tekstur tanah menjadi 12 kelas
tekstur. Penetapan tekstur tanah ada 2, yaitu :
1.
Penetapan
di Laboratorium
2.
Penetapan
Tekstur di Lapang
Perbedaan Tekstur Utama dari Kemampuan
Fisik, Kimia dan Biologi.
Tekstur merupakan sifat
yang sangat penting karena berpengaruh terhadap sifat-sifat kimia, fisik dan
biologi tanah. Tanah secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kelas yaitu
tanah bertekstur kasar dan halus. Dan tekstur kasar dan halus inipun bisa
diklasifikasikan menjadi beberapa bagian lagi sesuai dengan kandungan liat,
pasir dan debu.
Tanah bertekstur halus
ini didominhasi oleh tanah liat dengan tekstur yang lembut dan licin yang
memiliki permukaan yang lebih halus dibandingkan dengan tanah bertekstur kasar
yang biasanya berbentuk pasir. Sehingga tanah-tanah yang bertekstur halus
memiliki kapasitas dalam proses penyerapan unsur-unsur hara yang lebih besar
dibandingkan dengan tanah yang bertekstur kasar. Namun, pada tanah bertekstur
lembut ini umumnya lebih subur dibandingkan dengan tanah bertekstur kasar.
Karena banyak mengandung unsure hara dan bahan organic yang dibutuhkan oleh
tanaman serta mudah dalam menyerap unsur hara.
Sedangkan pada tanah
bertekstur kasar lebih porus dan laju infiiltrasinya lebih cepat. Walaupun
demikian tanah bertekstur halus memiliki kapasitas memegang air yang lebih
besar daripada tanah pasir karena memiliki permukaan yang lebih banyak yang
berfungsi dalam retensi air (water retension). Tanah-tanah bertekstur kasar
memiliki makro porus yang lebih banyak, yang berfungsi dalam pergerakkan udara
dan air.
Semakin halus tekstur
tanahnya maka kapasitas adsorpsi menahan unsur – unsur hara lebih besar, dan
lebih banyak mengandung unsure hara dan bahan organik yang dibutuhkan tanaman,
kapasitas memegang air juga lebih besar sebab memiliki permukaan yang lebih
luas. Sedangkan tanah bertekstur kasar memiliki laju infiltrasi yang cepat dan
lebih porus. Sehingga unsure hara akan ikut hanyut dan yang tertahan didalam
tanah semakin sedikit.
Faktor – Faktor yang
mempengaruhi tekstur tanah yaitu :
1.
Iklim
2.
Bahan
induk
3.
Topografi
4.
Waktu
5.
Organism
Faktor – faktor
yang dipengaruhi tekstur tanah yaitu :
1.
Kemampuan
tanah memegang dan menyimpan air
2.
Aerasi,
serta permeabilitas
3.
Kapasitas
tukar kation
4.
Kesuburan
tanah.
5.
Infiltrasi
6.
Laju pergerakan air
(perkolasi)
Hubungan Tekstur Tanah dengan Sifat
Fisik Tanah Lainnya.
·
Hubungan
Tektstur tanah dengan kadar air dalam tanah.
Kadar dan
ketersediaan air tanah sebenarnya pada setiap koefisien umum bervariasi
terutama tergantung pada tekstur tanah.
·
Hubungan
Tekstur Tanah dengan Struktur Tanah
Pada Dasarnya
tekstur tanah itu adalah perbandingan antara partikel-partikel pasir, debu dan
liat yang menyusun suatu tanah. Dari partikel tersebut beragresi (berkumpul)
membentuk struktur tanah.
·
Hubungan
Tekstur Tanah dengan Ruang Pori Total
Tanah dengan
tekstur halus mempunyai kisaran ukuran dan bentuk partikelnya yang luas. Hal
ini telah ditekankan bahwa tanah permukaan yang berpasir mempunyai porositras
kecil daripada tanah liat. Berarti bahwa tanah pasir mempunyai volume yang
lebih sedikit ditempati oleh ruang pori. Ruang pori total pada tanah pasir
mungkin rendah tetapi mempunyai proporsi yang besar yang disusun daripada
komposisi pori-pori yang besar yang sangat efisien dalam pergerakan udara dan
airnya. Persentase volume yang dapat terisi oleh pori-pori kecil pada tanah
pasir rendah yang menyebabkan kapasitas menahan airnya rendah. Sebaliknya
tanah-tanah permukaan dengan tekstur halus memiliki ruang pori total lebih
banyak dan proporsinya relatif besar yang disusun oleh pori kecil. Akibatnya
adalah atanah mempunyai kapasitas menahan air yang tinggi.
Kajian Mengenai
Pengaruh Tekstur Tanah dalam Usaha Pertanian
Dalam Usaha pertanian, kondisi tekstur tanah menjadi perhatian utama bagi petani. Karena dengan mengetahui tekstur tanah maka akan diketahui pula vegetasi apa yang cocok untuk dikembangbiakan, mengetahui cara pengolahannya seperti apa dan bagaimana. Karena tekstur tanah dapat mempangaruhi tanaman yang tumbuh di atas tanah. Pengaruhnya antara lain :
Dalam Usaha pertanian, kondisi tekstur tanah menjadi perhatian utama bagi petani. Karena dengan mengetahui tekstur tanah maka akan diketahui pula vegetasi apa yang cocok untuk dikembangbiakan, mengetahui cara pengolahannya seperti apa dan bagaimana. Karena tekstur tanah dapat mempangaruhi tanaman yang tumbuh di atas tanah. Pengaruhnya antara lain :
1.
Resistensi,
terhadap menembusnya akar-akar kedalam tanah.
Tanah dengan
kandungan silt dan clay yang tinggi sangat sukar ditembus oleh akar-akar
tanaman sehingga percabangan dan perkembangan akar terhambat. Hal ini akan
berpengaruh pada daerah yang mempunyai iklim kering panjang. Terutama pada
tanaman-tanaman yang masih berumur muda sangat peka terhadap tekstur tanah
sehingga dapat menghasilkan tanaman dewasa yang berbeda.
2.
Peresapan
air
Pada tanah-tanah
yang kasar, air hujan yang jatuh akan segera masuk kedalam tanah. Kalau kita
mendapatkan tanah yang miring pada tanah yang kadar akan terjadi air aliran
sedikit dan sebaliknya pada tanah bertekstur halus. Sehingga pada umumnya pada
tanah-tanah yang lebih berat (tekstur halus) akan mudah terjadi erosi sehingga
banyaknya air yang mengalir akan mempengaruhi erosifitas tanah terutama oleh
air hujan.
3.
Kecepatan
gerakan air dalam tanah
Pada umumnya hal
di atas sangat ditentukan oleh tekstur tanah, yaitu makin halus tekstur makin
lambat gerakan air. Umumnya pada tanaman muda (annual crop) tidak menghendaki
tanah yang bertekstur halus dan sebaliknya termasuk tanaman keras lebih
resisten terhadap tanah bertekstur halus. Sehingga dengan demikian kebanyakan
tanaman-tanaman muda mempunyai areal tanah pada daerah-daerah bertekstur kasar.
Dengan sendirinya pada tanaman padi justru menghendaki sistem lempung ini karena
tanaman padi termasuk tanaman yang memerlukan air berlebihan.
Kedua macam
tekstur ini mempunyai kebaikan dan kelemahan pada masing-masing tanaman. Kalau
kita tinjau masalah ini pada tanah pasir maka air akan bergerak lebih cepat
dibanding pada tanah-tanah bertekstur halus. Kecepatan gerakan air pada tanah
pasir ini begitu cepat sehingga sampai keluar dari daerah perakaran, dan tidak
berguna. Ini ada hubungannya dengan mengapa tanaman muda menghendaki tanah
pasir karena sistem perakarannya lebih dangkal daripada sistem perakaran
tanaman keras sehingga dengan demikian walaupun air bergerak cepat tetapi
kedalaman tertentu masih mempunyai kelembaban tertentu sehingga daerah ini
masih mengandung air yang cukup untuk mensuplai air. Bila musim kemarau datang
dan tanaman sangat tergantung pada air kapiler dari bagian tanah kecepatan
naiknya kembali air tanah akan lebih cepat pada tanah-tanah bertekstur kasar.
Dengan
mengetahui tektur tanah maka akan mengetahui pula bagaimana cara pengolahannya
dan hasil panen yang didapat akan memungkinkan mencapai hasil maksimal.
BAB III
TUJUAN
Praktikum
ini bertujuan untuk menentukan tekstur tanah secara kualitatif dalam keadaan basah, dan menentukan lapisan tanah sangat kasar, kasar dan halus.
BAB IV
MATERI PRAKTIKUM
A.
Bahan
1.
Tanah
2.
Plastik 1 meter
3.
Air 500 ml
B.
Alat
1.
Penggaris.
2.
Tali.
3.
Gelas ukur.
BAB V
PROSEDUR KERJA
1.
Mengambil plastik 1
m,
2.
Mengikat ujung
plastik dengan diikat tali mati,
3.
Memasukan tanah 30
cm kedalam plastik dan ditambahkan air 500 ml,
4.
Mengikat ujung
plastik dengan tali simpul setelah dimasuki tanah dan air,
5.
Mengocok plastik
penguji selama 15 menit,
6.
Menggantungkan
plastik uji,di gantung selama 15-20 menit dan kemudian air dalam plastik
mengendap,
7.
Mengukur setiap
lapisan dengan menggunakan penggaris/mistar,
8.
Melakukan pengulangan
pengujian tekstur tanah sebanyak tiga kali.
BAB VI
HASIL PENGAMATAN DAN ANALISA DATA
|
No.
|
Komposisi
|
|||
|
Pasir
|
Liat
|
Debu
|
Bhn. Organik
|
|
|
1
|
25 cm
|
9 cm
|
12 cm
|
2 cm
|
|
2
|
26 cm
|
7 cm
|
13 cm
|
3 cm
|
|
3
|
26 cm
|
16 cm
|
12 cm
|
1 cm
|
BAB VII
PEMBAHASAN
Pada
pengujian 1, 2, dan 3 masing – masing memiliki ukuran tekstur yang berbeda – beda susunan tekstur tanah
tersebut yaitu : tektur Sangat kasar, tekstur Kasar dan tekstur Halus. Tanah
bertekstur kasar
memiliki makro porus yang lebih banyak, yang berfungsi dalam pergerakkan udara dan air. Sedangkan tanah
bertekstur halus didominasi oleh tanah liat dengan tekstur yang lembut dan licin yang memiliki permukaan yang lebih halus
dibandingkan dengan tanah bertekstur
kasar yang biasanya berbentuk pasir. Sehingga tanah-tanah yang bertekstur halus memiliki kapasitas dalam proses
penyerapan unsur-unsur hara yang lebih
besar dibandingkan dengan tanah yang bertekstur kasar. Namun, pada tanah bertekstur lembut ini umumnya lebih subur
dibandingkan dengan tanah bertekstur
kasar. Karena banyak mengandung unsur hara dan bahan organik yang dibutuhkan
oleh tanaman serta mudah dalam menyerap unsur hara. Sedangkan pada tanah bertekstur kasar lebih porus dan
laju infiiltrasinya lebih cepat.
BAB VIII
KESIMPULAN
Tekstur
tanah menunjukkan kasar halusnya tanah. Perbedan tekstur tanah tersebut ditentukan oleh perbandingan relatif antara pasir,
debu, dan liat yang merupakan bahan
penyusun tanah. Dikatakan pasir, debu dan liat ditentukan dari ukuran butiran – butiran tanah tersebut. Tanah liat biasanya
memiliki tekstur yang lebih halus dan
permukaan yang lebih halus, sedangkan pasir memiliki tekstur yang lebih kasar dan permukaan yang lebih kasar pula. Tanah yang bertekstur halus memiliki kapasitas dalam proses
penyerapan unsur-unsur hara yang lebih
besar dibandingkan dengan tanah yang bertekstur kasar. Namun, pada tanah bertekstur lembut ini umumnya lebih subur
dibandingkan dengan tanah bertekstur
kasar. Karena banyak mengandung unsur hara dan bahan organik yang dibutuhkan
oleh tanaman serta mudah dalam menyerap unsur hara.
DAFTAR PUSTAKA
HakimN, dkk. 1896, Dasar
– dasar Ilmu Tanah, universitas lampung.
ACARA VI : UJI
KAPASITAS MENAHAN NUTRISI
BAB I
PENDAHULUAN
Kemampuan tanah
mengikat dan menyerap air adalah suatu ukuran jumlah air/nutrisi yang dapat
diserap dan ditahan. Proses kehilangan air dan nutrisi dapat terjadi karena
pengaruh penguapan atau proses pencucian. Kemampuan tanah menahan atau mengikat
dan menyerap air tergantung pada struktur tanah dan kandungan bahan organik. Pengujian tanah mengikat/menyerap air
bertujuan untuk mengetahui jenis tanah mana yang lebih kuat mengikat air. Kita
ketahui bahwa suatu tanaman menghendaki tumbuh pada tanah yang mengandung air
dan nutrisi sesuai dengan kebutuhan.
Kapilaritas disebabkan oleh interaksi molekul-molekul di
dalam zat cair. Di dalam zat cair molekul-molekulnya dapat mengalami gaya adhesi dan kohesi. Gaya kohesi adalah tarik menarik antara molekul-molekul di
dalam suatu zat cair sedangkan gaya adhesi adalah tarik menarik antara molekul dengan molekul lain yang tidak sejenis, yaitu bahan wadah di mana zat cair berada. Apabila adhesi lebih besar dari kohesi seperti pada air dengan permukaan gelas, air akan berinteraksi kuat dengan permukaan gelas sehingga air membasahi kaca dan juga permukaan atas cairan akan melengkung (cekung).
Keadaan ini dapat menyebabkan cairan dapat naik ke atas oleh tegangan permukaan yang arahnya ke atas sampai batas keseimbangan gaya keatas dengan gaya berat cairan tercapai. Jadi air
dapat naik keatas dalam suatu pipa kecil yang biasa disebut pipa kapiler. Inilah yang terjadi pada saat air naik dari tanah ke atas melalui tembok.
BAB II
TEORI DASAR
Nutrisi adalah proses penyediaan dan penyerapan
unsur kimia untuk memenuhi kebutuhan suatu organisme. Tanaman menggunakan unsur
16 unsur itu, panas, cahaya, untuk membikan bahan berenergi lebih tinggi
melalui proses fotosintesis dan proses-proses fisiologis lainya. Keenambelas
unsur tersebut yang selanjutnya dapat disebut sebagai unsur hara saja terdiri
dari karbon ( C ), hydrogen ( H ), oksigen ( O ), nitrogen ( N ), fosfor ( P ),
kalium ( K ), belerang ( S ), kalsium ( Ca ), magnesium ( Mg ), seng ( Zn ),
besi ( Fe ), tembaga ( Cu ), mangan ( Mn ), molybdenum ( Mo ), boron ( B ), dan
klor ( Cl ). Tiga unsur yang pertama ( C,H, dan O ) diambil oleh tanaman
terutama dari udara dan air. Tiga belas
unsur lainya diserap dari tanah dan pupuk. Sembilan buah unsur ( C, H, O, N, P, K, Ca, dan Mg ) disebut
sebagai unsur-unsur makro, karena mereka dibutuhkan dalam jumlah relative jauh
lebih banyak dibandingkan dengan tujuh unsur sisanya ( Zn, Fe, Cu, Mn, Mo, B, dan Cl ) yang
disebut unsur-unsur mikro.
Dasar pengelompokan unsur hara itu terletak hanya
pada jumlah kebutuhanya. Walaupun unsur-unsur mikro diperlukan dalam jumlah
yang sangat kecil, peranan mereka didalam nutrisi tanaman sama sekali tidak
kalah pentingnya dengan kesembilan unsur hara lainya. Selanjutnya, enam dari
unsur-unsur makro masih sering dibagi lagi menjadi unsur-unsur primer ( N,P,K )
dan unsur sekunder ( S,Ca, dan Mg ). Penamaan ini hanya berlandaskan pada
kenyataan bahwa unsur-unsur N,P, dan K kebanyakan lebih sering diberikan dan
jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan unsur-unsur S,Ca, dan Mg.
Unsur-unsur hara didalam tanah dapat dibagi menjadi
dua bentuk, yaitu bentuk tersedia dan bentuk tidak tersedia. Unsur hara baru
dapat diserap oleh tanaman dalam bentuk tersedia. Ketersediaan unsur-unsur hara
bagi tanaman ditentukan baik oleh faktor tanah untuk menyediakan unsur-unsur
tersebut maupun faktor tanaman untuk mengambilnya. Faktor tanaman dipengaruhi
oleh oksigen, air dan unsur toksik. Oksigen yang diperlukan untuk pembebasan
energy fotosintesis yang berguna untuk menyerap unsur hara, sedangkan air
dibutuhkan untuk transpirasi. Unsur toksik perlu ditekan sekecil-kecilnya agar
tidak meracuni tanaman atau mengakibatkan perkembangan akarnya terhambat.
Faktor tanah untuk menyediakan unsur hara dapat dibagi menjadi faktor
intensitas dan faktor kapasitas. Faktor kapasitas memiliki kemampuan untuk
menyediakan unsur hara secara potensial dan ini mendukung faktor intensitas
yang secara langsung berkemampuan menyediakan unsur hara untuk tanaman.
·
Faktor intensitas
Pergerakan sebuah unsur hara dari
tanah hingga masuk kedalam tanaman dapat diibaratkan sebagai kendaraan yang
berjalan didalam lalu lintasnya. Kadar atau suatu unsur hara didalam tanah
merupakan faktor intensitas dari tanah tersebut. Ia menentukan intensitas unsur
hara yang dapat diserap oleh akar tanaman.
Ada tiga mekanisme transportasi
atau pergerkan unsur hara yang membuat mereka dekat dengan permukaan akar
tanaman. Ketiga mekanisme itu selalu bekerja bersamaan, hanya untuk unsur hara
yang berbeda dapat dijumpai dominasi yang berbeda pula, karena masing-masing
mekanisme mempunyai arti khusus bagi setiap unsur yang berbeda itu. Sebagian
besar P dan K mendekat kepermukaan akar dengan mekanisme difusi, sedangkan
empat belas unsur hara lainya dengan aliran massa dan itersepsi akar.
Didalam intersepsi akar, yang
bergerak sebenarnya bukan unsur hara, tetapi akar tanaman sendiri. Akar yang
berkembang didalam tanah menyentuh unsur hara. Pada difusi, unsur-unsur hara
didalam larutan tanah berpindah sendiri oleh sebab ada gradient (perbedaan)
kosentrasi. Sedangkan pada aliran massa, unsur hara didalam larutan tanah ikut
terbawa oleh larutan tersebut, berpindah akibat dari adanya gradient potensial
air.
Apabila faktor-faktor oksigen, air
dan unsur toksik cukup memadai dan tidak menghambat proses-proses respirasi dan
transpirasi lagi, maka konsentrasi unsur hara didalaam larutan merupakan faktor
yang mempengaruhi intensitas unsur hara yang dpat diserap oleh tanaman.
·
Faktor kapasitas
Faktor kapasitas adalah kadar atau
konsentrasi suatu unsur hara pada fase padatan tanah yang mampu menggantikan
atau menukar unsur hara yang hilang dari larutan tanah. Unsur hara tersebut
mempunyai ketersediaan yang tinggi pula, akan tetapi tidak sesegara seperti unsur
hara yang terdapat didalam larutan tanah. Unsur itu baru mempunyai kecondongan
untuk larut didalam larutan tanah.
Faktor kapasitas merupakan indeks
yang menunjukkan jumlah unsur hara yang secara potensial dapat masuk kedalam
larutan tanah, faktor intensitas sangat tergantung pada faktor ini. Kalau
faktor intensitas lebih menunjukan intensitas unsur hara yang dapat diserap
oleh tanaman pada suatu titik waktu, maka faktor kapasitas lebih memperlihatkan
kapsitas unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman selama siklus hidupnya.
Kesuburan kimia suatu tanah dapat diukur dari faktor kapasitas, karena faktor
ini menyediakan suatu unsur hara cadangan bagi faktor intensitas.
BAB III
TUJUAN
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui unsur hara yang berada di dalam tanah tersedia banyak atau sedikit dan untuk mengetahui jenis tanah yang terdapat unsur hara.
BAB IV
MATERI PRAKTIKUM
A.
Bahan
1.
Air berwarna merah muda 500 ml.
2.
Tana halus.
B.
Alat
1.
Peralatan penguji
kapasitas menahan nutrisi yang berpori dibagian bawah.
2.
Wadah penampung.
3.
Gelas ukur.
BAB V
PROSEDUR KERJA
1.
Menyiapkan alat
penguji yang berpori di bagian bawah.
2.
Menyiapkan air 500
ml yang berwarna merah muda.
3.
Memasukan tanah
kedalam alat penguji tiga perempat bagian.
4.
Memasukan air
berwarna kedalam alat penguji.
5.
Menunggu hingga air
yang keluar tertampung didalam alat penguji.
6.
Menunggu beberapa
saat hingga air tidak menetes keluar dari alat uji.
7.
Mengamati warna
terhadap air yang tertampung didalam alat penguji.
8.
Mengukur jumlah air
yang tertampung didalam alat penguji.
9.
Melakukan pengujian
ulangan aerasi tanah tiga kali.
BAB VI
HASIL PENGAMATAN DAN ANALISA DATA
|
Alat penguji
|
Air tertampung
|
Air terserap
|
|
1
|
500
|
0
|
|
2
|
500
|
0
|
|
3
|
500
|
0
|
BAB VII
PEMBAHASAN
Pada alat penguji 1, 2, dan 3 dituangi air
berwarna merah muda ssebanyak 500 ml. Air yang tertampung pada wadah penampung
di ketiga alat penguji tersebut adalah 500 ml, dan air yang terserap oleh tanah
adalah 0 ml. Faktor yang menyebabkan air yang dituang sama dengan air yang
tertampung adalah karena tanah yang digunakan pada alat penguji tersebut
bersifat basah dan tidak mampu lagi untuk menampung air sehingga banyaknya air
yang dituang dan yang tertampung sama. Pada ketiga pengujian terdapat perubahan
warna air yang dituang, mula-mula air yang dituang berwarna merah muda dan berubah
warna menjadi bening ketika dituangkan ke dalam tanah. Berarti tanah memiliki
sifat filtering atau manyaring nutrisi pada air tersebut.
Ciri-ciri tanah subur antara lain:
tekstur dan struktur tananya baik, yaitu butir-butir tanahnya tidak terlalu besar
dan tidak terlalu kecil; banyak mengandung garam yang berguna untuk makanan
tumbuh-tumbuhan; dan banyak mengandung air untuk melarutkan garam-garaman.
BAB VIII
KESIMPULAN
Nutrisi adalah proses penyediaan dan penyerapan
unsur kimia untuk memenuhi kebutuhan suatu organisme. Ketersediaan unsur-unsur
hara bagi tanaman ditentukan baik oleh faktor tanah untuk menyediakan
unsur-unsur tersebut maupun faktor tanaman untuk mengambilnya. Faktor tanaman
dipengaruhi oleh oksigen, air dan unsur toksik. Oksigen yang diperlukan untuk
pembebasan energy fotosintesis yang berguna untuk menyerap unsur hara,
sedangkan air dibutuhkan untuk transpirasi. Unsur toksik perlu ditekan
sekecil-kecilnya agar tidak meracuni tanaman atau mengakibatkan perkembangan
akarnya terhambat.
DAFTAR PUSTAKA
Hardjowigeno, S. 1989.Ilmu Tanah. PT MediyatamaSaranaPerkasa,
Jakarta.
ACARA VII : UJI AERASI TANAH
BAB I
PENDAHULUAN
Aerasi merupakan
proses penjernihan dengan cara mengisikan oksigen ke dalam air. Dengan diisikannya oksigen kedalam air maka zat-zat seperti karbondioksida serta hydrogensulfida dan metana yang
mempengaruhi rasa dan bau dari air dapat dikurangi atau dihilangkan. Selain itu partikel mineral yang
terlarut dalam
air seperti besi dan mangan akan teroksidasi dan secara cepat akan membentuk lapisan endapan yang nantinya dapat dihilangkan melalui proses
sedimentasi atau filtrasi.
Aerasi adalah proses dimana air dalam tanah digantikan
oleh udara dari atmosfer. Di tanah well-aerated, udara tanah sangat mirip dalam
komposisi atmosfer di atas tanah. Buruk bercampur dgn udara tanah biasanya berisi
konten yang jauh lebih tinggi dari CO2 dan konten bawah O2 daripada atmosfer di
atas tanah. Tingkat aerasi tergantung pada volume dan kesinambungan
pori-mengisi udara pori dalam tanah.
BAB II
TEORI DASAR
Aerasi Tanah adalah
proses pertukaran O2 dan CO2 dan Atmosfer. Jenis – jenis gas lain yang termasuk
dalam pertukaran ini adalah bentuk volatin Nitrogen (N2, NH3, NO, NO2), sulfur (H2S, SO2) dan Hidrokarbon
(CH4). Proses aerasi tanah merupakan salah satu faktor terpenting dalam
produktivitas, akar tanaman menyerap oksigen dan melepaskan karbondioksida pada
proses respirasi. Pada kebanyakan tanaman (kecuali padi). Perpindahan bagi
oksigen internal dari permukaan tanah (daun dan cabang) menuju bagian bawah
permukaan tanah (akar) tidak dapat terjadi pada kecepatan yang cukup besar
untuk memenuhi kebutuhan.
Komposisi udara ini
amat tergantung dari aktivitas jasad – jasad hidup, termasuk akar tanaman
didalam tanah. Akar tanaman, demikian pula jasad – jasad hidup lainnya akan
menyerap O2 dari udara tanah dan sebagai akibat pernafasan, mereka akan
mengeluarkan CO2 kedalam udara tanah. Sebagai akibatnya kandungan CO2 lebih
tinggi dalam udara tanah di bandingkan dengan atmosfer diatas tanah, demikian
pula kandungan O2 lebih rendah didalam tanah dibandingkan dengan O2 dalam
atmosfer. Perbedaan konsentrasi ini akan meningkat, jika lalu - lintas O2 dan
CO2 dari tanah ke udara semakin sukar.
Udara di dalam tanah
sangat penting. Terbatasnya ruang udara dapat menimbulkan terhambatnya
pertumbuhan tanaman, mengganggu pernafasan akar, penyerapan air terhambat,
demikian pula mengganggu penyerapan unsur hara. Aktifitas jasad hidup
ditekan.Udara tanah dapat diperbaiki dengan pengolahan tanah, penanaman penutup
tanah dan penambahan bahan organik. Perbaikan ini terutama ditujukan agar
tanaman mendapat suplai yang cukup O2.
Suhu tanah berperan
penting dalam mengendalikan aktifitas jasad hidup, baik tanaman maupun kegiatan
biologi tanah. Suhu berperan pula dalam menentukan reaksi – reaksi kimia. Sifat
fisika dan fisika – kimia tanah. Panas yang diterima tanah yang berasal dari
radiasi matahari akan hilang melalui penguapan, radiasi kedalam atmosfer
sebagai radiasi gelombang panjang, memanaskan udara dalam tanah dan tanah itu
sendiri.
Respirasi akar yang
baik memerlukan tanah teraerasi, yaitu pertukaran gas yang terjadi antara udara
tanah dan atmosfer pada kecepatan tertentu untuk menghindari kekurangan O2 dan
CO2 berlebihan yang terbentuk dalam zona perakaran. Mikroorganisme tanah juga
bernafas, dan pada kondisi kurang udara, organisme ini akan bersaing dengan
akar tanaman. Laju difusi gas pada fase gas umumnya lebih besar dibandingkan
pada fase cair. Oleh sebab itu aerasi tanah sangat tergantung pada fraksi
volume pori yang terisi udara.
Terhambatnya aerasi
disebabkan oleh drainase buruk dan penggenangan air atau dari pemadatan mekanis
pada tanah dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Masalah pemadatan tanah
menjadi semakin penting dalam dekade terakhir ini karena kecendrungan
penggunaan mesin yang lebih besar dan lebih berat serta kecenderungan
pengolahan tanah secara berlebihan. Aerasi yang buruk dapat menurunkan
pengambilan air dan menyebabkan pelayuan awal serta menyebabkan penurunan
permeabilitas akar terhadap air menjadi bentuk mangano; reduksi besi dari feri
menjadi fero; dan reduksi sulfat yang mengahsilkan hidrogen sulfida.
BAB III
TUJUAN
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pertukaran udara yang terjadi di dalam tanah, dan untuk mengetahui kemampuan tanah menyerap air.
BAB IV
MATERI PRAKTIKUM
A.
Bahan
1.
Tanah.
2.
Air 1000 ml.
B.
Alat
1.
Balon.
2.
Botol plastik berpori dibagian bawah dan tutup penguji.
3.
Nampan.
4.
Stopwatch.
5.
Karet.
BAB V
PROSEDUR KERJA
1.
Menyiapkan alat
penguji yang berpori dibagian bawah,
2.
Memasukan tanah
kedalam alat penguji tiga perempat bagian,
3.
Meniup balon pada
balon yang terpasang pada alat penguji,
4.
Menyatukan alat
penguji dengan tutupnya hingga tidak bocor,
5.
Menyiapkan nampan
yang berisi air 500 – 1.000 ml,
6.
Meletakan alat
penguji di atas nampan berisi air hingga tegak,
7.
Membuka kunci
udara,
8.
Melakukan
pengamatan terhadap waktu yang dibutuhkan hingga balon kempes,
9.
Mencatat waktunya.
BAB VI
HASIL PENGAMATAN DAN ANALISA DATA
|
Balon
|
Waktu
|
|
1
|
3,40 menit
|
|
2
|
9,20 menit
|
BAB VII
PEMBAHASAN
Pada pengujian 1 gelembung air cepat aerasi tersebut tidak
bagus dan pengujian 2 gelembung aerasinya lambat sehingga aerasi tersebut baik.
Beberapa faktor-faktor yang
mempengaruhi aerase adalah tekstur, struktur tanah dan porositas. Tekstur tanah
sangat berpengaruh terhadap aerase tanah yang bertekstur pasir lebih banyak
akan mudah ditembus/dilewati air karena struktur ikatan partikel tanahnya
renggang sehingga porositas (permiabilitas)nya sangat besar. Kemampuankeduafaktor di
atasmampumendukungaerasenyabaik,
apabila tekstur, struktur tanah dan porositas tidak mampu
mendukung aerasinya tidak baik.
BAB VIII
KESIMPULAN
Aerasi Tanah adalah proses pertukaran O2 dan
CO2 dan Atmosfer. Aerasi yang baik apabila tekstur tanah, struktur
tanah dan porositas mendukung maka aerasinya baik, namun apabila tekstur,
stuktur tanah dan porositas tidak mendukung maka aerasi jelek/tidak baik.
DAFTAR PUSTAKA
ACARA VIII : UJI PROFIL TANAH
BAB I
PENDAHULUAN
Tanah merupakan suatu lapisan permukaan bumi yang
paling luar dimana sebagai tempat naungan bagi mahluk hidup maupun benda mati.
dimana proses terbentuknya tanah memerlukan waktu yang begitu lama dengan
membutuhkan jutaan tahun sehingga menjadi tanah yang murni melalui proses
pelapukan fisik, kimiawi, serta pelapukan mekanik diantaranya dari proses
pelapukan bebatuan dan organisme hidup lainnya. Tanah merupakan unsur yang
paling penting dalam aspek kehidupan karna tanah memiliki fungsi yang begitu
kompleks bagi semua unsur kehidupan didalam bumi yaitu tanah dipandang dalam
suatu pertanian sebagai media tumbuh bagi tanaman budidaya sedangkan pada aspek
pembangunan tanah sebagai tempat berdirinya suatu bangunan tempat tinggal serta
memiliki banyak fungsi lainnya.
Tanah pada setiap lingkungan memiliki struktur dan
pola yang berbeda-beda pada setiap lingkungan dengan keadaan kandungan ph dan
kandungan airnya yang tidak sama menjadikan kandungan kesuburan tanah itu
berbeda-beda serta warna yang berbeda antara tanah yang satu dengan yang
lainnya untuk itu perlu dilakukan pengukuran pada suatu tanah sehingga
diketahui kadar dalam suatu tanah. Salah satu pengukuran yang sangat
penting dalam berbagai cairan proses (industri, farmasi, manufaktur, produksi
makanan dan sebagainya) adalah pH, yaitu pengukuran ion hidrogen dalam suatu
larutan.
BAB II
TEORI DASAR
Pengertian profil tanah adalah irisan vertikal tanah
dari lapisan paling atas hingga ke batuan induk tanah. Tanah yang telah
mengalami perkembangan lanjut akan memiliki horisonisasi yang lengkap, yaitu
terdiri dari: horison O, horison A, horison Eluviasi, horison B, lapisan C, dan bahan
induk tanah (R). Pengertian
dari beberapa istilah penamaan horison dalam profil tanah adalah sebagai
berikut :
- Horison
O adalah horison tanah yang tersusun dari serasah atau sisa-sisa tanaman
(Oi) dan bahan organik tanah (BOT) hasil dekomposisi serasah (Oa),
- Horison
A adalah horison yang tersusun dari bahan mineral berkandungan bahan
organik tinggi sehingga berwarna agak gelap.
- Lapisan
Eluviasi atau Horison Eluviasi adalah horison yang telah mengalami proses
eluviasi (pencucian) sangat intensif sehingga kadar bahan organik tanah,
liat silikat, Fe dan Al rendah tetapi kada pasir dan debu kuarsa
(seskuoksida) serta mineral resisten lainnya tinggi, sehingga berwarna
agak terang.
- Horison
B adalah horison illuvial atau horison pengendapan sehingga terjadi
akumulasi dari bahan-bahan yang tercuci dari horison diatasnya.
- Horison
C adalah lapisan tanah yang bahan penyusunnya masih serupa dengan batuan
induk (R) atau belum terjadi perubahan.
- Batuan
induk tanah (R) merupakan bagian terdalam dari tanah dan masih berupa
batuan.
- Lapisan
tanah terdiri atas :
a. Lapisan tanah atas (top soil)
terdiri dari :
·
horison O, dan
·
horison A.
b. Lapisan
tanah bawah (sub soil) terdiri dari :
·
horison E, dan
·
horison B.
c. Solum
tanah meliputi :
·
lapisan tanah atas, dan
·
lapisan tanah bawah.
Batas peralihan horison pada profil tanah terlihat
secara visual dalam beberapa kategori, yaitu :
- Batas
horison dikategorikan nyata apabila peralihan kurang dari 2,5 cm,
- Batas
horison dikategorikan jelas apabila peralihan terjadi dengan jarak
berkisar antara 2,5 cm sampai 6,5 cm,
- Batas
horison dikategorikan berangsur apabila peralihan terjadi dengan jarak
berkisar antara 6,5 cm sampai 12,5 cm, dan
- Batas
horison dikategorikan baur apabila peralihan terjadi dengan jarak lebih
dari 12,5 cm.
Bentuk topografi dari batas harison dalam profil
tanah yang terlihat secara visual dibagi dalam 4 kategori, yaitu :
- Bentuk
topografi datar,
- Berombak,
- Tidak
teratur, dan
- Terputus.
Sistem tanah tersusun dari unit-unit terkiecil yang
disebut pedon. Kumpulan pedon-pedon yang sama sifatnya yang membentu suatu
hamparan disebut polipedon. Pemahaman
yang mendalam mengenai profil tanah akan membantu dalam pemanfaatan berikut :
- Mengetahui
kedalaman lapisan olah tanah (top soil), lapisan dalam tanah (sub soil)
dan solum tanah, sehingga membantu dalam menetapkan jenis tanaman yang
sesuai untuk ditanam pada tanah tersebut. Tanah dengan kedalaman lapisan
olah berkisar 20 cm sesuai untuk ditanaman tanaman padi, kedelai, kacang
tanah dan jagung, tetapi tidak sesuai untuk ditanaman dengan tanaman
perkebunan yang berakar dalam. Begitu juga sebaliknya.
- Kelengkapan
atau differensiasi horison-horison pada profil yang mencirikan tingkat
perkembangan tanah dan umur tanah.
- Warna
tanah yang menunjukkan kondisi aerob (warna terang) atau anaerob (berwarna
kelabu) dan tngginya kadar kadungan bahan organik tanah (berwarna hitam/gelap),
sehingga diketahui tingkat kesuburan tanah.
BAB III
TUJUAN
Tujuan dari praktikum uji profil tanah ini adalah untuk
mengetahui kadar pH, kelembaban serta warna tanah dari masing-masing lapisan
tanah.
BAB IV
MATERI
PRAKTIKUM.
A.
Bahan
1.
Contoh tanah.
B.
Alat
1.
Bor tanah,
2.
Soil tester,
3.
Buku Munsell Soil Color
Chart / buku warna tanah.
BAB V
PROSEDUR KERJA
1.
Dipersiapkan
peralatan penguji profil tanah,
2.
Dibuat lubang di
permukaan tanah menggunakan bor tanah untuk mengambil sample tanah,
3.
Ambil sampel tanah
dari kedalaman yang berbeda,
4.
Ukur kandungan pH
dan kelembaban tanah menggunakan soil tester,
5.
Gumpalkan sebagian
tanah kemudian cocokan warnanya menggunakan buku warna tanah,
6.
Catat kandungan pH,
kelembaban dan warna tanah.
7.
Dilakukan pengujian
ulang dengan mengambil contoh tanah di tempat yang berbeda.
BAB VI
HASIL
PENGAMATAN DAN ANALISA DATA
Sample
Tanah A
|
Kedalaman (cm)
|
pH tanah
|
Kelembaban tanah
|
Warna tanah
|
|
10
|
6
|
40
|
10YR 3/4 : dark yellow wish brown
|
|
20
|
6,1
|
30
|
10YR 3/2 : dark reddish brown
|
|
30
|
5,3
|
50
|
10YR 2/2 : very dark brown
|
|
40
|
5,1
|
60
|
2,5YR 3/2 : dusky red
|
|
50
|
6
|
55
|
4,5YR 2,5/1 : black
|
|
60
|
6,2
|
49
|
10YR 3/3 : dark brown
|
|
70
|
6,2
|
60
|
10YR 3/2 : very dark grayish brown
|
|
80
|
6
|
58
|
10YR 3/3 : dark brown
|
|
90
|
6
|
45
|
10YR 3/4 : dark yellow wish brown
|
|
100
|
6,2
|
30
|
10YR 4/4 : dark yellow wish brown
|
Sample Tanah B
|
Kedalaman (cm)
|
pH tanah
|
Kelembaban tanah
|
Warna tanah
|
|
10
|
5,2
|
60
|
10YR 2/2 : very dark brown
|
|
20
|
5,1
|
55
|
10YR 3/1 : very dark gray
|
|
30
|
5,3
|
53
|
10YR 3/4 : dark gray
|
|
40
|
5
|
40
|
5YR 3/2 : dark reddish brown
|
|
50
|
5,1
|
30
|
5YR 3/3 : dark reddish brown
|
|
60
|
5,9
|
30
|
5YR 4/3 : reddish brown
|
|
70
|
5
|
45
|
5YR 4/4 : reddish brown
|
|
80
|
5,1
|
51
|
5YR 4/3 : reddish brown
|
|
90
|
5,1
|
58
|
7,5YR 3/3 : dark brown
|
|
100
|
5,1
|
59
|
7,5YR 2,5/3 : very dark brown
|
BAB VII
PEMBAHASAN
Pengukuran pH tanah menggunakan soil tester dan
dilakukan pada beberapa tempat (tempat terbuka, di bawah pohon dan areal
terbuka) dengan cara menancapkan bagian ujung dari soil tester sampai kira-kira
5-15 cm ke dalam tanah, kemudian menekan knopnya. Maka akan terbaca nilai skala
pH dari tanah tersebut. Pengukuran
kelembaban tanah dilakukan dengan menggunakan soil tester pada tanah yang
diperkirakan mengandung air pada tempat tertentu.
Warna tanah merupakan gabungan berbagai warna
komponen penyusun tanah. Warna tanah berhubungan langsung secara
proporsional dari total campuran warna yang dipantulkan permukaan tanah. Warna
tanah sangat ditentukan oleh luas permukaan spesifik yang dikali dengan
proporsi volumetrik masing-masing terhadap tanah. Makin luas permukaan spesifik
menyebabkan makin dominan menentukan warna tanah, sehingga warna butir koloid
tanah (koloid anorganik dan koloid organik) yang memiliki luas permukaan
spesifik yang sangat luas, sehingga sangat mempengaruhi warna tanah
(Poerwowidodo., 1991)
Dari pengamatan yang telah dilakukan ditemukan
perbedaan kandungan pH, kelembaban dan warna tanah antara masing – masing
sampel tanah baik dari sampel tanah A dan tanah B dari kedalaman yang
bervariasi.
BAB VIII
KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan
bahwa profil tanah memiliki kandungan pH, kelembaban dan warna tanah yang
berbeda – beda. Pada pengamatan tanah dengan indra, warna tanah mencerminkan
beberapa sifat tanah, diantaranya kandungan bahan organik, dan drainase. Warna tanah
sangat dipengaruhi oleh kadar lengas di dalamnya. Tanah yang
kering memiliki warna yang lebih muda
dibandingkan dengan tanh yang basah,
hal ini
dikarenakan
bahan koloid yang kehilangan air.
Warna tanah akan berpengaruh pada keseimbangan panas dan kelembaban tanah.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar