Senin, 13 Januari 2014

laporan praktikum dasar-dasar ilmu tanah

ACARA I : MEMPERSIAPKAN CONTOH TANAH

BAB I
PENDAHULUAN
Tanah adalah bagian yang terdapat pada kerak bumi yang tersusun atas mineral dan bahan organik. Tanah merupakan salah satu penunjang yang membantu kehidupan semua mahluk hidup yang ada di bumi. Tanah sangat mendukung terhadap kehidupan tanaman yang menyediakan hara dan air di bumi. selain itu, Tanah juga merupakan tempat hidup berbagai mikroorganisme yang ada di bumi dan juga merupakan tempat berpijak bagi sebagian mahluk hidup yang ada di darat. Dari segi klimatologi , tanah memegang peranan penting sebagai penyimpan air dan mencegah terjadinya erosi. Meskipun tanah sendiri juga bisa tererosi.
Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh & berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan.
Tanah terbentuk dari proses pelapukan batuan yang dibantu oleh organisme membentuk tekstur unik yang menutupi permukaan bumi. proses pembentukan tanah ini akan membentuk lapisan-lapisan yang menutupi seluruh permukaan bumi. lapisan-lapisan yang terbentuk memiliki tekstur yang berbeda dan setiap lapisan juka akan mencerminkan proses-proses fisika, kimia dan biologi yang telah terjadi selama proses pembentukannya. Hans Jenny (1899-1992), seorang pakar tanah asal Swiss yang bekerja di Amerika Serikat, menyebutkan bahwa tanah terbentuk dari bahan induk yang telah mengalami modifikasi/pelapukan akibat dinamika faktor iklim, organisme (termasuk manusia), dan relief permukaan bumi (topografi) seiring dengan berjalannya waktu. Berdasarkan dinamika kelima faktor tersebut terbentuklah berbagai jenis tanah dan dapat dilakukan klasifikasi tanah.
Struktur tanah merupakan karakteristik fisik tanah yang terbentuk dari komposisi antara agregat (butir) tanah dan ruang antaragregat. Tanah tersusun dari tiga fase: fase padatan, fase cair, dan fase gas. Fasa cair dan gas mengisi ruang antaragregat. Struktur tanah tergantung dari imbangan ketiga faktor penyusun ini. Ruang antaragregat disebut sebagai porus (jamak pori). Struktur tanah baik bagi perakaran apabila pori berukuran besar (makropori) terisi udara dan pori berukuran kecil (mikropori) terisi air. Tanah yang gembur (sarang) memiliki agregat yang cukup besar dengan makropori dan mikropori yang seimbang. Tanah menjadi semakin liat apabila berlebihan lempung sehingga kekurangan makropori.

BAB II
TEORI DASAR
Mempersiapkan contoh tanah merupakan suatu keharusan bagi para penempuh ataupun pelaku praktikum ilmu tanah, hal tersebut karena dengan adanya persiapan tanah terlebih dahulu maka praktikum ilmu tanah akan berjalan dengan lancar. Pada praktikum kali ini maka tanah yang disiapkan dengan kriteria diameter 2 mm yang di taruh dalam wadah plasik dan disimpan untuk digunakan pada praktikum ilmu tanah selanjutnya. Dengan adanya contoh tanah yang baik maka praktikum akan berjalan dengan baik serta didapatkan data yang akurat.


BAB III
TUJUAN
Praktikum mempersiapkan contoh tanah  ini bertujuan untuk mempersiapkan contoh tanahuntuk keperluan praktikum berikutnya.

BAB IV
MATERI PRAKTIKUM
A.      Bahan
1.      Tanah
B.       Alat
1.      Cangkul.
2.      Ember.
3.      Plastik.
4.      Saringan dengan ukuran 2 mm.

BAB V
PROSEDUR KERJA
1.        Contoh tanah asli, yaitu tanah yang diambil dari lapang lalu disimpan di tempat yang rapat udara (misalnya kantong plastik, kaleng yang ditutup dengan lilin)
2.        Bongkahan atau gumpalan tanah yang diperoleh dari tanah asli dipaparkan di atas tabir, kemudian diperanginkan jauh dari sumber panas maupun kelembaban selama sekitar satu minggu, maka akan diperoleh contoh tanah kering atau contoh tanah kering angin.
3.        Dari contoh tanah kering angin bongkahan tadi, ditumbuk dalam mortir dengan penumbuk kayu secara hati-hati, lalu disaring dengan saringan 2 mm, dan diperoleh tanah kering udara 2 mm.
4.        Contoh tanah yang diperoleh tadi, kemudian disimpan dalam plastik untuk selanjutnya dapat digunakan menurut kebutuhan sewaktu-waktu.

BAB VI
HASIL PENGAMATAN DAN ANALISA DATA
Dihasilkan tanah yang berukuran halus dengan ukuran 2 mm yang kemudian disimpan dalam plastik untuk dipergunakan pada praktikum selanjutnya.
BAB VII
PEMBAHASAN
Dari praktikum mempersiapkan contoh tanah didapatkan tanah yang halus dengan ukuran 2 mm dan kemudian disimpan dalam plastik digunakan untuk keperluan praktikum selanjutnya.

BAB VIII
KESIMPULAN
Dari praktikum mempersiapkan contoh tanah maka mahasiswa akan lebih mudah dalam praktikum berikutnya karena bahan utntuk praktikum sudah tersedia denga baik.



DAFTAR PUSTAKA

ACARA II : UJI DRAINASE TANAH

BAB I
PENDAHULUAN
Tanah terdapat di mana – mana, tetapi kepentingan orang terhadap tanah berbeda – beda. Seorang ahli pertambangan menganggap tanah sebagai sesuatu yang tidak berguna karena menutupi barang – barang tambang yang dicarinya. Semua bahan yang digali kecuali batu – batunya dinamakan tanah. Demikian pula seorang ahli jalan menganggap tanah adalah bagian permukaan bumi yang lembek sehingga perlu dipasang batu – batu di permukaannya agar lebih kuat. Dalam kehidupan sehari – hari tanah diartikan sebagai wilayah darat di mana di atasnya dapat digunkan untuk berbagai usaha misalnya pertanian, peternakan, mendirikan bangunan, dan lain – lain.
Dalam pertanian, tanah diartikan lebih khusus yaitu sebagai media tumbuhnya tanaman darat. Tanah berasal dari hasil pelapukan batuan bercampur dengan sisa – sisa bahan organic dan organisme (vegetasi atau hewan) yang hidup di atasnya atau di dalamnya. Selain itu di dalam tanah terdapat pula udara dan air.
Drainase adalah tanah yang dapat menunjukkan kemampuan tanah meloloskan air. Tanah dengan tingkat drainase tinggi dapat menaikkan laju infiltrasi sehingga menurunkan laju air larian. Pada ilmu tanah, drainase didefenisikan secara kualitatif sebagai pengurangan gas-gas, cairan-cairan atau penetrasi akar tanaman atau lewat. Selain itu drainase juga merupakan pengukuran hantaran hidraulik tanah.hantaran hidraulik tanah timbul adanya pori kapiler yang saling bersambungan dengan satu dengan yang lain. Secara kuantitatif hantaran hidraulik jenuh dapat di artikan sebagai kecepatan bergeraknya suatu cairan pada media berpori dalam keadaan jenuh. Dalam hal ini sebagai cairan adalah air dan sebagai media pori adalah tanah. Penetapan hantaran hidraulik didasarkan pada hukum Darcy. Dalam hukum ini tanah dianggap sebagai kelompok tabung kapiler halus dan lurus dengan jari-jari yang seragam. Sehingga gerakan air dalam tabung tersebut di anggap mempunyai kecepatan yang sama.

BAB II
TEORI DASAR
Pengertian tanah sangatlah beragam dan tergantung bidang ilmu yang menilainya. Pengertian tanah berdasarkan ahli hukum akan berbeda dengan pengertian tanah menurut ahli ekonomi, lembaga keuangan / perbankan, dan ibu rumah tangga. Tanah menurut ahli hukum dinilai berdasarkan status tanah atau hak kepemilikan terhadap tanah, seperti tanah berstatus hak milik berbeda dengan tanah berstatus hak guna usaha (HGU) dan hak pakai serta sangat berbeda sekali dengan tanah garapan. Tanah menurut ahli ekonomi dan lembaga keuangan perbankan dipahami berdasarkan kedekatan lokasi tanah dengan akses dan kelancaran akses serta kedekatan dengan pusat pengembangan. Tanah yang dekat jalan atau dekat pusat pengembangan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi daripada tanah yang berlokasi jauh dari akses jalan atau jauh dari pusat pengembangan. Berbeda dengan pengertian tanah menurut ibu rumah tangga yang selelu mengingatkan anak-anaknya agar jangan bermain tanah dan selalu mengingatkan anak-anaknya tidak lupa mencuci tangan dan kaki apabila kena tanah.
Kajian pedologi mendefinisikan tanah berdasarkan dinamika dan evolusi tanah secara alamiah atau berdasarkan pengetahuan alam murni. Beberapa contoh kajian lebih lanjut tentang tanah dengan landasan pendekatan pedologi adalah: fisika tanah, kimia tanah, biologi tanah, morfologi tanah, klasifikasi tanah, survei tanah, pemetaan tanah, analisis bentang lahan, dan ilmu ukur tanah. Kajian edaphologi mendefinisikan tanah berdasarkan peranan tanah tersebut sebagai media tumbuh tanaman. Beberapa contoh kajian tanah tingkat lanjut yang dilandasi pendekatan edaphologi adalah: kesuburan tanah, konservasi tanah dan air, agrohidrologi, pupuk dan pemupukan, ekologi tanah, dan bioteknologi tanah.
Drainase tanah adalah kemampuan tanah mengalirkan dan mengaruskan kelebihan air yang berada dalam tanah maupun pada permukaan tanah. Air berlebihan yang menggenangi tanah disebabkan oleh pengaruh topografi, air tanah yang dangkal, dan curah hujan. Untuk mengatasi sifat drainase yang buruk dilakukan dengan membangun selokan-selokan.
Drainase adalah tanah yang dapat menunjukkan kemampuan tanah meloloskan air. Tanah dengan tingkat drainase tinggi dapat menaikkan laju infiltrasi sehingga menurunkan laju air larian. Pada ilmu tanah, drainase didefenisikan secara kualitatif sebagai pengurangan gas-gas, cairan-cairan atau penetrasi akar tanaman atau lewat. Selain itu drainase juga merupakan pengukuran hantaran hidraulik tanah.hantaran hidraulik tanah timbul adanya pori kapiler yang saling bersambungan dengan satu dengan yang lain. Secara kuantitatif hantaran hidraulik jenuh dapat di artikan sebagai kecepatan bergeraknya suatu cairan pada media berpori dalam keadaan jenuh. Dalam hal ini sebagai cairan adalah air dan sebagai media pori adalah tanah. Penetapan hantaran hidraulik didasarkan pada hukum Darcy. Dalam hukum ini tanah dianggap sebagai kelompok tabung kapiler halus dan lurus dengan jari-jari yang seragam. Sehingga gerakan air dalam tabung tersebut di anggap mempunyai kecepatan yang sama.

BAB III
TUJUAN
Praktikum ini bertujuan melakukan pengujian terhadap drainase tanah, untuk mengetahui kemampuan tanah meneruskan air, untuk mengetahui berapa waktu tanah dalam meneruskan air, agar mahasiswa dapat mengetahui, dan mengerti tentang drainase.



BAB IV
MATERI PRAKTIKUM
A.      Bahan
1.      Paralon aerasi yang memiliki tutup dan lubang di bagian samping dan bawah (Tinggi ± 45 cm, Volume 1158,66 cm3).
2.      Air.
B.       Alat
1.      Cangkul.
2.      Gelas ukur.
3.      Stopwatch.

BAB V
PROSEDUR KERJA
1.        Dipersiapkan peralatan penguji drainase tanah yang berpori di bagian bawah,
2.        Dibuat lubang di permukaan tanah sebagai lubang uji, ukuran lubang uji dipastikan sedalam dan sebesar alat penguji aerasi,
3.        Alat penguji aerasi dimasukan ke dalam lubang uji, dipastikan permukaan alat penguji rata dengan tanah,
4.        Disiapkan air sekitar 1000 ml dalam gelas ukur,
5.        Dimasukan air ke dalam alat penguji secara cepat namun tidak tumpah,
6.        Dilakukan pengamatan terhadap kecepatan drainase tanah, dengan cara mengukur waktu yang dibutuhkan untuk meresapkan air,
7.        Dilakukan ulangan pengujian aerasi sebanyak tiga kali.

BAB VI
HASIL PENGAMATAN DAN ANALISA DATA
Paralon
Kecepatan Drainase (detik)
A
346
B
32,92
C
114


BAB VII
PEMBAHASAN
Dari pengamatan yang telah dilakukan ditemukan perbedaan kecepatan tanah dalam menyerap air. Dimana paralon A memiliki daya serap air yang paling lama, dan paralon B memiliki daya serap air yang paling cepat. Hal ini dipengaruhi oleh kandungan air dan udara pada masing – masing  tanah. Pada paralon A tanah cenderung bersifat basah dan memiliki kandungan air yang tinggi, dan kandungan udara yang sedikit, sehingga daya serap air berlangsung lama. Sedangkan pada paralon B tanah cenderung bersifat kering dan memiliki kandungan air yang sedikit dan kandungan udara yang banyak, sehingga air dapat diserap oleh tanah dalam waktu yang cepat.
Faktor yang mempengaruhi Drainase :
  1. Tekstur
Tekstur sangat mempengaruhi drainase tanah. Hal ini dikarenakanpermeabilitas itu adalah melewati tekstur tanah. Misalnya tanah yang bertekstur pasir akan mudah melewatkan air dalam tanah.

  1. Struktur
Struktur juga mempengaruhi permebilitas. Semakin banyak ruang antar struktur, maka semakin cepat juga permeabilitas dalam tanah tersebut. Misalnya tanah yang berstruktur lempeng akan sulit di tembus oleh air daru pada berstruktur remah.
  1. Porositas
Porositas atau ruang pori adalah rongga antar tanah yang biasanya diisi air atau udara. Pori sangat menentukan sekali dalam permeabilitas tanah, semakin besar pori dalam tanah tersebut, maka semakin cepat pula permeabilitas tanah tersebut.
  1. Viskositas
Viskositas sama juga dengan kekentalan air, semakin kental air tersebut, maka semakin sulit juga air untuk menembuas tanah tersebut.
  1. Gravitasi
Gaya gravitasi atau gaya tarik bumi juga sangat menentukan drainase tanah, karena permeabilitas adalah gaya yang masuk ke tanah menrut gaya gravitasi.

BAB VIII
KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa drainase tanah adalah kemampuan tanah mengalirkan dan mengaruskan kelebihan air yang berada dalam tanah maupun pada permukaan tanah. Air berlebihan yang menggenangi tanah disebabkan oleh pengaruh topografi, air tanah yang dangkal, dan curah hujan. Drainase dipengaruhi oleh kandungan air dan udara dalam tanah.

Kelas drainase yaitu:
1.      Cepat
2.      Agak cepat
3.      Baik
4.      Agak baik
5.      Agak terhambat
6.      Terhambat
7.      Sangat terhambat
















DAFTAR PUSTAKA

ACARA III : UJI KEMAMPUAN MENAHAN AIR

BAB I
PENDAHULUAN
Tekstur tanah yang berbeda mempunyai kemampuan menahan air yang berbeda pula. Tanah bertekstur halus, contohnya : tanah bertekstur liat, memiliki ruang pori halus yang lebih banyak, sehingga berkemampuan menahan air lebih banyak. Sedangkan tanah bertekstur kasar, contohnya : tanah bertekstur pasir, memiliki ruang pori halus lebih sedikit, sehingga kemampuan menahan air lebih sedikit pula.
Air mempunyai fungsi yang penting dalam tanah. Antara lain pada proses pelapukan mineral dan bahan organik tanah, yaitu reaksi yang mempersiapkan hara larut bagi pertumbuhan tanaman. Selain itu, air juga berfungsi sebagai media gerak hara ke akar-akar tanaman. Akan tetapi, jika air terlalu banyak tersedia, hara-hara dapat tercuci dari daerah-daerah perakaran atau bila evaporasi tinggi, garam-garam terlarut mungkin terangkat kelapisan tanah atas. Air yang berlebihan juga membatasi pergerakan udara dalam tanah, merintangi akar tanaman memperoleh O2 sehingga dapat mengakibatkan tanaman mati.
Kandungan air tanah dapat ditentukan dengan beberapa cara. Sering dipakai istilah-istilah nisbih, seperti basah dan kering. Kedua-duanya adalah kisaran yang tidak pasti tentang kadar air sehingga istilah jenuh dan tidak jenuh dapat diartikan yang penuh terisi dan yang menunjukkan setiap kandungan air dimana pori-pori belum terisi penuh. Jadi yang dimaksud dengan kadar air tanah adalah jumlah air yang bila dipanaskan dengan oven yang bersuhu 105oC hingga diperoleh berat tanah kering yang tetap.
Dua fungsi yang saling berkaitan dalam penyediaan air bagi tanaman yaitu memperoleh air dalam tanah dan pengaliran air yang disimpan ke akar-akar tanaman. Jumlah air yang diperoleh tanah sebagian bergantung pada kemampuan tanah yang menyerap air cepat dan meneruskan air yang diterima dipermukaan tanah ke bawah. Akan tetapi jumlah ini juga dipengaruhi oleh faktor-faktor luar seperti jumlah curah hujan tahunan dan sebaran hujan sepanjang tahun.

BAB II
TEORI DASAR
Air terdapat di dalam tanah Alfisol ditahan (diserap) oleh massa tanah, tertahan oleh lapisan kedap air, atau karena keadaan drainase yang kurang baik. Baik kelebihan air ataupun kekurangan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Fungsi air tanah yaitu sebagai pembawa unsur hara dalam tanah serta keseluruhan bagian tanaman. Kadar air selalu berubah sebagai respon terhadap faktor-faktor lingkungan dan gaya gravitasi. Karena itu contoh tanah dengan kadar air harus disaring, diukur, dan biasanya satu kali contoh tanah akan dianalisis untuk penerapan suatu sifat. (Hakim, dkk., 1986).
Jumlah air yang ditahan oleh tanah dapat dinyatakan atas dasar berat dan isi. Begitupula pada tanah Alfisol pada umunya, dasar penentuannya adalah pengukuran kehilangan berat dari suatu contoh tanah yang lebih lembab setelah dikeringkan pada suhu 105oC selama 24 jam. Kehilangan berat sama dengan berat air yang terdapat dalam contoh tanah. Kadar air (0) dihitung secara gravimetrik dengan satuan g / g, yaitu berat air yang terdapat di dalam suatu massa tanah kering (0 = tanah lembab-berat kering oven). (Pairunan, dkk., 1985)
Kadar air dalam tanah Alfisol dapat dinyatakan dalam persen volume yaitu persen volume air terhadap volume tanah. Cara ini mempunyai keuntungan karena dapat memberikan gambaran tentang ketersediaan air pada pertumbuhan pada volume tanah tertentu. Cara penetapan kadar air tanah dapat digolongkan dengan beberapa cara penetapan kadar air tanah dengan gravimetrik, tegangan atau hisapan, hambatan listrik dan pembauran neutron. (Hardjowigeno, S., 1992).
Daya pengikat butir-butir tanah Alfisol terhadap air adalah besar dan dapat menandingi kekuatan tanaman yang tingkat tinggi dengan baik begitupun pada tanah Inceptisol dan Vertisol, karena itu tidak semua air tanah dapat diamati dan ditanami oleh tumbuhan. (Syarief, 1998).
Faktor tumbuhan dan iklim mempunyai pengaruh yang berarti pada jumlah air yang dapat diabsorpsi dengan efisien tumbuhan dalam tanah. Kelakukan akan ketahanan pada kekeringan, keadaan dan tingkat pertumbuhan adalah faktor tumbuhan yang berarti. Temperatur dan perubahan udara merupakan perubahan iklim dan berpengaruh pada efisiensi penggunaan air tanah dan penentuan air yang dapat hilang melalui saluran evaporasi permukaan tanah. Diantara sifat khas tanah yang berpengaruh pada air tanah yang tersedia adalah hubungan tegangan dan kelembaban, kadar garam, kedalaman tanah, strata dan lapisan tanah. (Buckman dan Brady, 1982).
Banyaknya kandungan air tanah berhubungan erat dengan besarnya tegangan air (moisture tension) dalam tanah tersebut. Kemampuan tanah dapat menahan air antara lain dipengaruhi oleh tekstur tanah. Tanah-tanah yang bertekstur kasar mempunyai daya menahan air yang lebih kecil dari pada tanah yang bertekstur halus. Pasir umumnya lebih mudah kering dari pada tanah-tanah bertekstur berlempung atau liat. (Hardjowigeno, S., 1992).

BAB III
TUJUAN
Praktikum ini bertujuan menguji kemampuan tanah dalam menahan air, untuk mengetahui selisih antara volume air yang disiramkan dengan volume air yang tertampung di bak penampungan.


BAB IV
MATERI PRAKTIKUM
A.      Bahan
1.      Tanah.
2.      Air 500 ml.
B.       Alat
1.      Alat penguji menahan air yang berpori di bagian bawah
2.      Gelas ukur.
3.      Botol penampung
4.      Besi penyangga

BAB V
PROSEDUR KERJA
1.        Menyiapkan alat penguji yang berpori dibagian bawah dan alat penguji penahan air.
2.        Memasukan tanah kedalam alat penguji.
3.        Mengatur sedemikian rupa sehingga bagian yang berpori menghadap kebawah dan mengarah alat penguji penahan air.
4.        Memasukan air kedalam alat penguji.
5.        Menunggu hingga air tidak menetes lagi.
6.        Mengukur air yang tertampung didalam alat penguji penahan air dengan menggunakan gelas ukur.
7.        Melakukan pengujian ulang kapasits menahan air tiga kali.




BAB VI
HASIL PENGAMATAN DAN ANALISA DATA
Paralon
Air yang tertampung
Air yang tertahan
1
300
200
2
300
200
3
280
220


BAB VII
PEMBAHASAN
Padapengujian 1 air yang tertahan adalah 200 ml, pada pengujian 2 air yang tertahan adalah 200 ml, pada pengujian 3 air yang tertahan adalah 220 ml.
Kemampuan tanah menahan air dipengaruhi antara lain oleh tekstur tanah. Tanah-tanah bertekstur kasar mempunyai daya menahan air lebih kecil daripada tanah bertekstur halus. Oleh karena itu, tanaman yang ditanam pada tanah pasir umumnya lebih mudah kekeringan daripada tanah-tanah bertekstur lempung atau liat.
Kondisi kelebihan air ataupun kekurangan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.
Ketersediaan air dalam tanah dipengaruhi:
1.      Banyaknya curah hujan atau air irigasi,
2.      Kemampuan tanah menahan air,
3.      Besarnya evapotranspirasi (penguapan langsung melalui tanah dan melalui vegetasi),
4.      Tingginya muka air tanah,
5.      Kadar bahan organik tanah,
6.      Senyawa kimiawi atau kandungan garam-garam, dan
7.      Kedalaman solum tanah atau lapisan tanah.

BAB VIII
KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Air terdapat di dalam tanah Alfisol ditahan (diserap) oleh massa tanah, tertahan oleh lapisan kedap air, atau karena keadaan drainase yang kurang baik. Baik kelebihan air ataupun kekurangan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Fungsi air tanah yaitu sebagai pembawa unsur hara dalam tanah serta keseluruhan bagian tanaman. Kadar air selalu berubah sebagai respon terhadap faktor-faktor lingkungan dan gaya gravitasi. Karena itu contoh tanah dengan kadar air harus disaring, diukur, dan biasanya satu kali contoh tanah akan dianalisis untuk penerapan suatu sifat.









DAFTAR PUSTAKA
dasar2ilmutanah.blogspot.com
wartawarga.gunadarma.ac.id

ACARA IV : UJI KAPILARITAS TANAH

BAB I
PENDAHULUAN
Tanah yang mampu menyerap air dari bawah atau memiliki kapilaritas berarti tanah tersebut hidup subur / punya bahan organik yang tinggi. Kapilaritas disebabkan oleh interaksi molekul-molekul di dalam zat cair. Di dalam zat cair molekul-molekulnya dapat mengalami gaya adhesi dan kohesi.
Gaya kohesi adalah tarik-menarik antara molekul-molekul di dalam suatu zat cair sedangkan gaya adhesi adalah tarik menarik antara molekul dengan molekul lain yang tidak sejenis, yaitu bahan wadah di mana zat cair berada. Apabila adhesi lebih besar dari kohesi seperti pada air dengan permukaan gelas, air akan berinteraksi kuat dengan permukaan gelas sehingga air membasahi kaca dan juga permukaan atas cairan akan melengkung (cekung). Keadaan ini dapat menyebabkan cairan dapat naik ke atas oleh tegangan permukaan yang arahnya keatas sampai batas keseimbangan gaya ke atas dengan gaya berat cairan tercapai. Jadi air dapat naik keatas dalam suatu pipa kecil yang biasa disebut pipa kapiler. Inilah yang terjadi pada saat air naik dari tanah ke atas melalui tembok. Air dapat merembes ke atas melalui retakan tembok sehingga membasahi tembok.
Gejala alam kapilaritas ini memungkinkan kita menghitung tinggi kenaikan air dalam suatu pipa kapiler berbentuk silinder/tabung dengan jari-jari r.





BAB II
TEORI DASAR
Kapilaritas adalah peristiwa naik dan turunnya suatu permukaan zat cair ke dalam pipa kapiler (pipa dengan atau dalam celah adalah:sempit). Inilah Beberapa contoh gejala kapilaritas dalam kehidupan sehari-hari kita :
1.      Naiknya minyak tanah melalui sumbu kompor minyak/lampu minyak.
2.      Meresapnya air pada kain pel, kertas tisu, spons, dan kertas isap.
3.      Naiknya air dan mineral dari dalam tanah melalui akar pada tumbuhan.
Pengertian Air
Air adalah semua air yang terdapat pada, di atas maupun di bawah permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang dimanfaatkan di darat.
Jenis-Jenis Air
Air merupakan sumber kehidupan yang tidak dapat tergantikan oleh apa pun juga.Tanpa air manusia, hewan dan tanaman tidak akan dapat hidup. Air di bumi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :
1.      Air Tanah
Air tanah adalah air yang berada di bawar permukaan tanah. Air tanah dapat kita bagi lagi menjadi dua, yakni air tanah preatis dan air tanah artesis.


a.       Air Tanah Preatis
Air tanah preatis adalah air tanah yang letaknya tidak jauh dari permukaan tanah serta berada di atas lapisan kedap air / impermeable.
b.      Air Tanah Artesis
Air tanah artesis letaknya sangat jauh di dalam tanah serta berada di antara dua lapisan kedap air.
2.      Air Permukaan
Air pemukaan adalah air yang berada di permukaan tanah dan dapat dengan mudah dilihat oleh mata kita. Contoh air permukaan seperti laut, sungai, danau, kali, rawa, empang, dan lain sebagainya. Air permukaan dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu :
a.       Perairan daratadalah air permukaan yang berada di atas daratan misalnya seperti rawa-rawa, danau, sungai, dan lain sebagainya.
b.      Perairan laut adalah air permukaan yang berada di lautan luas. Contohnya seperti air laut yang berada di laut.
Sifat dan Kegunaan Air
1.        Air Menempati Ruang
Setiap hari kita minum. Air yang kita minum, kita tuangkan ke dalam gelas atau cangkir. Jika dituangi terus, suatu saat gelas akan penuh dan akhirnya air di dalam gelas tumpah. Tupahnya air menunjukkan bahwa gelas tidak mampu lagi menampung air. Hal itu merupakan bukti bahwa air menempati ruangan.
2.        Bentuk Permukaan Air
Permukaan air yang tenang selalu datar. Sifat ini dalam kehidupan sehari-hari dimanfaatkan untuk mengetahui datar tidaknya suatu tempat. Alat yang digunakan untuk mengetahui datar atau tidaknya suatu tempat disebut waterpas. Alat ini banyak digunakan oleh tukang batu. Bentuk datar permukaan air juga berlaku pada bejana berhubungan. Bejana berhubungan adalah dua atau lebih bejana yang saling dihubungkan.
3.             Air Mengalir dari Tempat Tinggi ke Tempat yang Rendah
Walaupun secara alami air mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah, tetapi kita dapat mengalirkan air dari tempat rendah ke tempat tinggi. Misalnya pompa air.
4.             Air Dapat Melarutkan Berbagai Zat
Mengapa gula yang dimasukkan ke dalam air lama-kelamaan lenyap setelah diaduk beberapa saat ? Sebenarnya, gula yang dimasukkan ke dalam air tidak lenyap. Peristiwa ini dikatakan gula larut dalam air. Tidak hanya manusia, hewan dan tumbuhan pun banyak mengambil manfaat dari kelarutan zat. Tanpa adanya kelarutan zat, sari-sari makanan tidak dapat diedarkan ke seluruh bagian tubuh.
5.             Air Menekan ke Segala Arah
Wilayah negara kita, sebagian besar berupa peraiaran. Dengan teknologi, kita dapat memanfaatkan perairan sebaik-baiknya. Hal penting yang harus kamu ketahui tentang air adalah tekanan air. Adanya tekanan air inilah yang menyebabkan orang dapat berenang dan kapal dapat terapung.

6.             Air Meresap melalui Celah-Celah Kecil
Air yang disiramkan ke tanah meresap melalui celah-celah kecil tanah. Meresapnya air dalam tanah sangat penting bagi kehidupan. Hal itu karena air yang meresap dalam tanah. Peristiwa peresapan air juga dapat kita lihat pada kain. Jika sebuah kain terkena percikan air, air tersebut akan meluas pada kain. Akibatnya, bagian kain yang basah semakin luas.

BAB III
TUJUAN
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui air yang terserap dari dalam tanah dimana air dibawah  permukaan tanah, mengetahui ukuran air yang meresap kedalam tanah.

BAB IV
MATERI PRAKTIKUM
A.      Bahan
1.      Tanah.
2.      Air.
B.       Alat
1.      Penguji kapilaritas yang berpori dibagian bawah.
2.      Nampan.
3.      Stopwatch.
4.      Penggaris.

BAB V
PROSEDUR KERJA
1.        Menyiapkan alat penguji yang berpori dibagian bawah.
2.        Tanah halus (tanah yang diremahkan).
3.        Meletakan alat penguji yang berisi tanah diatas nampan berisi air.
4.        Melakukan pengamatan setelah 20 menit.
5.        Mengukur tinggi yang dicapai oleh air di tanah yang berada didalam alat penguji.
6.        Melakukan pengujian kapilaritas sebanyak tiga kali


BAB VI
HASIL PENGAMATAN DAN ANALISA DATA
Penguji
Tinggi kapilaritas air
1
16 cm
2
13 cm
3
Gagal


BAB VII
PEMBAHASAN
Faktor yg mempengaruhi Air Tersedia tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
  1. Hubungan tegangan dengan kelengasan
  2. Kedalaman tanah
  3. Pelapisan Tanah         
Tanah itu jenuh akan air pada permukaan dan dibawah dataran air. Air berpindah keatas karena kekapileran dari dataran air dan membuat pinggiran kapiler yang kandungan airnya lebih besar dari pada kapasitas lapangan. Pori – pori besar menarik air keatas hanya dalam jarak pendek dan pori – pori kecil menarik air sampai jarak yang lebih besar dari dataran tinggi. Meningkatkan jarak diatas dataran air dan peningkatan kandungan udara pada pinngiran kapiler mempunyai kandungan air yang diatur oleh keseimbangan antara penyusupan dan evapotranspirasi serta perkolasi ( penerobosan ).
  1. Tegangan Matrik : tekstur, struktur dan kandungan bahan organik mempengaruhi jumlah air yg dapat disediakan tanah bagi tanaman.
  2. Teganagn Osmotik : adanya garam dalam tanah meningkatkan tegangan osmotik dan menurunkan jumlah air tersedia, yaitu menaikkan koefisien layu.

BAB VIII
KESIMPULAN
Kapilaritas ialah peristiwa naik dan turunnya suatu permukaan zat cair ke dalam pipa kapiler (pipa dengan atau dalam celah sempit). Kapilaritas bergantung pada besarnya pori yang dilalui air, semakin besar pori-pori maka kecepatan kapilaritas akan semakin cepat.





DAFTAR PUSTAKA

ACARA V : UJI TEKSTUR TANAH

BAB I
PENDAHULUAN
Tanah dapatdigunakansebagai media pertumbuhan tanaman, ada sebagai penopang jalanya serta pondasi bangunan. Oleh karena itu tekstur tanah merupakan sifat tanah yang lebih permanen dan terpenting dan akan dibahas.
Tekstur tanah dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan suatu tanaman. Tekstur tanah yang   sesuai bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman dapat memacu dan memperkuat tanaman untuk dapat tumbuh dengan baik, sehinnga segala sesuatu yang diperlukan karena faktor tanah dapat diperoleh. Tekstur tanah juga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mendirikan suatu bangunan, apakah suatu bangunan tersebut dapat berdiri kokoh atau tidak di wilayah tersebut, sehingga perlunya suatu analisis untuk menentukan jenis tekstur tanah suatu area atau wilayah tertentu.
Penentuan tekstur tanah dapat ditentukan dengan metode analisis kualitatif, dengan merasakan tanah langsung dengan menggunakan jari tangan sehingga dapat diketahui tingkat kehalusan dan kekasarannya. Hal  ini disebabkan karena penentuan tekstur tanah merupakan perbandingan fraksi tanah yang meliputi kandungan liat, debu, dan pasir dalam suatu massa tanah yang memiliki bentuk partikel yang berbeda-beda. Bila terasa halus maka tanah memiliki kandungan liat yang dominan dan bila kasar maka kandungan pasirnya dominan.



BAB II
TEORI DASAR
Tekstur tanah merupakan satu sifat fisik tanah yang secara praktis dapat dipakai sebagai alat evaluasi atau jugging ( pertimbangan ) dalam suatu potensi penggunaan tanah. Tekstur tanah menunjukkan perbandingan relatif antara Pasir ( sand ) berukuran 2 mm – 50 mikron, debu ( silt ) berukuran 50 – 2 mikron dan liat ( clay ) berukuran < 2 mikron. Klasifikasi tekstur ini berdasarkan jumlah partikel yang berukuran < 2 mm. Jika dijumpai partikel yang > 2 mm dengan jumlah yang nyata, maka penambahan / penyisipan kata – kata berkerikil atau berbatu ditambahkan pada nama kelas tekstur tadi. Sebagai contoh lempung berbatu.
 Untuk keperluan pemilihan ada 12 kelas tekstur tanah. Dan pembagian itu kemudian disederhanakan menjadi 7 kelas yang terdiri dari pasir, lempung kasar, lempung halus, debu kasar, debu halus, liat debu dan liat sangat halus. Tekstur merupakan sifat yang sangat penting karna berpengaruh pada sifat – sifat kimia, fisik dan biologi tanah. Tanah secara garis besar dapat dibagi menjadi 2 kelas yaitu tanah bertekstur kasar dan tanah bertekstur halus. 
Tanah bertekstur halus ( dominant liat ) memiliki permukaan yang lebih halus dibanding dengan tanah bertekstur kasar ( dominan pasir ). Sehingga tanah – tanah yang bertekstur halus memiliki kapasitas adsorpsi unsur – unsur hara yang lebih besar. Dan umumnya lebih subur dibandingkan dengan tanah bertekstur kasar. Karna banyak mengandung unsure hara dan bahan organik yang dibutuhkan oleh tanaman. Tanah bertekstur kasar lebih porus dan laju infiltrasinya lebih cepat. Walaupun demikian tanah bertekstur halus memiliki kapasitas memegang air lebih besar dari pada tanah pasir karna memiliki permukaan yang lebih luas. Tanah – tanah berliat memiliki persentase porus yang lebih banyak yang berfungsi dalam retensi air ( water retension ). Tanah – tanah bertekstur kasar memiliki makro porus yang lebih banyak, yang berfungsi dalam pergerakan udara dan air.

Penetapan tekstur tanah secara garis besar dapat dibagi dua, yaitu :
1.      Penetapan kasar yaitu menurut perasaan di lapang
2.      Penetapan di laboratorium
Analisis Tekstur
Penetapan Tekstur Tanah Menurut Perasaan di Lapang. Penetapan tekstur tanah di lapang dapat dilakukan dengan cara merasakan atau meremas contoh tanah antara ibu jari dan telunjuk.
Adapun metodenya adalah sebagai berikut :
1.    Ambil segumpal tanah kira-kira sebesar kelereng, basahi dengan air hingga dapat ditekan
2.    Pijit contoh tanah dengan ibu jari dan telunjuk, kemudian bentuk seperti benang sambil dirasakan. Langkah pertama yang perlu ditetapkan adalah apakah tanah tersebut bertekstur liat, lempung berliat, lempung atau pasir.
a.  Jika bentukan benang tersebut terbentuk dengan mudah dan tetap, maka contoh tanah tersebut besar kemungkinan adalah liat.
b. Jika bentukan benang tersebut terbentuk tapi mudah patah, maka kemungkinan lempung berliat.
c.  Jika tidak terbentuk benang, kemungkinan lempung berpasir.
d. Jika terasa lembut (halus dan licin) seperti tepung, maka debu yang dominan. Tetapi jika terasa berbentuk butir-butir, maka yang dominan adalah pasir.
3.    Untuk menentukan kelas tekstur selanjutnya dapat digunakan pedoman penetapan tekstur di lapang seperti di bawah ini.

·      Pasir (s), Rasa kasar jelas, tidak membentuk bola dan gulungan serta tidak melekat.
·      Pasir berlumpur (ls), Rasa kasar sangat jelas, membentuk bola yang mudah sekali hancur serta sedikit sekali melekat. 
·      Lempung berpasir (sl,Rasa kasar agak jelas, membentuk bola agak keras, mudah hancur serta melekat.
·      Lempung berdebu (si.l,Rasa licin, membentuk bola teguh, membentuk pita, lekat. 
·      Lempung (l),Rasa tidak kasar dan tidak licin, membentuk bola teguh, dapat sedikit digulung dengan permukaan mengkilat serta melekat. 
·      Debu (si), Rasa licin sekali, membentuk bola teguh, dapat sedikit digulung dengan permukaan mengkilat serta agak melekat. 
·      Lempung berliat (ci.l), Rasa agak kasar, membentuk bola teguh (kering), membentuk gulungan jika dipijit, gulungan mudah hancur serta melekatnya sedang 
·      Lempung liat berpasir(s.cl.l), rasa kasar agak jelas, membentuk bola teguh (kering), membentuk gulungan jika dipijit, gulungan mudah hancur serta melekat.
·      Lempung liat berdebu (si.cl.l),Rasa jelas licin, membentuk bola teguh, gulungan, gulungan mengkilat serta melekat.
·      Liat berpasir (si.cl),rasa licin agak kasar, membentuk bola dalam keadaan kering sukar dipijit, mudah di gulung serta melekat sekali.
·      Liat berdebu (si.cl),Rasa agak licin, membentuk bola dalam keadaan kering sukar dipijit, mudah digulung serta melekat.
·      Liat (cl), Rasa berat membentuk bola baik serta melekat sekali
·      Liat berat (K),Sama seperti rasa dan sifat tanah liat, tetapi rasa berat sekali. 
Macam-Macam Tekstur Tanah
Ada tiga macam tekstur tanah yang utama, yaitu pasir (sand), lempung (loam), dan liat (clay). Tanah dikatakan pasir bila jandungan pasirnya lebih dari 70%. Sedangkan lait apabila kandungan litany lebih dari 35%. Jika suatu fraksi bukan fraksi liat ataupun pasir, maka itu adalah fraksi debu. Departemen Pertanian Amerika Serikat membagi tekstur tanah menjadi 12 kelas tekstur. Penetapan tekstur tanah ada 2, yaitu :
1.      Penetapan di Laboratorium
2.      Penetapan Tekstur di Lapang
Perbedaan Tekstur Utama dari Kemampuan Fisik, Kimia dan Biologi.
Tekstur merupakan sifat yang sangat penting karena berpengaruh terhadap sifat-sifat kimia, fisik dan biologi tanah. Tanah secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kelas yaitu tanah bertekstur kasar dan halus. Dan tekstur kasar dan halus inipun bisa diklasifikasikan menjadi beberapa bagian lagi sesuai dengan kandungan liat, pasir dan debu. 
Tanah bertekstur halus ini didominhasi oleh tanah liat dengan tekstur yang lembut dan licin yang memiliki permukaan yang lebih halus dibandingkan dengan tanah bertekstur kasar yang biasanya berbentuk pasir. Sehingga tanah-tanah yang bertekstur halus memiliki kapasitas dalam proses penyerapan unsur-unsur hara yang lebih besar dibandingkan dengan tanah yang bertekstur kasar. Namun, pada tanah bertekstur lembut ini umumnya lebih subur dibandingkan dengan tanah bertekstur kasar. Karena banyak mengandung unsure hara dan bahan organic yang dibutuhkan oleh tanaman serta mudah dalam menyerap unsur hara. 
Sedangkan pada tanah bertekstur kasar lebih porus dan laju infiiltrasinya lebih cepat. Walaupun demikian tanah bertekstur halus memiliki kapasitas memegang air yang lebih besar daripada tanah pasir karena memiliki permukaan yang lebih banyak yang berfungsi dalam retensi air (water retension). Tanah-tanah bertekstur kasar memiliki makro porus yang lebih banyak, yang berfungsi dalam pergerakkan udara dan air. 
Semakin halus tekstur tanahnya maka kapasitas adsorpsi menahan unsur – unsur hara lebih besar, dan lebih banyak mengandung unsure hara dan bahan organik yang dibutuhkan tanaman, kapasitas memegang air juga lebih besar sebab memiliki permukaan yang lebih luas. Sedangkan tanah bertekstur kasar memiliki laju infiltrasi yang cepat dan lebih porus. Sehingga unsure hara akan ikut hanyut dan yang tertahan didalam tanah semakin sedikit.
Faktor – Faktor yang mempengaruhi tekstur tanah yaitu :
1.      Iklim
2.      Bahan induk
3.      Topografi
4.      Waktu
5.      Organism
Faktor – faktor yang dipengaruhi tekstur tanah yaitu :
1.      Kemampuan tanah memegang dan menyimpan air
2.      Aerasi, serta permeabilitas 
3.      Kapasitas tukar kation
4.      Kesuburan tanah. 
5.      Infiltrasi 
6.      Laju pergerakan air (perkolasi)
Hubungan Tekstur Tanah dengan Sifat Fisik Tanah Lainnya.
·         Hubungan Tektstur tanah dengan kadar air dalam tanah.
Kadar dan ketersediaan air tanah sebenarnya pada setiap koefisien umum bervariasi terutama tergantung pada tekstur tanah.
·         Hubungan Tekstur Tanah dengan Struktur Tanah
Pada Dasarnya tekstur tanah itu adalah perbandingan antara partikel-partikel pasir, debu dan liat yang menyusun suatu tanah. Dari partikel tersebut beragresi (berkumpul) membentuk struktur tanah.
·         Hubungan Tekstur Tanah dengan Ruang Pori Total
Tanah dengan tekstur halus mempunyai kisaran ukuran dan bentuk partikelnya yang luas. Hal ini telah ditekankan bahwa tanah permukaan yang berpasir mempunyai porositras kecil daripada tanah liat. Berarti bahwa tanah pasir mempunyai volume yang lebih sedikit ditempati oleh ruang pori. Ruang pori total pada tanah pasir mungkin rendah tetapi mempunyai proporsi yang besar yang disusun daripada komposisi pori-pori yang besar yang sangat efisien dalam pergerakan udara dan airnya. Persentase volume yang dapat terisi oleh pori-pori kecil pada tanah pasir rendah yang menyebabkan kapasitas menahan airnya rendah. Sebaliknya tanah-tanah permukaan dengan tekstur halus memiliki ruang pori total lebih banyak dan proporsinya relatif besar yang disusun oleh pori kecil. Akibatnya adalah atanah mempunyai kapasitas menahan air yang tinggi. 
Kajian Mengenai Pengaruh Tekstur Tanah dalam Usaha Pertanian
Dalam Usaha pertanian, kondisi tekstur tanah menjadi perhatian utama bagi petani. Karena dengan mengetahui tekstur tanah maka akan diketahui pula vegetasi apa yang cocok untuk dikembangbiakan, mengetahui cara pengolahannya seperti apa dan bagaimana. Karena tekstur tanah dapat mempangaruhi tanaman yang tumbuh di atas tanah. Pengaruhnya antara lain :

1.      Resistensi, terhadap menembusnya akar-akar kedalam tanah.
Tanah dengan kandungan silt dan clay yang tinggi sangat sukar ditembus oleh akar-akar tanaman sehingga percabangan dan perkembangan akar terhambat. Hal ini akan berpengaruh pada daerah yang mempunyai iklim kering panjang. Terutama pada tanaman-tanaman yang masih berumur muda sangat peka terhadap tekstur tanah sehingga dapat menghasilkan tanaman dewasa yang berbeda.
2.    Peresapan air
Pada tanah-tanah yang kasar, air hujan yang jatuh akan segera masuk kedalam tanah. Kalau kita mendapatkan tanah yang miring pada tanah yang kadar akan terjadi air aliran sedikit dan sebaliknya pada tanah bertekstur halus. Sehingga pada umumnya pada tanah-tanah yang lebih berat (tekstur halus) akan mudah terjadi erosi sehingga banyaknya air yang mengalir akan mempengaruhi erosifitas tanah terutama oleh air hujan.
3.    Kecepatan gerakan air dalam tanah
Pada umumnya hal di atas sangat ditentukan oleh tekstur tanah, yaitu makin halus tekstur makin lambat gerakan air. Umumnya pada tanaman muda (annual crop) tidak menghendaki tanah yang bertekstur halus dan sebaliknya termasuk tanaman keras lebih resisten terhadap tanah bertekstur halus. Sehingga dengan demikian kebanyakan tanaman-tanaman muda mempunyai areal tanah pada daerah-daerah bertekstur kasar. Dengan sendirinya pada tanaman padi justru menghendaki sistem lempung ini karena tanaman padi termasuk tanaman yang memerlukan air berlebihan.
Kedua macam tekstur ini mempunyai kebaikan dan kelemahan pada masing-masing tanaman. Kalau kita tinjau masalah ini pada tanah pasir maka air akan bergerak lebih cepat dibanding pada tanah-tanah bertekstur halus. Kecepatan gerakan air pada tanah pasir ini begitu cepat sehingga sampai keluar dari daerah perakaran, dan tidak berguna. Ini ada hubungannya dengan mengapa tanaman muda menghendaki tanah pasir karena sistem perakarannya lebih dangkal daripada sistem perakaran tanaman keras sehingga dengan demikian walaupun air bergerak cepat tetapi kedalaman tertentu masih mempunyai kelembaban tertentu sehingga daerah ini masih mengandung air yang cukup untuk mensuplai air. Bila musim kemarau datang dan tanaman sangat tergantung pada air kapiler dari bagian tanah kecepatan naiknya kembali air tanah akan lebih cepat pada tanah-tanah bertekstur kasar.
Dengan mengetahui tektur tanah maka akan mengetahui pula bagaimana cara pengolahannya dan hasil panen yang didapat akan memungkinkan mencapai hasil maksimal.

BAB III
TUJUAN
Praktikum ini bertujuan untuk menentukan tekstur tanah secara kualitatif dalam keadaan basah, dan menentukan lapisan tanah sangat kasar, kasar dan halus.




BAB IV
MATERI PRAKTIKUM
A.      Bahan
1.      Tanah
2.      Plastik 1 meter
3.      Air 500 ml
B.       Alat
1.      Penggaris.
2.      Tali.
3.      Gelas ukur.

BAB V
PROSEDUR KERJA
1.        Mengambil plastik 1 m,
2.        Mengikat ujung plastik dengan diikat tali mati,
3.        Memasukan tanah 30 cm kedalam plastik dan ditambahkan air 500 ml,
4.        Mengikat ujung plastik dengan tali simpul setelah dimasuki tanah dan air,
5.        Mengocok plastik penguji selama 15 menit,
6.        Menggantungkan plastik uji,di gantung selama 15-20 menit dan kemudian air dalam plastik mengendap,
7.        Mengukur setiap lapisan dengan menggunakan penggaris/mistar,
8.        Melakukan pengulangan pengujian tekstur tanah sebanyak tiga kali.



BAB VI
HASIL PENGAMATAN DAN ANALISA DATA
No.
Komposisi
Pasir
Liat
Debu
Bhn. Organik
1
25 cm
9 cm
12 cm
2 cm
2
26 cm
7 cm
13 cm
3 cm
3
26 cm
16 cm
12 cm
1 cm



BAB VII
PEMBAHASAN
Pada pengujian 1, 2, dan 3 masing – masing memiliki ukuran tekstur  yang berbeda – beda susunan tekstur tanah tersebut yaitu : tektur Sangat kasar, tekstur Kasar dan tekstur Halus. Tanah bertekstur kasar memiliki makro porus yang lebih banyak, yang berfungsi dalam pergerakkan udara dan air. Sedangkan tanah bertekstur halus didominasi oleh tanah liat dengan tekstur yang lembut dan licin yang memiliki permukaan yang lebih halus dibandingkan dengan tanah bertekstur kasar yang biasanya berbentuk pasir. Sehingga tanah-tanah yang bertekstur halus memiliki kapasitas dalam proses penyerapan unsur-unsur hara yang lebih besar dibandingkan dengan tanah yang bertekstur kasar. Namun, pada tanah bertekstur lembut ini umumnya lebih subur dibandingkan dengan tanah bertekstur kasar. Karena banyak mengandung unsur hara dan bahan organik yang dibutuhkan oleh tanaman serta mudah dalam menyerap unsur hara. Sedangkan pada tanah bertekstur kasar lebih porus dan laju infiiltrasinya lebih cepat.

BAB VIII
KESIMPULAN
Tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya tanah. Perbedan tekstur tanah tersebut ditentukan oleh perbandingan relatif antara pasir, debu, dan liat yang merupakan bahan penyusun tanah. Dikatakan pasir, debu dan liat ditentukan dari ukuran butiran – butiran tanah tersebut. Tanah liat biasanya memiliki tekstur yang lebih halus dan permukaan yang lebih halus, sedangkan pasir memiliki tekstur yang lebih kasar dan permukaan yang lebih kasar pula. Tanah yang bertekstur halus memiliki kapasitas dalam proses penyerapan unsur-unsur hara yang lebih besar dibandingkan dengan tanah yang bertekstur kasar. Namun, pada tanah bertekstur lembut ini umumnya lebih subur dibandingkan dengan tanah bertekstur kasar. Karena banyak mengandung unsur hara dan bahan organik yang dibutuhkan oleh tanaman serta mudah dalam menyerap unsur hara.

















DAFTAR PUSTAKA
HakimN, dkk. 1896, Dasar – dasar Ilmu Tanah, universitas lampung.

ACARA VI : UJI KAPASITAS MENAHAN NUTRISI

BAB I
PENDAHULUAN
Kemampuan tanah mengikat dan menyerap air adalah suatu ukuran jumlah air/nutrisi yang dapat diserap dan ditahan. Proses kehilangan air dan nutrisi dapat terjadi karena pengaruh penguapan atau proses pencucian. Kemampuan tanah menahan atau mengikat dan menyerap air tergantung pada struktur tanah dan kandungan bahan organik. Pengujian tanah mengikat/menyerap air bertujuan untuk mengetahui jenis tanah mana yang lebih kuat mengikat air. Kita ketahui bahwa suatu tanaman menghendaki tumbuh pada tanah yang mengandung air dan nutrisi sesuai dengan kebutuhan.
Kapilaritas disebabkan oleh interaksi molekul-molekul di dalam zat cair. Di dalam zat cair molekul-molekulnya dapat mengalami gaya adhesi dan kohesi. Gaya kohesi adalah tarik menarik antara molekul-molekul di dalam suatu zat cair sedangkan gaya adhesi adalah tarik menarik antara molekul dengan molekul lain yang tidak sejenis, yaitu bahan wadah di mana zat cair berada. Apabila adhesi lebih besar dari kohesi seperti pada air dengan permukaan gelas, air akan berinteraksi kuat dengan permukaan gelas sehingga air membasahi kaca dan juga permukaan atas cairan akan melengkung (cekung). Keadaan ini dapat menyebabkan cairan dapat naik ke atas oleh tegangan permukaan yang arahnya ke atas sampai batas keseimbangan gaya keatas dengan gaya berat cairan tercapai. Jadi air dapat naik keatas dalam suatu pipa kecil yang biasa disebut pipa kapiler. Inilah yang terjadi pada saat air naik dari tanah ke atas melalui tembok.



BAB II
TEORI DASAR
Nutrisi adalah proses penyediaan dan penyerapan unsur kimia untuk memenuhi kebutuhan suatu organisme. Tanaman menggunakan unsur 16 unsur itu, panas, cahaya, untuk membikan bahan berenergi lebih tinggi melalui proses fotosintesis dan proses-proses fisiologis lainya. Keenambelas unsur tersebut yang selanjutnya dapat disebut sebagai unsur hara saja terdiri dari karbon ( C ), hydrogen ( H ), oksigen ( O ), nitrogen ( N ), fosfor ( P ), kalium ( K ), belerang ( S ), kalsium ( Ca ), magnesium ( Mg ), seng ( Zn ), besi ( Fe ), tembaga ( Cu ), mangan ( Mn ), molybdenum ( Mo ), boron ( B ), dan klor ( Cl ). Tiga unsur yang pertama ( C,H, dan O ) diambil oleh tanaman terutama dari udara dan air. Tiga belas unsur lainya diserap dari tanah dan pupuk. Sembilan buah unsur ( C, H, O, N, P, K, Ca, dan Mg ) disebut sebagai unsur-unsur makro, karena mereka dibutuhkan dalam jumlah relative jauh lebih banyak dibandingkan dengan tujuh unsur sisanya ( Zn, Fe, Cu, Mn, Mo, B, dan Cl ) yang disebut unsur-unsur mikro.
Dasar pengelompokan unsur hara itu terletak hanya pada jumlah kebutuhanya. Walaupun unsur-unsur mikro diperlukan dalam jumlah yang sangat kecil, peranan mereka didalam nutrisi tanaman sama sekali tidak kalah pentingnya dengan kesembilan unsur hara lainya. Selanjutnya, enam dari unsur-unsur makro masih sering dibagi lagi menjadi unsur-unsur primer ( N,P,K ) dan unsur sekunder ( S,Ca, dan Mg ). Penamaan ini hanya berlandaskan pada kenyataan bahwa unsur-unsur N,P, dan K kebanyakan lebih sering diberikan dan jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan unsur-unsur S,Ca, dan Mg.
Unsur-unsur hara didalam tanah dapat dibagi menjadi dua bentuk, yaitu bentuk tersedia dan bentuk tidak tersedia. Unsur hara baru dapat diserap oleh tanaman dalam bentuk tersedia. Ketersediaan unsur-unsur hara bagi tanaman ditentukan baik oleh faktor tanah untuk menyediakan unsur-unsur tersebut maupun faktor tanaman untuk mengambilnya. Faktor tanaman dipengaruhi oleh oksigen, air dan unsur toksik. Oksigen yang diperlukan untuk pembebasan energy fotosintesis yang berguna untuk menyerap unsur hara, sedangkan air dibutuhkan untuk transpirasi. Unsur toksik perlu ditekan sekecil-kecilnya agar tidak meracuni tanaman atau mengakibatkan perkembangan akarnya terhambat. Faktor tanah untuk menyediakan unsur hara dapat dibagi menjadi faktor intensitas dan faktor kapasitas. Faktor kapasitas memiliki kemampuan untuk menyediakan unsur hara secara potensial dan ini mendukung faktor intensitas yang secara langsung berkemampuan menyediakan unsur hara untuk tanaman.
·         Faktor intensitas
Pergerakan sebuah unsur hara dari tanah hingga masuk kedalam tanaman dapat diibaratkan sebagai kendaraan yang berjalan didalam lalu lintasnya. Kadar atau suatu unsur hara didalam tanah merupakan faktor intensitas dari tanah tersebut. Ia menentukan intensitas unsur hara yang dapat diserap oleh akar tanaman.
Ada tiga mekanisme transportasi atau pergerkan unsur hara yang membuat mereka dekat dengan permukaan akar tanaman. Ketiga mekanisme itu selalu bekerja bersamaan, hanya untuk unsur hara yang berbeda dapat dijumpai dominasi yang berbeda pula, karena masing-masing mekanisme mempunyai arti khusus bagi setiap unsur yang berbeda itu. Sebagian besar P dan K mendekat kepermukaan akar dengan mekanisme difusi, sedangkan empat belas unsur hara lainya dengan aliran massa dan itersepsi akar.
Didalam intersepsi akar, yang bergerak sebenarnya bukan unsur hara, tetapi akar tanaman sendiri. Akar yang berkembang didalam tanah menyentuh unsur hara. Pada difusi, unsur-unsur hara didalam larutan tanah berpindah sendiri oleh sebab ada gradient (perbedaan) kosentrasi. Sedangkan pada aliran massa, unsur hara didalam larutan tanah ikut terbawa oleh larutan tersebut, berpindah akibat dari adanya gradient potensial air.
Apabila faktor-faktor oksigen, air dan unsur toksik cukup memadai dan tidak menghambat proses-proses respirasi dan transpirasi lagi, maka konsentrasi unsur hara didalaam larutan merupakan faktor yang mempengaruhi intensitas unsur hara yang dpat diserap oleh tanaman.
·         Faktor kapasitas
Faktor kapasitas adalah kadar atau konsentrasi suatu unsur hara pada fase padatan tanah yang mampu menggantikan atau menukar unsur hara yang hilang dari larutan tanah. Unsur hara tersebut mempunyai ketersediaan yang tinggi pula, akan tetapi tidak sesegara seperti unsur hara yang terdapat didalam larutan tanah. Unsur itu baru mempunyai kecondongan untuk larut didalam larutan tanah.
Faktor kapasitas merupakan indeks yang menunjukkan jumlah unsur hara yang secara potensial dapat masuk kedalam larutan tanah, faktor intensitas sangat tergantung pada faktor ini. Kalau faktor intensitas lebih menunjukan intensitas unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman pada suatu titik waktu, maka faktor kapasitas lebih memperlihatkan kapsitas unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman selama siklus hidupnya. Kesuburan kimia suatu tanah dapat diukur dari faktor kapasitas, karena faktor ini menyediakan suatu unsur hara cadangan bagi faktor intensitas.




BAB III
TUJUAN
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui unsur hara yang berada di dalam tanah tersedia banyak atau sedikit dan untuk mengetahui jenis tanah yang terdapat unsur hara.

BAB IV
MATERI PRAKTIKUM
A.      Bahan
1.      Air berwarna merah muda 500 ml.
2.      Tana halus.
B.       Alat
1.      Peralatan penguji kapasitas menahan nutrisi yang berpori dibagian bawah.
2.      Wadah penampung.
3.      Gelas ukur.

BAB V
PROSEDUR KERJA
1.        Menyiapkan alat penguji yang berpori di bagian bawah.
2.        Menyiapkan air 500 ml yang berwarna merah muda.
3.        Memasukan tanah kedalam alat penguji tiga perempat bagian.
4.        Memasukan air berwarna kedalam alat penguji.
5.        Menunggu hingga air yang keluar tertampung didalam alat penguji.
6.        Menunggu beberapa saat hingga air tidak menetes keluar dari alat uji.
7.        Mengamati warna terhadap air yang tertampung didalam alat penguji.
8.        Mengukur jumlah air yang tertampung didalam alat penguji.
9.        Melakukan pengujian ulangan aerasi tanah tiga kali.

BAB VI
HASIL PENGAMATAN DAN ANALISA DATA
Alat penguji
Air tertampung
Air terserap
1
500
0
2
500
0
3
500
0


BAB VII
PEMBAHASAN
Pada alat penguji 1, 2, dan 3 dituangi air berwarna merah muda ssebanyak 500 ml. Air yang tertampung pada wadah penampung di ketiga alat penguji tersebut adalah 500 ml, dan air yang terserap oleh tanah adalah 0 ml. Faktor yang menyebabkan air yang dituang sama dengan air yang tertampung adalah karena tanah yang digunakan pada alat penguji tersebut bersifat basah dan tidak mampu lagi untuk menampung air sehingga banyaknya air yang dituang dan yang tertampung sama. Pada ketiga pengujian terdapat perubahan warna air yang dituang, mula-mula air yang dituang berwarna merah muda dan berubah warna menjadi bening ketika dituangkan ke dalam tanah. Berarti tanah memiliki sifat filtering atau manyaring nutrisi pada air tersebut.
Ciri-ciri tanah subur antara lain: tekstur dan struktur tananya baik, yaitu butir-butir tanahnya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil; banyak mengandung garam yang berguna untuk makanan tumbuh-tumbuhan; dan banyak mengandung air untuk melarutkan garam-garaman.

BAB VIII
KESIMPULAN
Nutrisi adalah proses penyediaan dan penyerapan unsur kimia untuk memenuhi kebutuhan suatu organisme. Ketersediaan unsur-unsur hara bagi tanaman ditentukan baik oleh faktor tanah untuk menyediakan unsur-unsur tersebut maupun faktor tanaman untuk mengambilnya. Faktor tanaman dipengaruhi oleh oksigen, air dan unsur toksik. Oksigen yang diperlukan untuk pembebasan energy fotosintesis yang berguna untuk menyerap unsur hara, sedangkan air dibutuhkan untuk transpirasi. Unsur toksik perlu ditekan sekecil-kecilnya agar tidak meracuni tanaman atau mengakibatkan perkembangan akarnya terhambat.











DAFTAR PUSTAKA
Hardjowigeno, S. 1989.Ilmu Tanah. PT MediyatamaSaranaPerkasa, Jakarta.

ACARA VII : UJI AERASI TANAH

BAB I
PENDAHULUAN
Aerasi merupakan proses penjernihan dengan cara mengisikan oksigen ke dalam air. Dengan diisikannya oksigen kedalam air maka zat-zat seperti karbondioksida serta hydrogensulfida dan metana yang mempengaruhi rasa dan bau dari air dapat dikurangi atau dihilangkan. Selain itu partikel mineral yang terlarut dalam air seperti besi dan mangan akan teroksidasi dan secara cepat akan membentuk lapisan endapan yang nantinya dapat dihilangkan melalui proses sedimentasi atau filtrasi.
Aerasi adalah proses dimana air dalam tanah digantikan oleh udara dari atmosfer. Di tanah well-aerated, udara tanah sangat mirip dalam komposisi atmosfer di atas tanah. Buruk bercampur dgn udara tanah biasanya berisi konten yang jauh lebih tinggi dari CO2 dan konten bawah O2 daripada atmosfer di atas tanah. Tingkat aerasi tergantung pada volume dan kesinambungan pori-mengisi udara pori dalam tanah.
BAB II
TEORI DASAR
Aerasi Tanah adalah proses pertukaran O2 dan CO2 dan Atmosfer. Jenis – jenis gas lain yang termasuk dalam pertukaran ini adalah bentuk volatin Nitrogen (N2, NH3, NO,  NO2), sulfur (H2S, SO2) dan Hidrokarbon (CH4). Proses aerasi tanah merupakan salah satu faktor terpenting dalam produktivitas, akar tanaman menyerap oksigen dan melepaskan karbondioksida pada proses respirasi. Pada kebanyakan tanaman (kecuali padi). Perpindahan bagi oksigen internal dari permukaan tanah (daun dan cabang) menuju bagian bawah permukaan tanah (akar) tidak dapat terjadi pada kecepatan yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan.
Komposisi udara ini amat tergantung dari aktivitas jasad – jasad hidup, termasuk akar tanaman didalam tanah. Akar tanaman, demikian pula jasad – jasad hidup lainnya akan menyerap O2 dari udara tanah dan sebagai akibat pernafasan, mereka akan mengeluarkan CO2 kedalam udara tanah. Sebagai akibatnya kandungan CO2 lebih tinggi dalam udara tanah di bandingkan dengan atmosfer diatas tanah, demikian pula kandungan O2 lebih rendah didalam tanah dibandingkan dengan O2 dalam atmosfer. Perbedaan konsentrasi ini akan meningkat, jika lalu - lintas O2 dan CO2 dari tanah ke udara semakin sukar.
Udara di dalam tanah sangat penting. Terbatasnya ruang udara dapat menimbulkan terhambatnya pertumbuhan tanaman, mengganggu pernafasan akar, penyerapan air terhambat, demikian pula mengganggu penyerapan unsur hara. Aktifitas jasad hidup ditekan.Udara tanah dapat diperbaiki dengan pengolahan tanah, penanaman penutup tanah dan penambahan bahan organik. Perbaikan ini terutama ditujukan agar tanaman mendapat suplai yang cukup O2.
Suhu tanah berperan penting dalam mengendalikan aktifitas jasad hidup, baik tanaman maupun kegiatan biologi tanah. Suhu berperan pula dalam menentukan reaksi – reaksi kimia. Sifat fisika dan fisika – kimia tanah. Panas yang diterima tanah yang berasal dari radiasi matahari akan hilang melalui penguapan, radiasi kedalam atmosfer sebagai radiasi gelombang panjang, memanaskan udara dalam tanah dan tanah itu sendiri.
Respirasi akar yang baik memerlukan tanah teraerasi, yaitu pertukaran gas yang terjadi antara udara tanah dan atmosfer pada kecepatan tertentu untuk menghindari kekurangan O2 dan CO2 berlebihan yang terbentuk dalam zona perakaran. Mikroorganisme tanah juga bernafas, dan pada kondisi kurang udara, organisme ini akan bersaing dengan akar tanaman. Laju difusi gas pada fase gas umumnya lebih besar dibandingkan pada fase cair. Oleh sebab itu aerasi tanah sangat tergantung pada fraksi volume pori yang terisi udara.
Terhambatnya aerasi disebabkan oleh drainase buruk dan penggenangan air atau dari pemadatan mekanis pada tanah dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Masalah pemadatan tanah menjadi semakin penting dalam dekade terakhir ini karena kecendrungan penggunaan mesin yang lebih besar dan lebih berat serta kecenderungan pengolahan tanah secara berlebihan. Aerasi yang buruk dapat menurunkan pengambilan air dan menyebabkan pelayuan awal serta menyebabkan penurunan permeabilitas akar terhadap air menjadi bentuk mangano; reduksi besi dari feri menjadi fero; dan reduksi sulfat yang mengahsilkan hidrogen sulfida.

BAB III
TUJUAN
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pertukaran udara yang terjadi di dalam tanah, dan untuk mengetahui kemampuan tanah menyerap air.

BAB IV
MATERI PRAKTIKUM
A.      Bahan
1.      Tanah.
2.      Air 1000 ml.
B.       Alat
1.      Balon.
2.      Botol plastik berpori dibagian bawah dan tutup penguji.
3.      Nampan.
4.      Stopwatch.
5.      Karet.

BAB V
PROSEDUR KERJA
1.        Menyiapkan alat penguji yang berpori dibagian bawah,
2.        Memasukan tanah kedalam alat penguji tiga perempat bagian,
3.        Meniup balon pada balon yang terpasang pada alat penguji,
4.        Menyatukan alat penguji dengan tutupnya hingga tidak bocor,
5.        Menyiapkan nampan yang berisi air 500 – 1.000 ml,
6.        Meletakan alat penguji di atas nampan berisi air hingga tegak,
7.        Membuka kunci udara,
8.        Melakukan pengamatan terhadap waktu yang dibutuhkan hingga balon kempes,
9.        Mencatat waktunya.

BAB VI
HASIL PENGAMATAN DAN ANALISA DATA
Balon
Waktu
1
3,40 menit
2
9,20 menit





BAB VII
PEMBAHASAN
Pada pengujian 1 gelembung air cepat aerasi tersebut tidak bagus dan pengujian 2 gelembung aerasinya lambat sehingga aerasi tersebut baik.
Beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi aerase adalah tekstur, struktur tanah dan porositas. Tekstur tanah sangat berpengaruh terhadap aerase tanah yang bertekstur pasir lebih banyak akan mudah ditembus/dilewati air karena struktur ikatan partikel tanahnya renggang sehingga porositas (permiabilitas)nya sangat besar. Kemampuankeduafaktor di atasmampumendukungaerasenyabaik, apabila tekstur, struktur tanah dan porositas tidak mampu mendukung aerasinya tidak baik.

BAB VIII
KESIMPULAN
Aerasi Tanah adalah proses pertukaran O2 dan CO2 dan Atmosfer. Aerasi yang baik apabila tekstur tanah, struktur tanah dan porositas mendukung maka aerasinya baik, namun apabila tekstur, stuktur tanah dan porositas tidak mendukung maka aerasi jelek/tidak baik.







DAFTAR PUSTAKA

ACARA VIII : UJI PROFIL TANAH

BAB I
PENDAHULUAN
Tanah merupakan suatu lapisan permukaan bumi yang paling luar dimana sebagai tempat naungan bagi mahluk hidup maupun benda mati. dimana proses terbentuknya tanah memerlukan waktu yang begitu lama dengan membutuhkan jutaan tahun sehingga menjadi tanah yang murni melalui proses pelapukan fisik, kimiawi, serta pelapukan mekanik diantaranya dari proses pelapukan bebatuan dan organisme hidup lainnya. Tanah merupakan unsur yang paling penting dalam aspek kehidupan karna tanah memiliki fungsi yang begitu kompleks bagi semua unsur kehidupan didalam bumi yaitu tanah dipandang dalam suatu pertanian sebagai media tumbuh bagi tanaman budidaya sedangkan pada aspek pembangunan tanah sebagai tempat berdirinya suatu bangunan tempat tinggal serta memiliki banyak fungsi lainnya.
Tanah pada setiap lingkungan memiliki struktur dan pola yang berbeda-beda pada setiap lingkungan dengan keadaan kandungan ph dan kandungan airnya yang tidak sama menjadikan kandungan kesuburan tanah itu berbeda-beda serta warna yang berbeda antara tanah yang satu dengan yang lainnya untuk itu perlu dilakukan pengukuran pada suatu tanah sehingga diketahui kadar dalam suatu tanah. Salah satu pengukuran yang sangat penting dalam berbagai cairan proses (industri, farmasi, manufaktur, produksi makanan dan sebagainya) adalah pH, yaitu pengukuran ion hidrogen dalam suatu larutan.




BAB II
TEORI DASAR
Pengertian profil tanah adalah irisan vertikal tanah dari lapisan paling atas hingga ke batuan induk tanah. Tanah yang telah mengalami perkembangan lanjut akan memiliki horisonisasi yang lengkap, yaitu terdiri dari: horison O, horison A, horison Eluviasi, horison B, lapisan C, dan bahan induk tanah (R). Pengertian dari beberapa istilah penamaan horison dalam profil tanah adalah sebagai berikut :
  • Horison O adalah horison tanah yang tersusun dari serasah atau sisa-sisa tanaman (Oi) dan bahan organik tanah (BOT) hasil dekomposisi serasah (Oa),
  • Horison A adalah horison yang tersusun dari bahan mineral berkandungan bahan organik tinggi sehingga berwarna agak gelap.
  • Lapisan Eluviasi atau Horison Eluviasi adalah horison yang telah mengalami proses eluviasi (pencucian) sangat intensif sehingga kadar bahan organik tanah, liat silikat, Fe dan Al rendah tetapi kada pasir dan debu kuarsa (seskuoksida) serta mineral resisten lainnya tinggi, sehingga berwarna agak terang.
  • Horison B adalah horison illuvial atau horison pengendapan sehingga terjadi akumulasi dari bahan-bahan yang tercuci dari horison diatasnya.
  • Horison C adalah lapisan tanah yang bahan penyusunnya masih serupa dengan batuan induk (R) atau belum terjadi perubahan.
  • Batuan induk tanah (R) merupakan bagian terdalam dari tanah dan masih berupa batuan.
  • Lapisan tanah terdiri atas :
a.       Lapisan tanah atas (top soil) terdiri dari :
·         horison O, dan
·         horison A.
b.      Lapisan tanah bawah (sub soil) terdiri dari :
·         horison E, dan
·         horison B.
c.       Solum tanah meliputi :
·         lapisan tanah atas, dan
·         lapisan tanah bawah.
Batas peralihan horison pada profil tanah terlihat secara visual dalam beberapa kategori, yaitu :

  • Batas horison dikategorikan nyata apabila peralihan kurang dari 2,5 cm,
  • Batas horison dikategorikan jelas apabila peralihan terjadi dengan jarak berkisar antara 2,5 cm sampai 6,5 cm,
  • Batas horison dikategorikan berangsur apabila peralihan terjadi dengan jarak berkisar antara 6,5 cm sampai 12,5 cm, dan
  • Batas horison dikategorikan baur apabila peralihan terjadi dengan jarak lebih dari 12,5 cm.
Bentuk topografi dari batas harison dalam profil tanah yang terlihat secara visual dibagi dalam 4 kategori, yaitu :
  • Bentuk topografi datar,
  • Berombak,
  • Tidak teratur, dan
  • Terputus.
Sistem tanah tersusun dari unit-unit terkiecil yang disebut pedon. Kumpulan pedon-pedon yang sama sifatnya yang membentu suatu hamparan disebut polipedon. Pemahaman yang mendalam mengenai profil tanah akan membantu dalam pemanfaatan berikut :
  • Mengetahui kedalaman lapisan olah tanah (top soil), lapisan dalam tanah (sub soil) dan solum tanah, sehingga membantu dalam menetapkan jenis tanaman yang sesuai untuk ditanam pada tanah tersebut. Tanah dengan kedalaman lapisan olah berkisar 20 cm sesuai untuk ditanaman tanaman padi, kedelai, kacang tanah dan jagung, tetapi tidak sesuai untuk ditanaman dengan tanaman perkebunan yang berakar dalam. Begitu juga sebaliknya.
  • Kelengkapan atau differensiasi horison-horison pada profil yang mencirikan tingkat perkembangan tanah dan umur tanah.
  • Warna tanah yang menunjukkan kondisi aerob (warna terang) atau anaerob (berwarna kelabu) dan tngginya kadar kadungan bahan organik tanah (berwarna hitam/gelap), sehingga diketahui tingkat kesuburan tanah.

BAB III
TUJUAN
Tujuan dari praktikum uji profil tanah ini adalah untuk mengetahui kadar pH, kelembaban serta warna tanah dari masing-masing lapisan tanah.




BAB IV
MATERI PRAKTIKUM.
A.      Bahan
1.      Contoh  tanah.
B.       Alat
1.      Bor tanah,
2.      Soil tester,
3.      Buku Munsell Soil Color Chart / buku warna tanah.

BAB V
PROSEDUR KERJA
1.        Dipersiapkan peralatan penguji profil tanah,
2.        Dibuat lubang di permukaan tanah menggunakan bor tanah untuk mengambil sample tanah,
3.        Ambil sampel tanah dari kedalaman yang berbeda,
4.        Ukur kandungan pH dan kelembaban tanah menggunakan soil tester,
5.        Gumpalkan sebagian tanah kemudian cocokan warnanya menggunakan buku warna tanah,
6.        Catat kandungan pH, kelembaban dan warna tanah.
7.        Dilakukan pengujian ulang dengan mengambil contoh tanah di tempat yang berbeda.


BAB VI
HASIL PENGAMATAN DAN ANALISA DATA
Sample Tanah A
Kedalaman (cm)
pH tanah
Kelembaban tanah
Warna tanah
10
6
40
10YR 3/4 : dark yellow wish brown
20
6,1
30
10YR 3/2 : dark reddish brown
30
5,3
50
10YR 2/2 : very dark brown
40
5,1
60
2,5YR 3/2 : dusky red
50
6
55
4,5YR 2,5/1 : black
60
6,2
49
10YR 3/3 : dark brown
70
6,2
60
10YR 3/2 : very dark grayish brown
80
6
58
10YR 3/3 : dark brown
90
6
45
10YR 3/4 : dark yellow wish brown
100
6,2
30
10YR 4/4 : dark yellow wish brown








Sample Tanah B
Kedalaman (cm)
pH tanah
Kelembaban tanah
Warna tanah
10
5,2
60
10YR 2/2 : very dark brown
20
5,1
55
10YR 3/1 : very dark gray
30
5,3
53
10YR 3/4 : dark gray
40
5
40
5YR 3/2 : dark reddish brown
50
5,1
30
5YR 3/3 : dark reddish brown
60
5,9
30
5YR 4/3 : reddish brown
70
5
45
5YR 4/4 : reddish brown
80
5,1
51
5YR 4/3 : reddish brown
90
5,1
58
7,5YR 3/3 : dark brown
100
5,1
59
7,5YR 2,5/3 : very dark brown










BAB VII
PEMBAHASAN
Pengukuran pH tanah menggunakan soil tester dan dilakukan pada beberapa tempat (tempat terbuka, di bawah pohon dan areal terbuka) dengan cara menancapkan bagian ujung dari soil tester sampai kira-kira 5-15 cm ke dalam tanah, kemudian menekan knopnya. Maka akan terbaca nilai skala pH dari tanah tersebut. Pengukuran kelembaban tanah dilakukan dengan menggunakan soil tester pada tanah yang diperkirakan mengandung air pada tempat tertentu.
Warna tanah merupakan gabungan berbagai warna komponen penyusun tanah. Warna tanah berhubungan langsung secara proporsional dari total campuran warna yang dipantulkan permukaan tanah. Warna tanah sangat ditentukan oleh luas permukaan spesifik yang dikali dengan proporsi volumetrik masing-masing terhadap tanah. Makin luas permukaan spesifik menyebabkan makin dominan menentukan warna tanah, sehingga warna butir koloid tanah (koloid anorganik dan koloid organik) yang memiliki luas permukaan spesifik yang sangat luas, sehingga sangat mempengaruhi warna tanah (Poerwowidodo., 1991)
Dari pengamatan yang telah dilakukan ditemukan perbedaan kandungan pH, kelembaban dan warna tanah antara masing – masing sampel tanah baik dari sampel tanah A dan tanah B dari kedalaman yang bervariasi.

BAB VIII
KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa profil tanah memiliki kandungan pH, kelembaban dan warna tanah yang berbeda – beda. Pada pengamatan tanah dengan indra, warna tanah mencerminkan beberapa sifat tanah, diantaranya kandungan bahan organik, dan drainase. Warna tanah sangat dipengaruhi oleh kadar lengas di dalamnya. Tanah yang kering memiliki warna yang lebih muda dibandingkan dengan tanh yang basah, hal ini dikarenakan bahan koloid yang kehilangan air. Warna tanah akan berpengaruh pada keseimbangan panas dan kelembaban tanah.




















DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar